Indef: Keterlambatan Impor Scrap ke Industri Logam Ganggu Rantai Pasok di Hilir

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Larangan impor scrap pasca-insiden kontaminasi Cesium-137 dinilai berisiko menimbulkan tekanan besar terhadap industri besi baja, maupun pengecoran logam secara nasional yang selama ini sangat bergantung pada pasokan scrap impor.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ariyo Irhamna mengatakan kebijakan tersebut memang didorong oleh pendekatan kehati-hatian lingkungan dan keselamatan publik.

“Namun, kebijakan ini bersifat blunt instrument risiko kesehatan yang spesifik ditangani dengan larangan menyeluruh, sehingga menimbulkan supply shock serius bagi industri,” kata Ariyo kepada Bisnis, Selasa (20/1/2026) 

Ariyo mengingatkan, gangguan pasokan scrap berpotensi langsung memukul sektor hilir, khususnya industri foundry serta produsen baja daur ulang. Kondisi ini dinilai paling berisiko bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang tidak memiliki alternatif bahan baku selain scrap impor.

Selain gangguan produksi, pembatasan impor scrap juga mendorong kenaikan biaya produksi dan harga baja. Dampak lanjutan dari kondisi tersebut dapat merembet ke sektor konstruksi, manufaktur, hingga proyek-proyek strategis nasional yang membutuhkan pasokan baja dalam jumlah besar.

Dari sisi keberlanjutan, Ariyo menilai kebijakan tersebut justru dapat melemahkan daya saing industri hijau nasional. 

Baca Juga

  • Industri Mamin - Elektronik Bakal Terdampak Bea Tambahan Impor Bahan Baku Plastik
  • Izin Impor Skrap Tertunda, Produksi Industri Aluminium Terganggu
  • Larangan Impor Skrap Hampir Lumpuhkan 77 Industri Logam

“Scrap merupakan input utama baja rendah emisi. Jika pasokannya terganggu, industri bisa terdorong kembali menggunakan bahan baku primer yang lebih karbon-intensif,” terangnya.

Dalam hal ini, dia juga menyoroti potensi relokasi industri apabila ketidakpastian pasokan berlangsung lama dan kebijakan dinilai tidak proporsional. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu hilangnya investasi serta penyerapan tenaga kerja di sektor logam nasional.

Untuk itu, Ariyo mendorong pemerintah mengalihkan pendekatan dari larangan total menuju manajemen risiko. Menurutnya, impor scrap dapat dibuka kembali secara selektif melalui skema pre-shipment inspection, sertifikasi radiasi di negara asal, serta pemeriksaan acak di pelabuhan domestik.

“Keselamatan publik harus tetap dijaga, tetapi respons kebijakan perlu presisi dan berbasis risiko. Tanpa transisi yang jelas, krisis scrap ini berpotensi berkembang dari isu lingkungan menjadi persoalan industri dan ketenagakerjaan yang lebih luas,” pungkasnya. 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Masih Diragukan, Ini 2 Alasan Arsenal Harus Bawa Anthony Gordon ke Emirates
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Persis Solo Ugal-ugalan di Bursa Transfer! Datangkan 3 Pemain Serbia, Plus 2 Pemain Pinjaman dari Persija dan Bali United
• 22 jam laluharianfajar
thumb
Arsenal Hancurkan Inter Milan: Jesus Jadi Pahlawan
• 9 jam lalueranasional.com
thumb
Jelang Pengumuman BI Rate, IHSG Anjlok 1,24% ke Level 9.021
• 4 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
IHSG Dibayang-bayangi Koreksi, Analis Ungkap 5 Rekomendasi Saham Potensial Cuan Hari Ini
• 9 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.