JAKARTA, KOMPAS.com - Setiap pagi, ribuan pekerja berpakaian rapi hilir mudik di Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan, salah satu urat nadi bisnis di kawasan Segitiga Emas.
Bagi mereka yang berjalan kaki di sisi timur jalan ini, perjalanan menuju kantor bukan sekadar rutinitas singkat, melainkan rangkaian rintangan harian yang menuntut kewaspadaan ekstra, keseimbangan tubuh, dan kesabaran.
Kontras kondisi trotoar di Jalan H.R. Rasuna Said begitu mencolok.
Di sisi barat, jalur pedestrian telah bersolek dengan lebar sekitar 2,5 meter, dilengkapi bangku taman, guiding block kuning untuk penyandang disabilitas, serta permukaan yang relatif rata.
Sebaliknya, sisi timur menghadirkan wajah lain Jakarta, trotoar sempit, permukaan tidak rata, dipenuhi lubang utilitas, dan minim fasilitas dasar bagi pejalan kaki.
Baca juga: Melihat Kondisi Trotoar Rasuna Said, Tak Rata dan Menyisakan Bekas Tiang Monorel
Jaraknya dekat, tapi melelahkanGilang (34), karyawan swasta yang bekerja sebagai staf keuangan di kawasan Kuningan, mengaku hampir setiap hari berjalan kaki melewati trotoar sisi timur Rasuna Said.
Ia biasa turun dari halte bus dan melanjutkan perjalanan sekitar 10–15 menit menuju kantornya.
“Iya, hampir setiap hari. Jaraknya sebenarnya tidak jauh, tapi karena kondisi trotoarnya seperti ini, rasanya bisa lebih lama dan cukup melelahkan,” ujar Gilang saat ditemui Kompas.com di dekat pintu masuk Stasiun LRT Kuningan sisi timur, Selasa (20/1/2026).
Menurut Gilang, kesan pertama yang muncul setiap kali melintasi jalur tersebut adalah ketidaknyamanan.
Ia menilai desain dan perawatan trotoar di sisi timur seolah tidak dirancang secara serius sebagai ruang pejalan kaki, padahal kawasan ini merupakan salah satu pusat perkantoran terbesar di Jakarta.
“Kalau dibandingkan dengan sisi seberang, ini timpang sekali. Di sini sempit, banyak yang rusak. Rasanya seperti jalur sisa, bukan trotoar yang dipikirkan matang,” kata dia.
Baca juga: Tiga Tiang Monorel di Jalan HR Rasuna Said Dibongkar, Trotoar Mulai Ditata
Pengalaman hampir terjatuh juga bukan hal asing bagi Gilang. Ia menyebut penutup lubang utilitas atau manhole yang tidak sejajar dengan permukaan tanah sebagai ancaman utama.
“Pernah, bahkan beberapa kali hampir jatuh. Ada penutup besi yang naik, ada yang ambles. Kalau lagi ramai dan tidak fokus lihat ke bawah, itu bahaya banget,” ucap dia.
Baginya, bagian paling berisiko dari trotoar tersebut adalah paving block yang hancur dan lubang utilitas yang sebagian terbuka.
Kabel-kabel hitam terlihat jelas di dalam lubang, menambah kesan semrawut sekaligus berbahaya, terutama saat hujan atau malam hari.
Situasi kian rumit saat jam sibuk pagi dan siang. Arus pekerja yang padat harus berbagi ruang di jalur selebar sekitar 1,5 meter, yang juga dipenuhi tiang lampu, kotak utilitas, dan pohon.
“Jam sibuk itu seperti adu sabar. Orang banyak, jalannya sempit. Kadang harus antre jalan satu-satu. Belum lagi ojek online yang naik ke trotoar,,” tutur Gilang.
Soal keamanan, Gilang mengaku tidak pernah benar-benar merasa aman. Karena sempit dan banyak rintangan, ia sering kali terpaksa berjalan sangat dekat dengan badan jalan.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5478850/original/074948800_1768950343-IMG_5420.jpeg)