BUMN Tekstil Dinilai Bisa Redam Gempuran Impor hingga Jaga Keberlangsungan Bahan Baku Lokal

viva.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meyakini pembentukan BUMN di sektor tekstil merupakan langkah strategis untuk memperkuat daya saing sektor tersebut. Sebab, langkah tersebut dinilai bisa menekan biaya produksi sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku lokal.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian Saleh Husin berpendapat bahwa rencana tersebut dapat menyelesaikan persoalan mendasar yang telah lama membebani industri tekstil. Khususnya banjir impor yang membuat produk dalam negeri kalah bersaing dari sisi harga.

Baca Juga :
Clair Obscur: Expedition 33 Kembali Dominasi Penghargaan Game Awards di Awal 2026
Percepat Aksesi OECD, Anindya Bakrie Dorong Integrasi Pertumbuhan Hijau ke Ekonomi RI

BUMN tekstil juga berpeluang menjadi contoh penerapan mesin modern, penggunaan energi yang lebih murah dan ramah lingkungan, serta sistem kerja yang lebih produktif.

"BUMN tekstil bisa menjadi penopang produksi dalam negeri, menjaga pasokan bahan baku lokal, dan menekan biaya produksi melalui efisiensi energi dan teknologi," ucap Saleh dikutip dari keterangannya, Rabu, 21 Januari 2026.

Saleh menekankan bahwa investasi BUMN tekstil sebaiknya diprioritaskan pada sektor hulu dan intermediate dalam rantai industri tekstil, seperti produksi serat sintetis, benang, dan kain. Selama ini, ketergantungan industri garmen terhadap bahan baku impor dinilai masih tinggi akibat keterbatasan pasokan dalam negeri yang kompetitif.

Selain penguatan hulu, investasi pada mesin modern dan pengembangan tekstil khusus, seperti untuk kebutuhan kesehatan, otomotif, dan bahan industri dinilai lebih prospektif dibandingkan sekadar memproduksi pakaian jadi massal. Segmen tersebut dianggap tidak terlalu sensitif terhadap gempuran produk impor ilegal karena lebih menekankan kualitas dan spesifikasi teknis.

Terkait indikator keberhasilan, Saleh menegaskan bahwa kinerja BUMN tekstil tidak semestinya diukur dari keuntungan besar dalam waktu singkat. Menurutnya, tolak ukur yang lebih realistis meliputi berkurangnya impor bahan baku tekstil, meningkatnya penggunaan produk dalam negeri, serta naiknya produktivitas tenaga kerja melalui penggunaan mesin modern dan peningkatan kualitas pelatihan.

Indikator lain yang tak kalah penting adalah terciptanya biaya energi yang lebih terkendali dan berkelanjutan, sehingga industri tekstil nasional tidak lagi kalah bersaing hanya karena tingginya biaya listrik atau gas. Selain itu, peran BUMN tekstil sebagai penopang industri kecil menengah (IKM) melalui penyediaan bahan baku yang stabil dan berkualitas juga dinilai krusial olehnya.

Baca Juga :
ESDM Dorong Transformasi Tambang Berkelanjutan melalui Inovasi dan Kolaborasi
Konsumen Industri Jasa Keuangan Gratis Ajukan Gugatan hingga Proses Pengadilan Selesai
Kinerja Industri pengolahan Terindikasi Naik di Kuartal IV-2025, BI: Didorong Ekspansi Mayoritas Komponen

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Eggi Sudjana Nyetir Mobil Mewah di Malaysia, Kurnia: Jangan Salahkan Jadi Bahan Omongan
• 14 jam laluokezone.com
thumb
Prabowo Ajak Universitas Inggris Dirikan 10 Kampus Standar Dunia di Indonesia
• 13 jam laluokezone.com
thumb
Macron bantah klaim Trump soal rencana pertemuan G7 di Paris
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Kim Jong Un Pecat Wakil PM Korut, Tak Becus Kerja!
• 16 jam laluidntimes.com
thumb
Tekuk Kairat 4-1, Club Brugge jaga asa lolos ke babak play-off
• 18 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.