Pemerintah Inggris akhirnya menyetujui rencana China membangun gedung kedutaan besar (kedubes) raksasa (mega-embassy) di pusat bersejarah London, Selasa (20/1), setelah proses perizinan yang berjalan hampir delapan tahun. Persetujuan ini keluar meski menuai penolakan keras dari warga, anggota parlemen, dan kelompok pembela hak asasi manusia.
Izin pembangunan diberikan oleh Menteri Perumahan Inggris Steve Reed, setelah proyek itu sempat tertunda berkali-kali karena kekhawatiran terkait keamanan nasional. Reed menegaskan keputusan tersebut bersifat final kecuali digugat di pengadilan.
“Keputusan ini sekarang final kecuali berhasil ditantang di pengadilan,” kata Reed, seperti dikutip AFP.
Kompleks seluas sekitar 20 ribu meter persegi itu akan menjadi kedutaan terbesar di Inggris dan salah satu yang terbesar di jantung ibu kota negara Barat.
Pemerintah Inggris menyebut lembaga intelijen telah dilibatkan sejak awal proses perizinan. Seorang juru bicara pemerintah mengatakan, setelah negosiasi panjang, pemerintah China sepakat menggabungkan tujuh kantor diplomatiknya di London menjadi satu lokasi. Langkah itu disebut membawa “keuntungan keamanan yang jelas”.
Namun keputusan tersebut langsung menuai kecaman dari sejumlah politisi. Anggota parlemen dari Partai Konservatif, Iain Duncan Smith, menyebut persetujuan itu sebagai langkah keliru.
“Ini keputusan yang mengerikan yang mengabaikan kebrutalan Partai Komunis China,” ujarnya.
Smit menambahkan, “Mereka melakukan kerja paksa di dalam negeri, memata-matai Inggris, dan menggunakan serangan siber untuk merusak keamanan kami.”
Warga Siap Gugat, Demonstrasi BerlanjutPenolakan juga datang dari warga sekitar lokasi proyek. Ketua Asosiasi Warga Royal Mint Court, Mark Nygate, menegaskan pihaknya tidak akan tinggal diam.
“Para warga bertekad terus memperjuangkan penolakan terhadap keputusan hari ini,” katanya.
Rencana pembangunan ini memang telah memicu kontroversi selama berbulan-bulan. Sejumlah laporan media menyebut lokasi tersebut akan memiliki ratusan ruangan bawah tanah, termasuk sebuah “ruang tersembunyi”, serta berada dekat dengan jalur kabel internet penting. Aktivis khawatir kompleks itu bisa digunakan untuk mengawasi dan menekan para pembangkang China di luar negeri.
Akhir pekan lalu, ratusan orang kembali berdemonstrasi di dekat lokasi proyek. Seorang demonstran asal Hong Kong bernama Brandon mengaku cemas dengan rencana tersebut.
“Saya rasa ini tidak baik bagi siapa pun kecuali pemerintah China,” ujarnya.
Demonstran lain, Clara, mengatakan ia “benar-benar takut dengan represi lintas negara yang bisa dilakukan China”.
Meski telah mengantongi izin, pembangunan mega-embassy ini masih berpotensi menghadapi gugatan hukum. Sejumlah kelompok menilai keputusan pemerintah bisa berdampak serius terhadap keamanan dan hubungan diplomatik Inggris ke depan.




