Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam beberapa hari terakhir, beberapa wilayah Indonesia diguyur hujan secara signifikan, terutama di Sumatra Selatan, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT dan Sulawesi Selatan.
Bahkan, beberapa wilayah sempat mengalami hujan dengan intensitas ekstrem. BMKG mengatakan cuaca ekstrem disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor, terutama faktor regional seperti keberadaan sirkulasi siklonik dan penguatan monsun dingin Asia.
Selanjutnya, dalam sepekan ke depan, BMKG memprakirakan pengaruh dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal, masih akan membawa dampak signifikan terhadap cuaca di Indonesia.
- Awas Hujan Lebat Hantam RI 3 Hari ke Depan, BMKG Ingatkan Wilayah Ini
- Peringatan Hujan Lebat 24 Jam di Jabodetabek, Ini Keterangan BMKG
- Awas Hujan Ekstrem Hantam Wilayah RI, BMKG Ungkap Penyebabnya
Untuk skala regional, Siklon Tropis Nokaen yang terdapat di Laut Filipina, utara Maluku Utara diprakirakan menguat dengan kecepatan angin maksimum 35 knot dan tekanan udara 1000 hPa dengan arah gerak ke Timur Laut. Hal ini berpengaruh terhadap pembentukan pola angin terutama di wilayah utara Indonesia bagian Timur.
Selain itu, terdapat juga Bibit 97S yang pergerakannya diprakirakan persisten, dengan kecepatan angin maks 20 knot dan tekanan udara 1000 hPa yang mempengaruhi pola angin termasuk daerah konfluensi dan konvergensi, memanjang dari Pulau Timor, Laut Timor, Laut Arafuru, dan sekitar Bibit Siklon Tropis 97S tersebut. Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut.
BMKG mencatat dalam sepekan ke depan terdapat potensi peningkatan seruakan dingin (cold surge) dari Benua Asia. Hal tersebut diindikasikan dengan perbedaan tekanan udara dari Gushi yang tinggi, disertai peningkatan kecepatan angin yang tinggi di Laut Cina Selatan yang memperkuat masuknya monsun Asia menjadi lebih cepat dan mudah melewati ekuator (nilai CENS yang signfikan), melalui Selat Karimata.
Hal ini memberikan dampak pada peningkatan kejadian cuaca ekstrem di beberapa wilayah di Selatan Indonesia, khususnya Sumatera Bagian Selatan, dan Pulau Jawa.
Lebih perinci, BMKG menjabarkan prospek cuaca sepekan ke depan, dalam periode 20-26 Januari 2026. Berikut selengkapnya, dikutip dari laman resmi BMKG, Selasa (20/1/2026):
20-22 Januari 2026Hujan Sedang: Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Siaga Hujan Lebat-Sangat Lebat: Bengkulu, Lampung, Banten, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.
Awas Hujan Sangat Lebat-Ekstrem: NTT
Angin Kencang: Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Tengah dan Papua Selatan.
23-26 Januari 2026Hujan Sedang: Sumatra Selatan, Bengkulu, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua, Papua Pegunungan, Papua dan Papua Selatan.
"BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu serta potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem. Masyarakat diharapkan lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang seperti ibadah, dan aktivitas wisata," tulis BMKG.
(fab/fab)



