Di bawah terik matahari pukul 13.00 WIB, para wanita kuli panggul menunggu truk boks yang parkir di depan Pasar Pabean, Kota Surabaya. Mereka bersiap dengan membawa papan kayu serta kain yang dibentuk bulat dan dipasangkan di atas kepala.
Sopir truk mulai membuka pintu boks. Para kuli panggul pun mengantre di depannya. Papan kayu sudah terpasang di atas kepala masing-masing. Sekitar 12 bungkusan besar mi disusun rapi di atas papan oleh sang sopir.
Perlahan, hasil kulakan itu dipanggul menuju toko-toko grosir di dalam pasar. Mereka silih berganti mengangkut berbagai kebutuhan pokok ke lapak para tengkulak.
Di sisi lain, wanita kuli panggul juga sibuk mengangkut belasan bungkusan gula merah dengan berat sekitar 10 kilogram. Bungkusan-bungkusan itu dibawa masuk ke toko dan diturunkan satu per satu.
Tak hanya itu, mereka juga memanggul karung berwarna merah berisi bawang. Hanya bermodalkan handuk, karung-karung tersebut dinaikkan ke atas kepala.
Begitulah potret wanita-wanita tangguh di Pasar Pabean. Kaki dan kepala mereka menjadi tumpuan untuk menyambung hidup, menjadi kuli panggul.
Salah satunya adalah Yuni (46 tahun), kuli panggul di Pasar Pabean yang telah melakoni pekerjaan ini demi memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
“Tiap hari kayak gini angkut-angkut. Untuk kebutuhan sehari-hari, untuk makan,” kata Yuni saat ditemui, Rabu (21/1).
Sambil memanggul kardus, Yuni mengaku sudah 15 tahun bekerja sebagai kuli panggul di Pasar Pabean. Setiap hari, ia bisa memanggul bahan pokok dari truk ke toko grosir sekitar 25 kali.
“Macam-macam, ya bawang, gula merah, kardus. Dari truk ke tokonya (angkut barang),” ucapnya.
Namun, beban berat yang mereka panggul tak sebanding dengan penghasilan yang diterima. Dalam sehari, Yuni membawa pulang sekitar Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu.
“Ya kadang Rp 30 ribu, kadang Rp 50 ribu (sehari). Hitungannya per angkut, bisa Rp 2 ribu, Rp 3 ribu,” katanya.





:strip_icc()/kly-media-production/medias/5479718/original/000932800_1768987416-saan_mustopa.jpg)