jpnn.com, JAKARTA - Pengelola Pasar Induk Caringin masih berupaya mencari solusi untuk pengelolaan sampah yang masih menumpuk. Belakangan, kasus gunungan sampah yang mengakibatkan bau busuk di area pasar tradisional itu menjadi perbincangan.
Namun, sampah yang mayoritas organik itu perlahan mulai bisa diolah. Itu setelah pengelola pasar bekerjasama dengan PT Solusindo Bioteknologi dalam pengolahan sampah.
BACA JUGA: Garudafood & Biomagg Rangkul Masyarakat Mengelola Sampah Organik Rumah Tangga
Diki Haedi selaku pemilik PT Solusindo Bioteknologi mengatakan, mengolah sampah organik sebenarnya tidak sulit. Yang susah adalah memastikan pemangku kebijakan seperti PD Pasar Caringin agar mau bekerjasama dalam mengelola sampah.
"Dulu masuknya (ke Pasar Caringin) agak susah. Setelah kami lihat ada masalah dan kami coba masuk Alhamdulillah dikasih (tempat mengolah)," kata Diki ditemui di area TPS Pasar Induk Caringin, Selasa (20/1/2026).
BACA JUGA: Ravindra Airlangga Ajak Warga Memilah dan Memanfaatkan Sampah Organik
Menurutnya, pengolahan sampah organik ini baru berjalan sekitar satu bulan. Target tonase sampah yang diolah mencapai 40 ton dalam sehari. Namun, karena masih pembangunan sehingga belum semua mesin berjalan optimal.
"Sekarang baru sekitar 25 ton dalam sehari yang diolahnya," ujarnya.
BACA JUGA: Jakpro dan Pasar Jaya Berkolaborasi Mengembangkan Proyek Pengelolaan Sampah Organik Pasar
Diki memastikan dari sampah yang masuk ke pengolahan ini tidak ada yang sia-sia, sehingga residu dari sampah pun sangat sedikit. Dari olahan sampah ada yang dicacah untuk menjadi bahan pakan ternak, menjadi RDF (Refuse Derived Fuel) atau bahan bakar alternatif, hingga bioetanol.
"Untuk bioetanolnya ini biasa dipakai perusahaan farmasi," tuturnya.
Selama ini limbah organik yang sudah dilayukan di tempat pengolahan ini tidak sulit untuk dijual kembali karena banyak peternakan sapi yang menampung baik di Bandung atau di Bogor.
Sebab, para peternak menilai sapi yang mengkonsumsi olahan ini hasil susunya bisa naik satu hingga dua liter, ketimbang ketika hanya makan pakan rumput.
Dari segi harga, lanjutnya, limbah organik ini pun tidak mahal. Ini membuat persaingannya dengan pakan ternak lain termasuk yang pabrikan besar bisa sebanding, sehingga produk limbah organik dari Pasar Caringin ini tidak pernah menumpuk di gudang dan menimbulkan bau menyengat.
Diki mengatakan, dia tidak hanya mengolah sampah organik yang sudah dipilah lebih dulu seperti sayuran atau buah-buahan.
Pengolahan juga dilakukan untuk sampah yang sudah tercampur dengan terigu atau plastik. Sampah dari ini tidak sulit diolah, cukup dijadikan RDF dan banyak diminati oleh industri.
Maka, dengan sistem yang lebih mudah sebenarnya pengolahan sampah rumah tangga bisa dilakukan di TPS atau pasar lainnya menggunakan cara sama. Luasan lahan yang dibutuhkan pun tidak terlalu banyak sekitar 200 meter saja.
Dalam pengolahan ini, lanjutnya, Diki tidak meminta pendanaan daerah maupun PD Pasar Caringin. Justru perusahaan berinvestasi untuk bisa mengolah sampah tersebut.
Saat ini PT Solusindo Bioteknologi juga sudah berkomunikasi dengan Pemkot Bandung untuk mengolah sampah salah satunya di daerah Astana Anyar. Sayangnya hingga saat ini belum ada kejelasan surat keterangan kerjasamanya.
"Kalau yang di Astana Anyar itu sampah residu dari masyarakat langsung," pungkasnya. (mcr27/jpnn)
Redaktur : Budianto Hutahaean
Reporter : Nur Fidhiah Sabrina




