JAKARTA, KOMPAS – Pemerintah menargetkan swasembada bawang putih bisa tercapai pada 2029. Di samping itu, pemerintah juga menetapkan 10 komoditas pangan menjadi cadangan pangan pemerintah sepanjang 2026.
Asisten Deputi Cadangan Pangan dan Bantuan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Sugeng Harmono, Selasa (20/1/2026), mengatakan, pada 2025, Indonesia telah berhasil mencapai swasembada beras. Potensi produksi beras nasional pada 2025 sebanyak 34,71 juta ton, naik 13,36 persen dibandingkan 2024.
Cadangan beras pemerintah (CBP) di Perum Bulog pada awal 2026 juga cukup banyak, yakni sekitar 3,2 juta ton. Sepanjang 2026, Bulog ditargetkan bisa menyerap gabah petani sebanyak 4 juta ton setara beras, sehingga Bulog bakal mengelola CBP sekitar 7,2 juta ton.
Selain itu, Sugeng melanjutkan, pemerintah juga akan memulihkan 107.327 hektar lahan pertanian yang rusak akibat bencana ekologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat Dengan begitu, produksi beras sepanjang 2026 bisa tetap terjaga dan bahkan diperkirakan meningkat.
“Kami yakin kelanjutan swasembada beras pada tahun ini tetap terjamin dan terjaga,” ujarnya dalam diskusi Core Outlook Sektoral bertajuk “Ketahanan Pangan Indonesia 2026: Dari Bencana ke Strategi yang digelar Center of Reform on Economics (Core) Indonesia secara hibrida di Jakarta.
Untuk mewujudkan swasembada bawang putih, pemerintah tengah membuat Peta Jalan Swasembada Bawang Putih 2029.
Sugeng juga mengatakan, capaian swasembada beras itu akan dilanjutkan dengan swasembada lain, seperti jagung pakan, kedelai, gula konsumsi, dan bawang putih. Swasembada bawang putih, misalnya, ditargetkan bisa tercapai pada 2029.
Swasembada bawang putih sangat diperlukan mengingat sekitar 95 persen kebutuhan bawang putih nasional dipenuhi dari impor. Untuk mewujudkan swasembada itu, pemerintah tengah membuat Peta Jalan Swasembada Bawang Putih 2029.
“Kami juga telah menyiapkan benihnya di tiga daerah, yakni Humbang Hasundutan di Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan Sembalun, Nusa Tenggara Barat,” katanya.
Berdasarkan Basis Data Ekspor-Impor Komoditi Pertanian Kementan, dalam lima tahun terakhir, yakni 2021-2025, ketergantungan Indonesia terhadap bawang putih impor (HS 07032090) masih cukup besar kendati mulai volume impornya mulai turun. Pada 2021, volume impor komoditas itu sebanyak 602.745 ton.
Pada 2022 dan 2023, volume impornya turun, masing-masing menjadi 566.175 ton dan 564.027 ton. Kemudian, pada 2024 dan Januari-November 2025 volume impor bawang putih kembali menyusu,t masing-masing menjadi 555.886 ton dan 450.338 ton.
Sepanjang 2021-2025, negara asal impor bawang putih Indonesia didominasi China. Dari total impor kumulatif selama lima tahun terakhir, yakni sekitar 2,74 juta ton, sebanyak 2,739 juta ton berasal dari China.
Sugeng menambahkan, pemerintah juga akan memperkuat cadangan pangan pemerintah (CPP) pada 2026. Ada 10 komoditas pangan yang bakal dijadikan CPP, yakni beras, jagung pakan, kedelai, daging dan telur ayam ras, daging sapi dan kerbau, gula konsumsi, minyak goreng, dan ikan kembung.
Merujuk data Kementerian Koordinator Bidang Pangan, cadangan beras dan jagung pakan yang ditetapkan pemerintah untuk 2026 masing-masing sebanyak 4 juta ton dan 1 juta ton. Selain itu, cadangan kedelai yang ditetapkan sebanyak 70.000 ton, daging ayam ras 12.100 ton, telur ayam ras 5.000 ton, daging sapi 180.000 ton, daging kerbau 100.000 ton, gula konsumsi 275.000 ton, minyak goreng 790.000 ton, dan ikan kembung 300 ton.
Dalam diskusi itu juga terungkap, tanpa sektor perkebunan, neraca perdagangan komoditas pertanian Indonesia masih defisit. Di samping itu, kelanjutan swasembada beras pada 2026 bakal menghadapi tantangan produktivitas dan cuaca ekstrem.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Dwi Andreas Santosa menuturkan, neraca perdagangan komoditas pertanian pada Januari-November 2025 surplus Rp 20,01 triliun. Namun, kinerja apik neraca tersebut sangat bergantung pada sektor perkebunan, terutama kelapa sawit.
Jika tanpa sektor perkebunan, neraca perdagangan komoditas pertanian Indonesia pada Januari-November 2025 defisit sebesar Rp 12,27 triliun.
Kontribusi sektor perkebunan terhadap neraca perdagangan komoditas pertanian sekitar 94 persen. Dari persentase itu, sekitar 70 persen ditopang oleh sawit. Jika tanpa sektor perkebunan, neraca perdagangan komoditas pertanian Indonesia pada Januari-November 2025 defisit sebesar Rp 12,27 triliun.
“Ini menandakan ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan nonsektor perkebunan, seperti gandum, kedelai, dan bawang putih masih cukup besar,” tuturnya.
Selain itu, Dwi juga memaparkan sejumlah tantangan kelanjutan swasembada beras. Pertama, produktivitas padi (gabah kering giling/GKG) nasional masih stagnan, yakni sekitar 5,2-5,32 ton per hektar. Produktivitas GKG itu masih lebih rendah dari Vitenam yang sekitar 6,1-6,2 ton per hektar.
Serial Artikel
Alarm Swasembada Beras 2026
Sejumlah tantangan menuju swasembada beras 2026 antara lain El Nino, pemulihan lahan pertanian terdampak bencana, alih fungsi lahan, dan ”sakit” lahan pertanian.
Kedua, La Nina dan El Nino bakal melanda Indonesia pada tahun ini. La Nina yang masih berlangsung pada Januari 2026 memicu banjir di sejumlah daerah, sehingga berpotensi menyebabkan musim tanam padi mundur dan gagal panen.
“Sejumlah lembaga internasional juga memperkirakan El Nino bakal terjadi pada Juli 2026 hingga Juli 2027. Musim kemarau bakal cukup panjang, sehingga memunculkan risiko gagal panen,” kata Dwi.
Ia memperkirakan produksi beras nasional pada tahun ini turun sekitar 5 persen dibandingkan tahun lalu. Dari produksi beras nasional pada 2025 yang diperkirakan sebanyak 34,71 juta ton, produksi beras nasional pada 2026 berpotensi turun sekitar 1,73 juta ton.
Oleh karena itu, Dwi berharap agar pemerintah juga berfokus meningkatkan produktivitas padi. Selain itu, pemerintah juga perlu mengatasi dampak La Nina dan mengantisipasi potensi El Nino.




