Pasar mobil listrik bekas di Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua, Jakarta, menunjukkan pergerakan yang cukup positif. Di tengah harga baru yang relatif tinggi, mobil listrik bekas justru dinilai semakin mudah terserap pasar, terutama model-model yang sudah dikenal konsumen.
Penggawa Lapak Mobil di WTC Mangga Dua, Peter, menyebut mobil listrik kini tergolong cepat terjual dibandingkan beberapa segmen lain. Rata-rata waktu penjualan disebut tidak sampai satu bulan, selama unit yang ditawarkan memenuhi kriteria konsumen.
“Kalau listrik oke ya jualannya. Mobil listrik gampang jual kok, 2 minggu laku, 3 minggu laku,” ujar Peter kepada kumparan baru-baru ini.
Dari pengamatannya, merek asal China masih menjadi primadona di pasar mobil listrik bekas. BYD disebut sebagai merek yang paling banyak dicari pembeli, dengan hampir seluruh modelnya relatif mudah dilepas ke pasar.
“BYD pasti paling banyak yang dicari. Mau apa saja laku BYD. Mau M6 atau Atto 3, Seal, Sealion 7, Denza pasti laku kalau BYD,” katanya.
Soal kondisi kendaraan, Peter menegaskan bahwa jarak tempuh menjadi faktor krusial dalam transaksi mobil listrik bekas. Mayoritas konsumen masih menuntut kilometer rendah demi menjaga rasa aman, terutama terkait kondisi baterai.
“Kalau yang saya jual, mobil listrik kilometer harus di bawah 20 ribu wajib kilometer rendah,” jelasnya.
Menurutnya, penggunaan jarak tempuh tersebut per tahun masih dianggap wajar dan bisa diterima pasar.
“Ya cuma kadang-kadang ada yang bekas sampai 40 ribu kilometer. Nah itu sudah mulai takut tuh. Katakan setahun dia pakai 40 ribu kilometer sudah ke mana aja mobilnya, bingung. Berarti kan itu capek banget ya,” lanjut Peter.
Dari sisi model, BYD M6 menjadi salah satu yang paling banyak diburu konsumen mobil listrik bekas. Mobil MPV listrik tersebut dinilai punya kombinasi harga, fungsi, dan citra merek yang kuat.
“M6 banyak yang cari sih karena lega dan bisa muat banyak juga,” ucapnya.
Untuk harga, Peter memaparkan bahwa BYD M6 bekas lansiran 2024 saat ini berada di kisaran Rp 330 jutaan. Sementara varian dengan spesifikasi lebih tinggi sudah barang tentu dijual lebih mahal.
“Kalau 2024 sekitar Rp330 jutaan. M6 yang superior yang 6-seater ya. Rp 340 juta-Rp350 juta kadang masih bisa jual. Kalau yang tipe standarnya sekitar Rp300 juta-Rp310 juta,” paparnya.
Selain BYD, mobil listrik lain yang cukup diminati adalah Chery Omoda E5. Namun, menurut Peter, varian tertentu mulai terdampak tekanan harga akibat hadirnya model baru di segmen serupa.
“Chery Omoda juga laku. Banyak, Omoda yang dicari tipe Omoda E5. Kalau E5 Pure agak kurang laku,” kata dia.
Ia menambahkan, selisih harga antar varian turut memengaruhi minat pasar, terlebih dengan hadirnya produk baru yang menawarkan banderol lebih kompetitif.
“Cuma kalau Omoda E5 mungkin masih bisa jual sekitar Rp310 jutaan kali ya. Karena ada pengaruh Jaecoo J5 juga tuh, harganya jadi turun lagi,” tutup Peter.




