Ketiga indeks utama saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup melemah tajam pada perdagangan Selasa (20/1), mencatat penurunan harian terbesar dalam tiga bulan terakhir. Aksi jual meluas ini dipicu kekhawatiran ancaman tarif baru dari Presiden AS Donald Trump terhadap Eropa dapat menandai kembalinya volatilitas pasar.
Mengutip Reuters, indeks S&P 500 merosot 143,15 poin atau 2,06 persen ke level 6.796,86. Nasdaq Composite anjlok 561,07 poin atau 2,39 persen ke 22.954,32. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 870,74 poin atau 1,76 persen ke 48.488,59.
Ketiga indeks saham AS tersebut membukukan kinerja harian terburuk sejak 10 Oktober, dengan S&P 500 dan Nasdaq Composite sama-sama turun di bawah rata-rata pergerakan 50 harinya.
Aset berisiko ditinggalkan secara luas (risk-off), mendorong harga emas menembus rekor tertinggi baru, sekaligus menekan pasar obligasi dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasuries) bergejolak di tengah tekanan jual yang kembali muncul. Bitcoin, yang kerap diminati saat pasar tradisional goyah, turut melemah lebih dari 3 persen.
Selasa (20/1) pun menjadi kesempatan pertama bagi investor AS untuk bereaksi atas pernyataan Trump pada akhir pekan, mengingat pasar tutup pada Senin (19/1) karena libur Martin Luther King Jr. Day.
Trump menyatakan, tarif impor tambahan sebesar 10 persen akan mulai berlaku pada 1 Februari untuk barang-barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris Raya, yaitu negara-negara yang sebelumnya sudah dikenai tarif AS.
Trump juga menulis di Truth Social bahwa tarif tersebut akan dinaikkan menjadi 25 persen mulai 1 Juni dan akan terus berlaku hingga tercapai kesepakatan agar AS dapat membeli Greenland. Namun, para pemimpin Greenland dan Denmark sendiri menegaskan pulau tersebut tidak untuk dijual.
Kembalinya ancaman tarif ke pasar global ini mengingatkan pada “Liberation Day” pada April lalu, ketika kebijakan tarif Trump terhadap mitra dagang global mendorong S&P 500 mendekati wilayah pasar bearish.
Indeks Volatilitas CBOE (VIX), yang dikenal sebagai pengukur ketakutan Wall Street, melonjak ke 20,09 poin, penutupan tertinggi sejak 24 November. Volume perdagangan juga meningkat, dengan sekitar 20,6 miliar saham berpindah tangan di bursa AS pada Selasa, dibandingkan rata-rata 17,01 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.
Meski sentimen investor tertekan pada Selasa (20/1), pertanyaan yang muncul adalah apakah isu Greenland hanya memicu aksi jual sesaat atau akan berdampak lebih panjang terhadap pasar. Managing partner di Harris Financial Group, Jamie Cox, mengatakan ia belum melihat tanda-tanda investor berbondong-bondong keluar dari pasar.
“Saya belum sampai pada titik untuk mengatakan bahwa apa yang terjadi dengan Greenland, dan kembalinya ancaman tarif yang saling berbalas, akan memicu koreksi di pasar saham,” ujarnya.
Ia menambahkan akan terkejut jika terjadi penurunan 3 persen hingga 5 persen pekan ini. Menurut Cox, pergerakan yang berpotensi lebih signifikan adalah kemungkinan intervensi otoritas Jepang di pasar keuangan.
Obligasi pemerintah Jepang anjlok pada Selasa (20/1), mendorong imbal hasil ke level tertinggi sepanjang masa, sementara saham Tokyo dan nilai tukar yen juga melemah setelah seruan Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk menggelar pemilu cepat mengguncang kepercayaan terhadap kondisi fiskal negara tersebut.
Pergerakan ini turut mendorong kenaikan biaya pinjaman obligasi pemerintah Eropa berjangka panjang, sementara tekanan jual di pasar Treasury AS terlihat lebih kuat pada obligasi tenor panjang. Terlepas dari isu tarif dan pergerakan signifikan di pasar obligasi, perekonomian AS dinilai masih berada dalam kondisi kuat.
Investor akan mencermati serangkaian data ekonomi terbaru pekan ini, termasuk pembaruan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III AS, rilis PMI Januari, serta laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi indikator inflasi pilihan Federal Reserve.
Musim laporan keuangan juga mulai memanas, dengan sejumlah emiten besar dijadwalkan merilis kinerja kuartalan pekan ini. Salah satunya Netflix, yang sahamnya ditutup melemah 0,8 persen sebelum mengumumkan laporan keuangan setelah penutupan pasar.





