Jakarta, VIVA – Vicky Prasetyo melontarkan pesan tajam untuk Insanul Fahmi yang saat ini berada di tengah polemik pernikahan siri dan poligami. Vicky menegaskan bahwa kesalahan terbesar bukan sekadar terlihat buruk di mata publik, melainkan ketika agama dijadikan pembenaran atas dorongan nafsu pribadi.
Dalam pernyataannya, ia memberikan pesan tajam tersebut di mana menurutnya lebih baik terlihat buruk sekalian daripada harus menjadikan agama sebagai tameng dari syahwat. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya.
- IG @vickyprasetyo777
"Lebih baik Anda terlihat buruk sekalian, tapi kalian tidak pernah menjadikan agama itu tameng untuk syahwat. itu paling nggak boleh,” tegas Vicky yang dikutip dari YouTube Reyben Entertainment pada Rabu, 21 Januari 2026.
Pernyataan itu menjadi pembuka refleksi panjang Vicky Prasetyo yang dikenal publik sebagai sosok dengan masa lalu penuh kontroversi. Ia menegaskan bahwa dirinya berbicara bukan untuk menggurui, melainkan sebagai seseorang yang pernah melakukan banyak kesalahan serupa.
"Saya bercerita bukan karena saya lebih baik, saya lebih suci, tapi saya bercerita karena memang apa yang dulu saya lakukan dan banyak kesalahan yang pernah saya lakukan. Jadi ya tadi saya bilang yang hebat itu tadi kesalahan terbesar seorang pria itu mengajak makan seorang wanita di dalam meja yang sama padahal dia belum pernah sempat merasakan kelaparan bersama,” kata Vicky.
Menurut Vicky, banyak pria terlalu mudah menggantikan peran perempuan dalam hidupnya tanpa memahami luka dan dampak emosional yang ditinggalkan. Ia menilai sikap tersebut justru membuka ruang masalah baru yang lebih rumit.
Tak hanya itu, Vicky juga menyoroti gaya hidup generasi muda yang kerap salah kaprah dalam memaknai istilah “petualang cinta”.
"Makanya kalian ya para generasi gen z, milenial atau apapun yang kalian sebut, kalian jangan pernah menyebut diri kalian petualang cinta kalau belum berkencan dengan tujuh negara dalam satu malam gitu loh,” ujarnya.
Ia menyindir fenomena pria yang tampil sebagai “bad boy instan”, namun masih bergantung pada privilese orang tua dan metode lama dalam menjalin hubungan. Menurutnya, cara-cara tersebut sudah tidak relevan dengan peradaban yang semakin dewasa dan sehat.



