Raden Raka (22) terpilih menjadi Ketua RW 3 Padasuka, Kota Cimahi. Ia tercatat sebagai salah satu RW termuda di Cimahi.
Meski sempat mendapat penolakan karena faktor usia, Raka akhirnya dipercaya warga dan meraih 65 persen suara, mengalahkan incumbent.
Meski baru dua hari menjabat, Raka langsung melakukan programnya. Salah satunya dengan membentuk Kios Pelayanan Publik, yang berlokasi di Kantor RW 3.
Kios ini menjadi pusat pelayanan bagi warga, mulai dari pengurusan administrasi kependudukan, layanan digital Kota Cimahi, hingga pengaduan dan pendataan sosial.
“Warga nggak perlu lagi nunggu RW atau janjian. Datang aja ke kios, semua urusan bisa diberesin di satu tempat,” katanya kepada kumparan di rumahnya, Selasa (20/1).
Menurut Raka, banyak warga masih kesulitan mengakses layanan digital pemerintah, seperti pengurusan KTP, KK, dan layanan daring lainnya. Karena itu, sistem pelayanan tatap muka tetap dipertahankan agar lebih inklusif.
Selain itu, hal yang membedakan kepemimpinan Raka dengan RW lainnya adalah penerapan sistem kolektif-kolegial. Setiap kebijakan harus melalui kesepakatan warga di tingkat RT, dengan minimal persetujuan 50 persen plus satu.
Kesepakatan tersebut kemudian dibawa ke forum RW untuk disahkan sebagai Perjanjian Warga.
“Kalau sudah jadi Perjanjian Warga, tidak bisa lagi protes seenaknya. Semua ikut aturan yang sudah disepakati bersama,” tegasnya.
Konsep serupa juga diterapkan kepada pelaku usaha di wilayah RW 3. Raka membentuk Forum Pengusaha RW 3, lengkap dengan struktur organisasi dan kesepakatan tertulis melalui MoU, mulai dari jam operasional hingga kontribusi untuk lingkungan.
Program unggulan lainnya adalah penanganan banjir yang sudah terjadi selama 25 tahun di wilayah RW 3. Masalah ini bahkan sempat viral setelah Raka mengunggah kondisi banjir ke media sosial hingga ditonton ratusan ribu kali.
Konten tersebut menarik perhatian Wali Kota Cimahi dan Camat setempat yang turun langsung ke lokasi. Dari hasil peninjauan, ditemukan bahwa penyebab utama banjir adalah belokan saluran air 90 derajat yang menghambat aliran.
“Banjir itu bukan cuma air masuk rumah, tapi ekonomi warga ikut mati. Warung sepi, usaha tutup, investasi nggak masuk,” jelasnya.
Menjadi RW di usia muda bukan tanpa tantangan. Selain kurangnya kepercayaan awal dari masyarakat, Raka juga kerap menghadapi kendala teknis dan budaya.
Ia sempat merancang sistem digital berbasis website untuk pengelolaan data warga, keuangan, hingga layanan administrasi. Namun, keterbatasan kemampuan warga membuat sistem tersebut harus disesuaikan dengan pendekatan manual dan pendampingan langsung.
Meski begitu, Raka optimistis sistem yang ia bangun bisa menjadi contoh dan direplikasi di RW lain di Kota Cimahi.
Raden saat ini masih berstatus mahasiswa semester 9 Jurusan Bisnis di Binus Bandung. Dia tinggal bersama orang tuanya dan mengelola toko kue bersama.
Selain menjadi RW, pria yang masih lajang ini juga menjadi wirausaha muda dan mengisi seminar-seminar bisnis.





