EtIndonesia. Apa pun kejahatan atau kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain, dalam jangka panjang sebenarnya kita sedang melakukannya kepada diri sendiri. Mungkin saat ini kita belum menyadarinya, tetapi cepat atau lambat, semuanya akan berputar kembali kepada kita.
Apa yang kita perbuat kepada orang lain, sejatinya adalah apa yang kita perbuat kepada diri sendiri. Ini adalah salah satu ajaran terbesar sepanjang sejarah.
Apa pun yang kita lakukan—baik atau buruk—yang benar-benar menerimanya bukanlah orang lain, melainkan diri kita sendiri. Demikian pula, ketika kita memberi, membantu, dan berkorban untuk orang lain, yang paling diuntungkan sesungguhnya adalah diri kita sendiri.
Kisah-kisah Kehidupan
Suatu hari, Xiao Zhang hendak pergi kencan perjodohan. Karena belum pernah bertemu, dia khawatir calon pasangannya berwajah kurang menarik. Dia pun berpesan kepada temannya agar menelepon ponselnya sepuluh menit setelah kencan dimulai, supaya dia punya alasan untuk kabur.
Namun setelah tiba di tempat pertemuan, Xiao Zhang justru mendapati sang wanita sangat cantik. Dia pun berpikir: “Nanti kalau ponsel berdering, aku pura-pura tidak mendengarnya saja.”
Tak disangka, justru ponsel si wanita yang berdering. Setelah mendengarkan sebentar, wanita itu berkata : “Maaf, ada urusan mendesak. Aku harus pergi dulu.”
Dalam sebuah pesta, seorang pria berkata kepada tuan rumah : “Banyak wanita cantik malam ini. Kalau nanti aku berhasil mendekati salah satu, bolehkah aku meminjam kamar di lantai atas?”
Tuan rumah bertanya : “Lalu bagaimana dengan istrimu?”
Pria itu menjawab santai : “Tenang saja, dia tidak akan mencariku. Aku hanya menghilang sebentar.”
Tuan rumah berkata : “Aku bukan bicara soal itu. Lima belas menit yang lalu, istrimu baru saja meminjam kamar di lantai atas.”
Ada seorang pria lajang tua yang tak punya hobi apa pun, kecuali minum sedikit anggur sebelum tidur.
Suatu hari dia mendapati anggurnya berkurang. Dia curiga pelayannya yang mencurinya.
Dia lalu menuangkan anggur itu dan menggantinya dengan air kencing. Namun anehnya, cairan itu tetap berkurang setiap hari. Marah besar, dia memanggil pelayannya dan memarahinya.
“Saya tidak mencurinya,” kata pelayan itu. “Saya hanya ingin memasak makanan yang lebih harum dan lezat untuk Anda, jadi setiap hari saya menambahkan sedikit anggur itu ke masakan.”
Dari tiga kisah singkat ini, adakah Anda melihat benang merahnya?
Benar. Bagaimana kita memperlakukan orang lain, begitulah kita akan diperlakukan kembali. Apa yang kita berikan kepada orang lain, itulah yang kembali kepada kita.
Dengan kata lain: apa yang kita berikan kepada orang lain, sebenarnya kita sedang memberikannya kepada diri sendiri.
Akibat Buruk yang Kita Petik Sendiri
Kisah-kisah tentang menuai akibat perbuatan sendiri tak ada habisnya. Mari simak kisah berikut.
Di sebuah kedai sederhana, Tuan Li sedang minum segelas besar bir. Tiba-tiba dia ingin ke toilet. Dia khawatir birnya diminum orang lain.
Setelah berpikir sejenak, dia menulis di secarik kertas: “Aku sudah meludahi minuman ini.”
Lalu dia pergi ke toilet dengan tenang.
Beberapa menit kemudian, dia kembali dan mendapati secarik kertas lain di atas mejanya bertuliskan: “Aku juga meludah di sini.”
Ada seorang pria yang tidak suka minum kopi, tetapi istrinya tidak pernah tahu karena dia tidak pernah mengatakannya. Sang istri sangat suka kopi, sehingga setiap pagi dia selalu menyiapkan termos kopi untuk suaminya, diletakkan bersama bekalnya.
Pria itu selalu membawa termos tersebut ke kantor, tetapi karena hemat, dia tidak pernah meminum kopi itu dan selalu membawanya pulang. Saat istrinya tidak melihat, dia menuangkan kopi itu kembali ke teko. Pada malam hari, dia menolak minum kopi dengan alasan tidak bisa tidur.
Dia melakukan hal ini setiap hari.
Suatu hari, istrinya menjalin hubungan dengan pria lain dan mereka merencanakan pembunuhan demi uang asuransi. Sang istri mulai menaruh sedikit racun arsenik ke dalam termos kopi suaminya setiap pagi—hari demi hari.
Akhirnya, yang meninggal justru sang istri sendiri.
Apa yang kita berikan kepada orang lain, sesungguhnya kita sedang memberikannya kepada diri sendiri. Benar, bukan?
Apa pun yang kita beri, akan kembali kepada kita.
Jika kita bersikap dingin, orang lain pun akan dingin.
Jika kita gemar mengkritik, kita akan menuai kritik.
Jika kita selalu memasang wajah masam, jangan heran bila orang lain pun enggan tersenyum kepada kita.
Sebaliknya, jika kita membawa kegembiraan, kita akan menuai kegembiraan; jika kita memberi berkat, kita akan menerima berkat; jika kita gemar memuji, suatu hari kita pun akan dipuji.
Apa yang kita berikan kepada orang lain, itulah yang kita berikan kepada diri sendiri.
Filosofi Sang Petani
Ada seorang petani jagung yang setiap tahun selalu memenangkan penghargaan hasil panen terbaik. Anehnya, dia dengan senang hati membagikan benih jagung unggulnya kepada para petani lain.
Seseorang bertanya : “Mengapa Anda begitu murah hati?”
Petani itu menjawab : “Saya berbuat baik kepada orang lain sebenarnya demi kebaikan diri saya sendiri. Angin membawa serbuk sari ke mana-mana. Jika ladang tetangga menanam benih yang buruk, penyerbukan silang akan menurunkan kualitas jagung saya juga. Karena itu, saya justru berharap semua orang menanam benih terbaik.”
Kata-katanya sederhana, tetapi penuh makna: apa yang kita lakukan kepada orang lain, itulah yang kita lakukan kepada diri sendiri.
Karena itu, apa pun yang ingin kita peroleh dalam hidup, mulailah dengan memberikannya terlebih dahulu kepada orang lain.
Resep yang dijamin ampuh itu seperti kisah sang petani: jika kamu ingin memperoleh benih juara, maka berikanlah benih juara kepada orang lain.
Jika kamu ingin dicintai, lebih dulu belajarlah mencintai orang lain.
Jika kamu berharap diperhatikan, lebih dulu perhatikan orang lain.
Jika kamu ingin diperlakukan dengan baik, lebih dulu berbuat baiklah kepada orang lain.
Ini adalah resep yang selalu berhasil, dan bisa diterapkan dalam situasi apa pun.
Jika kamu ingin mendapatkan sahabat yang tulus, maka bersikaplah tulus terlebih dahulu.
Tak lama kemudian, kamu akan mendapati sahabat-sahabatmu pun mulai tulus kepadamu.
Jika kamu menginginkan kebahagiaan, sebarkanlah kebahagiaan—dan segera kamu akan merasakan dirimu sendiri semakin bahagia.
Sudah paham? Hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk diri sendiri adalah melakukan lebih banyak kebaikan bagi orang lain. Apa yang kita inginkan untuk diri sendiri, berikanlah lebih dulu kepada orang lain.
Pengalaman apa pun yang ingin kamu terima, hadirkanlah bagi orang lain.
Bagaimana kamu ingin diperlakukan, perlakukanlah orang lain demikian.
Di dunia ini, yang benar-benar baik hanyalah kebahagiaan.Dan jalan terbaik menuju kebahagiaan adalah banyak berbuat baik. Cara terbaik berbuat baik adalah memperlakukan orang lain dengan baik.
Ya, berbuat baik kepada orang lain adalah kebahagiaan itu sendiri— dan sekaligus hadiah terbaik bagi diri kita.
Belajarlah bersyukur kepada:
- Mereka yang memberimu kesempatan
- Mereka yang memberimu kebijaksanaan
- Mereka yang menemanimu sepanjang perjalanan hidup
Apa pun yang kamu berikan, akan kembali kepadamu.
Jika kamu bersikap dingin, orang lain akan membalas dengan dingin.
Jika kamu gemar mengkritik, kritik akan datang kepadamu.
Jika kamu selalu memasang wajah masam, jangan heran bila orang lain pun enggan bersikap ramah. Semua yang kamu berikan, akan kembali kepadamu.
Meminjam kata-kata penyair W. H. Auden: “Orang yang diperlakukan dengan niat jahat, cenderung membalas dengan kejahatan.”
Jika kamu menjebak orang lain, suatu hari kamu pun akan terjebak.
Sebaliknya, ketika kamu membawa kegembiraan kepada orang lain, kegembiraan akan kembali kepadamu. Ketika kamu memberi berkat, berkat akan menghampirimu. Jika kamu sering memuji orang lain, tak lama kamu akan mendengar pujian untukmu.
Apa yang kamu berikan kepada orang lain, sesungguhnya kamu sedang memberikannya kepada diri sendiri. Pengalaman yang kamu ciptakan bagi orang lain, suatu hari akan kamu alami sendiri.
Bagaimana kamu memperlakukan orang tuamu, begitulah kelak anak-anakmu memperlakukanmu.
Banyak dari kita tentu pernah mendengar kisah dalam dongeng Grimm tentang seorang ayah tua yang tinggal bersama anaknya.
Pendengaran sang ayah telah melemah, penglihatannya kabur. Tangannya gemetar hingga makanan sering tumpah dan mangkuk kerap pecah. Anak dan menantunya merasa jengkel. Mereka memberinya mangkuk dan sumpit dari kayu, lalu menyuruhnya makan sendirian di sudut dapur yang gelap, tak boleh lagi makan bersama keluarga.
Suatu hari, sang anak melihat putranya sendiri sedang mengukir kayu dengan pisau. Ia bertanya,
“Apa yang sedang kamu buat?”
Cucu itu menjawab polos,
“Aku sedang menyiapkan mangkuk dan sumpit kayu untuk Ayah—untuk dipakai nanti saat Ayah tua.”
Sejak hari itu, sang ayah tua kembali makan di meja bersama keluarga, dan seluruh keluarga memperlakukannya dengan penuh bakti.
Renungan Redaksi
“Apa yang kamu berikan kepada orang lain, sesungguhnya kamu sedang memberikannya kepada diri sendiri”—kalimat ini sangat tepat menggambarkan perjalanan belajar yang dibagikan di buletin ini.
Saat mengumpulkan dan merangkum berbagai kisah dan artikel, kami justru merasakan kebijaksanaan kami sendiri terbuka lebih luas, perenungan hidup semakin dalam, dan surat-surat pembaca yang penuh dorongan membuat hari-hari berlalu dengan lebih ringan dan bahagia.
Menolong orang lain sejatinya adalah menolong diri sendiri.
Pikiran yang optimis menghadirkan terang dan harapan, sekaligus membawa hubungan yang baik. Pikiran yang pesimis melahirkan kutukan dan kebencian, serta berujung pada kesepian.
Hubungan antarmanusia pada dasarnya saling memantulkan. Jika kita ingin dihormati, lebih dulu hormatilah orang lain.
Sayangnya, di zaman ini sering muncul anggapan: “yang membayar adalah raja”, “pelanggan selalu benar”. Kita lupa bahwa peran manusia selalu berganti—detik ini pelanggan, detik berikutnya pemilik usaha atau petugas layanan. Saat menjadi pelanggan kita merasa paling benar, tetapi saat menjadi petugas layanan kita mengeluh bertemu “pelanggan sulit”.
Karena itu, sebelum mengeluhkan sikap orang lain, periksalah sikap kita sendiri. Ingatkan diri kita: apa pun yang kita berikan, akan kembali kepada kita— seperti kata W. H. Auden: “Orang yang diperlakukan dengan niat jahat, cenderung membalas dengan kejahatan.” (jhn/yn)




