Penulis: Adhitya Putratama
TVRINews, Gunung Kidul
Di sebuah bengkel elektronik sederhana di Padukuhan Jaten, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, seorang bocah laki-laki tampak duduk tenang dengan alat solder di tangannya. Jemarinya yang kecil bergerak cekatan menyambungkan kabel demi kabel menggunakan timah panas. Bocah itu bernama Rambang Al Ghani.
Usianya baru sembilan tahun dan masih duduk di bangku kelas empat sekolah dasar. Namun, keterampilannya merakit perangkat audio sound system sudah jauh melampaui anak seusianya. Alih-alih menghabiskan waktu bermain gawai atau permainan daring, Ghani justru betah berlama-lama di bengkel milik ayahnya.
Keseharian Ghani tidak lepas dari komponen elektronik. Dari kabel, resistor, hingga papan rangkaian, semua menjadi bagian dari dunia yang akrab baginya. Ketertarikan tersebut bukan muncul tiba-tiba. Menurut sang ayah, Andri Rahmawan, minat Ghani terhadap elektronik sudah terlihat sejak usia sangat dini.
“Awalnya karena kebiasaan. Saya kan profesinya rental audio dan servis. Setiap hari dia lihat saya bekerja, dan karena memang suka, kalau lihat HP atau media sosial yang dia cari juga konten mesin dan elektronik,” ujar Andri Rahmawan.
Sejak berusia sekitar empat tahun, Ghani kerap membongkar mainan dan perangkat elektronik miliknya sendiri. Rasa ingin tahu yang besar membuatnya tidak sekadar membongkar, tetapi juga memperhatikan cara kerja setiap komponen dan mencoba merakitnya kembali.
Memasuki usia enam tahun, bakat Ghani mulai berkembang lebih serius. Dengan bimbingan ayahnya, ia mulai merakit power equalizer secara mandiri. Mulai dari menyusun komponen elektronik hingga membuat casing sederhana dari triplek bekas, semuanya dikerjakan dengan ketelitian tinggi.
Ghani bahkan sudah memahami berbagai istilah dan fungsi komponen dalam dunia audio. Dari proses tersebut, ia berhasil membuat satu set audio aktif hasil rakitannya sendiri. Sebuah pencapaian yang terbilang langka bagi anak seusia sekolah dasar.
Hingga kini, bengkel elektronik menjadi ruang belajar sekaligus tempat bermain bagi Ghani. Sang ayah memilih untuk tidak membatasi aktivitas tersebut, selama tetap dalam pengawasan dan pendampingan.
Dukungan keluarga menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya bakat Ghani. Dari bengkel sederhana di pelosok Gunungkidul, lahir potensi besar yang menunjukkan bahwa minat, jika diarahkan dengan tepat, dapat berkembang sejak usia dini.
Editor: Redaktur TVRINews




