REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Majelis Ulama Indonesia (MUI) angkat bicara terkait viralnya kabar seorang Warga Negara Indonesia (WNI) berhijab yang disebut-sebut bergabung dengan militer Amerika Serikat (AS).
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim menegaskan, keterlibatan seorang Muslim dalam pasukan yang melakukan kejahatan kemanusiaan bertentangan dengan ajaran Islam.
Baca Juga
Digitalisasi Pelatihan Kemenag Hemat Rp 8,6 Triliun, Selamatkan 9.500 Pohon
Saat AS Berpaling ke Damaskus dan Turki Menuntut Pembubaran Total SDF
Menengok Masjid Paling Utara Sedunia
Menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan seorang Muslim bergabung dengan militer yang pro-genosida, Sudarnoto menyampaikan sikap tegas. Menurut dia, Islam memiliki prinsip moral yang jelas dalam menolak segala bentuk kekerasan dan pembunuhan massal.
“Kalau orang Islam beneran insya Allah Allah gak mau bergabung. Menghina saja dilarang, apalagi terlibat genosida,”ujar Prof Sudarnoto saat dihubungi Republika, Rabu (21/1/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Lebih lanjut, Sudarnoto menyoroti karakter ideologis pihak-pihak yang terlibat dalam praktik genosida, khususnya dalam konteks konflik global yang menyita perhatian dunia Islam saat ini. Ia menilai, para pelaku genosida pada dasarnya bersikap memusuhi nilai-nilai agama.”Para pembunuh itu adalah zionis, anti agama lain termasuk anti Islam dan umat Islam,”kata dia.
Sebelumnya, ramai di media sosial seorang ibu dan ayah warga negara Indonesia mengantarkan anaknya, Kezia Syifa untuk berdinas ke kesatuan tentara AS. Video itu dibagikan oleh akun @bunda_kesidaa.
“Hati-hati, semangat ganbatee ... sini dong lihat sini, dadah dadah, hati-hati kak," ujar sang ibu sambil melihat anaknya yang berjalan menjauh di bandara.
Kezia berseragam tentara AS berpamitan ke orang tuannya. - (Tangkapan Layar Instagram)