Abu Zayd Al-Balkhi, Depresi, dan Warisan Psikologi Islam yang Terlupakan

republika.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Oleh : Jarman Arroisi, Peneliti Psikologi Islam dan Pengelola Pascasarjana Universitas Darussalam Gontor

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Depresi bukan sekadar sedih biasa. Ia adalah luka batin yang pelan-pelan menggerogoti semangat hidup, merampas harapan, bahkan mendorong seseorang pada keputusasaan ekstrem. Di tengah meningkatnya angka depresi dan bunuh diri di dunia modern, umat manusia sesungguhnya tidak sepenuhnya miskin solusi.

Lebih dari seribu tahun lalu, seorang ilmuwan Muslim bernama Abu Zayd Al-Balkhi telah berbicara jernih dan mendalam tentang depresi—dengan pendekatan yang hari ini justru dianggap sangat modern.

Baca Juga
  • Sepekan Terendam Banjir, Warga Desa Pasir Ampo Tangerang Mulai Terserang Penyakit
  • PGN Mulai Salurkan LNG ke Nusantara Regas untuk Kelistrikan dan Industri
  • Pertamina Patra Niaga Raih Rating ESG A, Perkuat Komitmen Keberlanjutan Menuju NZE 2060

Abu Zayd Al-Balkhi bukan hanya seorang filsuf atau ulama. Ia adalah psikolog Muslim perintis yang menulis karya monumental Mashālih al-Abdān wa al-Anfus—sebuah kitab yang membahas kesehatan tubuh dan jiwa secara terpadu. Di dalamnya, Al-Balkhi membahas gangguan mental, termasuk depresi, dengan ketajaman analisis yang membuat para psikolog modern terperangah

Depresi: Penyakit Jiwa yang Nyata

Bagi Al-Balkhi, depresi (huzn) bukan kelemahan iman, bukan pula aib yang harus disembunyikan. Ia adalah penyakit jiwa yang nyata, sebagaimana penyakit fisik. Jika tubuh bisa sakit, maka jiwa pun bisa terluka. Bahkan, menurut Al-Balkhi, sakit jiwa sering kali lebih berbahaya karena tidak terlihat, namun dampaknya menghancurkan kehidupan.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Ia menggambarkan depresi sebagai kesedihan mendalam yang menetap, menguras energi, memadamkan rasa bahagia, dan melemahkan keinginan hidup. Gambaran ini sangat dekat dengan definisi depresi dalam psikologi modern.

Depresi hari ini bukan lagi persoalan individu semata, melainkan problem sosial yang kian meluas. Ia hadir di ruang keluarga, sekolah, tempat kerja, bahkan di tengah komunitas keagamaan. Banyak orang tampak baik-baik saja di luar, namun menyimpan luka batin yang dalam di dalam dirinya. Kesedihan yang menetap, perasaan hampa, kehilangan makna hidup, dan kelelahan mental menjadi wajah sunyi dari depresi yang sering luput dari perhatian.

Ironisnya, di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia justru semakin rapuh secara psikologis. Banyak penderita depresi tidak tertangani dengan baik karena stigma, minimnya pemahaman, atau pendekatan yang keliru. Dalam konteks inilah, pemikiran seorang ilmuwan Muslim, Abu Zayd Al-Balkhi, menjadi sangat relevan untuk dibaca kembali. Lebih dari seribu tahun lalu, Al-Balkhi telah berbicara tentang depresi dengan bahasa yang jernih, manusiawi, dan ilmiah—bahkan melampaui zamannya.

Pelopor Psikologi Islam

Abu Zayd Al-Balkhi (849–934 M) adalah seorang cendekiawan Muslim multidisipliner. Ia menguasai berbagai bidang ilmu: filsafat, kedokteran, geografi, teologi, dan psikologi. Karyanya yang paling penting dalam bidang kesehatan mental adalah Mashālih al-Abdān wa al-Anfus (Kemaslahatan Tubuh dan Jiwa). Dalam kitab ini, Al-Balkhi menegaskan satu prinsip mendasar: manusia terdiri dari tubuh dan jiwa, dan keduanya bisa sehat atau sakit.

Karena itu, kesehatan sejati hanya tercapai jika tubuh dan jiwa dirawat secara seimbang. Pandangan ini terdengar sangat modern, bahkan sejalan dengan pendekatan biopsikososial yang baru dikenal dalam psikologi kontemporer. Yang menarik, Al-Balkhi secara tegas menolak anggapan bahwa gangguan jiwa adalah aib atau kelemahan moral. Ia justru mengkritik para tabib pada masanya yang hanya fokus mengobati tubuh, tetapi mengabaikan penderitaan batin manusia.

Depresi Bukan Lemah Iman

Salah satu sumbangan besar Al-Balkhi adalah cara pandangnya terhadap depresi. Ia tidak melihat depresi sebagai tanda lemahnya iman, kurangnya rasa syukur, atau kegagalan spiritual. Sebaliknya, depresi adalah penyakit jiwa yang nyata, sebagaimana penyakit fisik. Al-Balkhi menggambarkan depresi sebagai bentuk kesedihan mendalam yang menetap dan menguras energi hidup. Ia mengibaratkan kesedihan seperti bara api yang membakar perlahan, melemahkan tubuh, merusak pikiran, dan memadamkan rasa bahagia.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Fakta Unik FIFA Series 2026: Hanya Bulgaria yang Pernah Dihadapi Timnas Indonesia
• 9 jam lalubola.com
thumb
Gibran Tinjau Banjir Karawang, Minta Prioritaskan Warga Terdampak
• 17 jam laluidntimes.com
thumb
Kurs Dolar AS BCA, BRI, Mandiri, dan BNI Hari Ini 20 Januari 2026 saat Rupiah Makin Dekat Rp17.000
• 16 jam lalubisnis.com
thumb
KPK Jelaskan Kronologi Kasus Pemerasan oleh Bupati Pati
• 2 jam lalutvrinews.com
thumb
Penumpang KA Srilelawangsa Tembus 4,1 Juta, KAI Bandara Medan Catat Lonjakan Signifikan di 2025
• 16 jam lalumediaapakabar.com
Berhasil disimpan.