Pola komunikasi masyarakat berubah seiring perkembangan zaman. Perubahan tersebut semakin pesat dan cepat karena hadirnya berbagai perangkat digital yang digunakan sebagai sarana komunikasi. Menurut McLuhan (1964), media bukan sekadar saluran pesan, melainkan juga pembentukan cara manusia berpikir dan berelasi.
Hal ini mengakibatkan tantangan komunikasi juga terus meningkat dan semakin sulit untuk dihadapi. Kondisi tersebut tidak hanya dihadapi oleh setiap individu, institusi pun saat ini dituntut untuk menyadari semakin pentingnya kualitas interaksi dalam proses komunikasi.
Gereja sebagai institusi sosial dan keagamaan—yang merupakan ruang pelayanan dan pembinaan iman bagi jemaat—tak luput dari tuntutan untuk beradaptasi. Perubahan pola komunikasi masyarakat akibat berkembangnya sarana dan prasarana penyampaian informasi turut memengaruhi cara jemaat dalam menerima dan memahami pesan-pesan pelayanan.
Hal ini menyebabkan kegiatan pelayanan gereja tidak hanya menyampaikan informasi secara normatif, tetapi juga harus mampu menghadirkan komunikasi yang empatik agar dapat lebih sesuai dengan kebutuhan jemaat.
Di era digital seperti saat ini, pesan-pesan pelayanan dapat disebarluaskan melalui berbagai bentuk, mulai dari pesan teks di grup aplikasi pesan instan, siaran langsung ibadah, hingga warta jemaat dan unggahan renungan digital.
Kondisi ini memungkinkan penyebaran pesan pelayanan terbuka lebih luas dan cepat, berbeda dengan pola komunikasi gereja pada era sebelumnya yang sangat bergantung pada mimbar dan pertemuan tatap muka.
Namun, kecepatan proses penyebaran pesan tidak serta-merta membuat komunikasi menjadi lebih efektif, sering kali informasi yang disampaikan secara cepat dan tanpa kepekaan justru dapat membuat pesan kehilangan makna, bahkan menimbulkan kesalahpahaman.
Pada situasi ini, komunikasi tidak cukup hanya berorientasi pada penyampaian informasi, tetapi juga harus disertai dengan unsur-unsur empatik sebagai dasar pemahaman terhadap perasaan dan kebutuhan pihak lain agar tetap mampu membangun relasi yang sehat di tengah meningkatnya tantangan komunikasi yang dihadapi.
Komunikasi empatik merupakan kemampuan untuk memahami dan merespons perasaan, kebutuhan, serta perspektif pihak lain secara tulus dalam proses komunikasi.
Rogers (1957) menegaskan bahwa empati adalah prasyarat utama terciptanya relasi yang sehat dan bermakna karena memungkinkan komunikator melihat dunia dari sudut pandang komunikan. Dalam konteks pelayanan gereja, komunikasi empatik menjadi unsur penting agar pesan iman dapat dihayati oleh jemaat.
Adaptasi Pola Pelayanan, Media Digital, dan Tantangan Pembinaan Iman JemaatInformasi dan pesan-pesan gerejawi saat ini dapat disampaikan melalui berbagai media, mulai dari aplikasi pesan instan, siaran langsung ibadah, hingga konten renungan multimedia.
Dalam penggunaan media berbasis teks—seperti aplikasi pesan instan atau warta jemaat digital—komunikasi empatik diterapkan melalui pemilihan diksi yang dapat dipahami oleh jemaat yang beragam, secara jelas, dan tidak menghakimi.
Menurut DeVito (2019), empati dalam komunikasi interpersonal tecermin dari kemampuan komunikator menyesuaikan bahasa dan nada pesan agar tidak menimbulkan jarak psikologis.
Komunikasi berbasis teks yang minim isyarat nonverbal. Penggunaan simbol visual seperti emotikon dapat digunakan sebagai penanda emosi yang membantu memperjelas maksud pesan. Emotikon berfungsi melengkapi bahasa tulis dengan ekspresi afektif, sehingga sapaan maupun ajakan tidak terdengar kaku atau dingin.
Penggunaan simbol visual yang tepat akan mampu memperkuat kesan hangat yang juga membantu jemaat menangkap nada empatik yang ingin disampaikan. Namun demikian, penggunaannya perlu dilakukan secara bijak agar tidak mengaburkan makna pesan atau mengurangi kesakralan komunikasi pelayanan gereja.
Penggunaan AI oleh Guru Sekolah Minggu dalam Kegiatan PelayananTantangan perubahan pola komunikasi juga dirasakan secara nyata dalam kegiatan pelayanan yang bersentuhan langsung dengan kelompok jemaat tertentu, khususnya anak-anak.
Guru Sekolah Minggu tidak lagi berhadapan dengan pola belajar yang seragam. Perbedaan karakter, rentang perhatian, dan cara anak-anak memproses informasi menuntut metode pengajaran yang lebih partisipatif.
Penyampaian materi yang bersifat satu arah dan monoton semakin sulit mempertahankan minat anak, sehingga diperlukan pendekatan yang mampu menggabungkan cerita, visual, gerak, dan pengalaman belajar yang menyenangkan agar pesan dapat dipahami dengan baik.
Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) dapat menjadi alat bantu pembekalan bagi guru Sekolah Minggu. AI dapat membantu guru dalam merancang bahan ajar yang lebih mudah dipahami, misalnya dengan menyesuaikan bahasa, durasi kegiatan, dan bentuk penyampaian materi sesuai usia anak.
Hal ini penting agar anak-anak menghayati pesan iman yang disampaikan dan pada akhirnya memberi ruang bagi guru Sekolah Minggu untuk lebih memusatkan perhatian pada aspek relasional dan empatik, sehingga memiliki kesempatan lebih besar untuk membangun kedekatan emosional dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Dengan begitu, penggunaan AI dalam pelayanan akan mampu memperkuat peran guru sebagai pendamping yang menghadirkan pembelajaran yang berakar pada nilai-nilai kasih.
Dari Mimbar ke Media Digital: Membangun Pelayanan yang Semakin EmpatikDi sisi lain, tim multimedia gereja juga menghadapi tantangan tersendiri dalam mendukung kebutuhan pelayanan yang semakin beragam. Tuntutan untuk menghadirkan konten visual yang menarik, informatif, dan mudah dipahami jemaat sering kali berhadapan dengan keterbatasan pemahaman teknis, mulai dari pemilihan konsep visual, teknik pengambilan gambar, pengolahan audio, hingga proses penyuntingan.
Padahal, setiap elemen visual yang ditampilkan dalam konteks pelayanan gereja turut membawa makna dan pesan iman. Tanpa pengelolaan yang baik, konten yang dihasilkan mungkin saja kehilangan kejelasan pesan, bahkan bertentangan dengan etika serta nilai-nilai pelayanan gereja.
Situasi ini menunjukkan bahwa kehadiran gereja di ruang digital tidak cukup hanya dengan mengadopsi teknologi, tetapi juga perlu peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya. Kebutuhan penguatan kapasitas tim multimedia gereja berkaitan erat dengan penguasaan teknik dasar pembuatan karya dokumentasi secara kronologis dan runtut.
Pengambilan gambar foto dan video yang didukung kemampuan penyuntingan dengan memperhatikan kontinuitas cerita akan membantu menghadirkan dokumentasi yang tidak sekadar merekam peristiwa, tetapi juga menyampaikan suasana dan makna kegiatan pelayanan.
Demikian pula dalam tahap penyuntingan, penyusunan alur yang jelas—mulai dari awal tahap berlangsungnya suatu kegiatan hingga penutup—akan mampu membantu audiens memahami rangkaian peristiwa secara utuh.
Penggunaan alur kronologis konten dokumentasi kegiatan gereja memiliki peran penting untuk membangun kejelasan pesan dan kepercayaan audiens. Dokumentasi yang tersaji secara runtut memudahkan jemaat menangkap tujuan kegiatan serta dampak pelayanan yang dihasilkan.
Dengan mengedepankan komunikasi empatik, gereja tidak hanya memanfaatkan teknologi sebagai sarana penyebaran informasi, tetapi juga sebagai ruang membangun relasi. Kehadiran gereja di media digital pun dapat tetap mencerminkan nilai kasih, perhatian, dan kebersamaan yang menjadi inti pelayanan, sehingga pesan iman dapat diterima secara lebih manusiawi dan bermakna.





