MilkLife Soccer Challenge (MLSC), turnamen sepak bola putri U-10 dan U-12 besutan MilkLife dan Djarum Foundation, resmi menunjuk satu pelatih kepala baru untuk mendampingi Timo Scheunemann. Sosok tersebut adalah Jacksen F. Tiago.
Jacksen akan mulai berkolaborasi dengan Timo pada MLSC Seri 2 2025/26. Pekan lalu, saat Timo bertugas sebagai pelatih kepala di MLSC Tangerang, Jacksen terlihat hadir di MLSC Semarang untuk memantau langsung potensi-potensi muda pesepak bola putri di kota tersebut.
Program Director MLSC, Teddy Tjahjono, menjelaskan alasan di balik penunjukan Jacksen. Menurutnya, pelatih kelahiran Brasil itu memiliki rekam jejak panjang di sepak bola Indonesia, baik sebagai pemain maupun pelatih.
Jacksen pernah merasakan gelar juara di Liga Indonesia dan juga sempat menangani Timnas Indonesia pada 2013. Pengalaman tersebut menjadi salah satu pertimbangan utama MLSC dalam memilihnya sebagai pelatih kepala.
“Kita sudah melalui proses evaluasi proses seleksi, di mana memang dari beberapa kandidat, memang akhirnya dari board Djarum Foundation memutuskan untuk memilih Jacksen F. Tiago,” kata Teddy dalam sesi konferensi MilkLife Soccer Challenge Seri 2 2025/26 di Plaza Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (20/1).
“Kami tahu bahwa memang Coach Jacksen F. Tiago punya komitmen dengan Borneo FC. Tapi karena hubungan yang baik dengan Nabil Husein (Presiden Borneo FC) juga, akhirnya kita juga diskusi minta izin dulu sebelum bisa mempekerjakan Coach Jacksen dan akhirnya disetujui untuk bisa membantu kami dengan periode tertentu. Nanti setelah itu, baru kita diskusi untuk kelanjutannya,” sambungnya.
Teddy juga memaparkan bahwa pembagian tugas antara Jacksen dan Timo akan dilakukan secara seimbang, seiring dengan semakin padatnya agenda MLSC pada semester kedua tahun ini. Di seri kedua ini, sebagian penyelenggaraan MLSC digelar berbarengan setiap dua kota: Tangerang bersama Semarang, Jogja bersama Bandung, dan seterusnya.
“Terus kemudian yang juga harus kita pahami adalah di semester dua tahun kalender akademik ini kan juga bersamaan dengan jadwal ujian sekolah kelas 6. Ada bulan puasa pula. Jadi secara jadwal penyelenggaraan jadi semakin padat karena kita juga mencoba untuk memaksimalkan supaya anak-anak kelas 6 SD bisa tetap menjalankan ujian sekolah, di sisi lain juga bisa ikut berpartisipasi,” ujar Teddy.
“Makanya secara jadwal pelaksanaannya banyak yang dilakukan bersamaan di dua kota. Dua kota bersamaan adalah karena untuk memaksimalkan jadwal yang bentrok tadi antara jadwal ujian dengan jadwal penyelenggaraan MLSC. Jadi sehingga ditambah dengan kepadatan jadwal, maka memang diperlukan pembagian pekerjaan yang baik,” pungkasnya.



