KASUS pelecehan dan eksploitasi sering kali bermula dari proses manipulasi yang sangat halus, yang dikenal dengan istilah grooming. Melansir data dari Child Rescue Coalition dan Saprea, seorang predator tidak langsung melakukan tindakan kejahatannya, melainkan mengikuti pola sistematis untuk menjerat korban.
Memahami tahapan ini sangat krusial bagi orangtua dan remaja agar dapat mendeteksi "bendera merah" (red flags), sebelum situasi menjadi berbahaya.
6 Fase GroomingBerdasarkan analisis dari pakar keamanan digital di Skills for Health, berikut adalah enam fase yang biasanya dilalui oleh pelaku:
Baca juga : Timothy Busfield Ditahan atas Dugaan Pelecehan Seksual Anak di Lokasi Syuting
1. Memilih KorbanPelaku mencari individu yang terlihat rentan, kesepian, atau memiliki harga diri rendah melalui media sosial atau forum daring.
2. Membangun KepercayaanPelaku berusaha menjadi sosok yang sangat pengertian. Mereka sering berpura-pura memiliki minat yang sama dengan korban untuk menciptakan ikatan emosional.
3. Mengisi KebutuhanPada tahap ini, pelaku memberikan perhatian berlebih, pujian, atau hadiah (fisik maupun digital) untuk membuat korban merasa berharga dan bergantung secara emosional.
Baca juga : Grok AI Dipakai Pengguna Buat Konten Asusila Anak, IWF Beri Peringatan Keras
4. IsolasiPelaku secara perlahan mulai menjauhkan korban dari pengaruh keluarga atau teman-teman. Mereka sering mengatakan, "Hanya aku yang benar-benar memahamimu," atau "Orangtuamu tidak akan mengerti hubungan kita."
5. Normalisasi SeksualPelaku mulai menyelipkan topik seksual ke dalam percakapan, mengirim konten tidak senonoh, atau meminta foto pribadi secara halus untuk menormalkan hal tersebut.
6. Kontrol dan EksploitasiSetelah memiliki foto atau informasi sensitif, pelaku menggunakan rasa bersalah atau ancaman (pemerasan) untuk mempertahankan kendali dan melakukan eksploitasi lebih lanjut.
Langkah Pencegahan bagi OrangtuaMelansir laporan dari Saprea, perilaku pelaku sering kali terlihat sangat sopan dan sabar di awal. Mereka mungkin menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk membangun koneksi sebelum menunjukkan niat asli mereka.
Predator online biasanya akan meminta korban untuk berpindah ke aplikasi pesan privat yang lebih tertutup. Hal itu guna menghindari pengawasan orangtua atau sistem keamanan platform utama.
Pentingnya komunikasi terbuka antara anak dan orangtua. Jika anak tiba-tiba menjadi tertutup mengenai aktivitas daringnya, memiliki "teman baru" dewasa yang rahasia, atau menerima hadiah tanpa alasan yang jelas, itu adalah tanda peringatan serius.
Edukasi mengenai batasan pribadi dan keamanan data digital harus diberikan sejak dini untuk membentengi remaja dari upaya manipulasi psikologis.
Keberanian untuk bersuara dan melaporkan aktivitas mencurigakan adalah kunci utama untuk memutus rantai grooming. Dengan mengenali pola-pola ini, masyarakat dapat lebih proaktif dalam melindungi kelompok rentan dari ancaman predator yang bersembunyi di balik layar digital. (Child Rescue Coalition/Skills for Health/Saprea/Z-2)




