Bisnis.com, JAKARTA – Kalangan analis memberikan prediksi terbaru mengenai kondisi yield SBN bertenor 10 tahun di tengah anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Head of Fixed Income Sinarmas Asset Management Fikri Syuhada menilai pelemahan rupiah yang terjadi belakangan dipicu oleh meningkatnya permintaan dolar AS dari dalam negeri. Faktor tersebut antara lain berasal dari kenaikan kebutuhan impor menjelang Lebaran serta ketidakpastian global akibat eskalasi konflik geopolitik.
Kondisi tersebut tercermin dari data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) yang menunjukkan bahwa yield SBN 10 tahun berada di level 6,33% pada Selasa (20/1/2026). Posisi ini terus menanjak sejak 13 Januari 2026 yang masih berada di level 6,12%.
Pelemahan rupiah yang berlanjut dinilai mendorong investor meminta premi risiko yang lebih tinggi. Dengan demikian, depresiasi nilai tukar berpotensi membuat yield SBN kembali melemah atau bergerak naik.
“Dengan pelemahan rupiah, yield SBN 10 tahun berpotensi masih bergerak naik. Namun, ruang kenaikannya diperkirakan terbatas karena ditopang likuiditas investor sehingga yield diproyeksikan hanya naik [melemah] sekitar 6,5%,” kata Fikri kepada Bisnis, Selasa (20/1/2026).
Menurut Fikri, likuiditas investor domestik masih relatif solid. Oleh karena itu, meskipun terdapat potensi arus keluar dana asing seiring meningkatnya risiko, tekanan terhadap yield SBN diperkirakan tidak akan signifikan.
Baca Juga
- Purbaya Sebut Juda Agung Wamenkeu, Thomas Djiwandono jadi Deputi Gubernur BI
- Analis Ramal Kupon SBN Ritel 2026 Maksimal 5,65%
- Lelang Sukuk Perdana 2026 Himpun Rp55,26 Triliun, Tenor Pendek Diserbu Investor
Ia mencontohkan kondisi pasar SBN sepanjang 2025. Kendati investor asing tercatat melakukan aksi keluar dari pasar surat utang Indonesia, yield SBN 10 tahun justru masih mampu mencatatkan penguatan. Bahkan, pada Oktober 2025, yield sempat menyentuh level 5,90%.
“Peluang kembalinya investor asing tetap terbuka, terutama pada paruh kedua 2026. Pada periode tersebut, rupiah diperkirakan akan lebih stabil seiring arah kebijakan The Fed yang semakin jelas, serta membaiknya fundamental ekonomi Indonesia, baik dari sisi pertumbuhan maupun stabilitas makro,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Portfolio Manager/Analyst Batavia Prosperindo Aset Manajemen Putri Nur Astiwi. Ia menilai, meskipun pelemahan rupiah berpotensi menekan daya tarik pasar SBN, instrumen tersebut masih menarik berkat peran investor domestik yang kuat dalam menopang pasar.
Selain itu, Bank Indonesia dinilai masih membuka ruang pelonggaran kebijakan moneter secara terukur dan berbasis data. Kebijakan tersebut dinilai tetap mendukung minat investor terhadap instrumen surat utang.
Putri menambahkan, apabila pelemahan rupiah berlanjut, pasar cenderung meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi sehingga mendorong yield melemah. Namun, peluang pembalikan arah tetap terbuka.
“Mengingat pelemahan rupiah saat ini berpotensi bersifat musiman dan dapat mereda seiring normalisasi kebutuhan valas setelah periode puncak impor. Apabila stabilitas global membaik dan fundamental domestik tetap solid, ruang penurunan yield kembali terbuka,” katanya.
Sementara itu, Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana menilai pasar SBN domestik masih menghadapi tekanan dari ketidakstabilan geopolitik global. Kondisi tersebut turut membawa rupiah ke level terendah sepanjang masa.
Dalam situasi tersebut, ia memprediksi yield SBN bertenor 10 tahun berpotensi berada di kisaran 6,5–6,6%, terutama jika tekanan ekonomi berlanjut. Sebaliknya, yield berpeluang turun ke bawah 6% apabila permintaan pasar terhadap SBN kembali menguat.
Dari dalam negeri, tekanan juga datang dari kekhawatiran pelebaran defisit fiskal. Realisasi defisit APBN 2025 tercatat sebesar 2,92% terhadap produk domestik bruto (PDB), mendekati batas maksimal defisit sesuai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Di sisi lain, Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak sepanjang 2025 mencapai Rp1.917,6 triliun atau setara 87,6% dari target APBN 2025 sebesar Rp2.189,3 triliun. Dengan demikian, terdapat shortfall penerimaan pajak sebesar Rp271,7 triliun.
“Tapi saya tidak menampik juga kalau bahwa depresiasi rupiah ini bikin risiko SBN makin tinggi sekarang. Dan bukan sebenarnya kepada penjualan, tetapi investor meminta risk premium yang lebih tinggi,” kata Fikri.




