Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan kredit perbankan yang tercatat 9,69% secara tahunan (year on year/YoY) pada Desember 2025 disebut menjadi sinyal perbaikan kinerja pembiayaan menjelang 2026, sekaligus memperkuat optimisme perbankan terhadap prospek kredit tahun ini, meski prinsip kehati-hatian tetap dikedepankan.
Director Finance and Business Planning Bank Sahabat Sampoerna Henky Suryaputra menilai perbaikan pertumbuhan kredit di akhir 2025 mencerminkan ketahanan ekonomi nasional di tengah tantangan global.
Menurutnya, capaian tersebut tidak mengubah strategi perseroan secara drastis, namun memvalidasi optimisme terhadap keberlanjutan pertumbuhan kredit ke depan.
“Angka pertumbuhan kredit industri sekitar 9% per Desember 2025 merupakan sinyal positif yang sangat kami apresiasi. Ini menunjukkan resiliensi ekonomi Indonesia,” ujar Henky kepada Bisnis (21/1/2026).
Dia menambahkan, Bank Sampoerna melihat tren pertumbuhan kredit masih berpotensi berlanjut pada 2026, dengan momentum akhir tahun lalu menjadi landasan yang cukup kuat.
Namun demikian, perseroan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan. “Perbaikannya berpotensi sustain, tetapi kami tetap prudent. Momentum akhir 2025 menjadi fondasi yang baik untuk tahun ini,” katanya.
Baca Juga
- Mengintip Target Penyaluran Kredit CIMB Niaga (BNGA) untuk 2026
- Laju Kredit 2025 Sesuai Target BI, Bankir Ungkap Tantangan di 2026
- Kredit Perbankan Melonjak, Tumbuh 9,69% pada Desember 2025
Henky menyebutkan, pertumbuhan kredit Bank Sampoerna diperkirakan dapat sejalan dengan rata-rata industri, terutama didorong oleh pembiayaan segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta kolaborasi dengan mitra fintech dan lembaga keuangan lainnya.
Menurutnya, terdapat dua faktor utama yang mendorong perbaikan kredit di akhir 2025 sekaligus menjadi penentu arah pertumbuhan ke depan, yakni terjaganya stabilitas ekonomi makro dan daya beli masyarakat, serta penguatan ekosistem digital dan kolaborasi yang memperluas akses pembiayaan.
“Digitalisasi dan kemitraan, termasuk melalui skema bank-as-a-service, menjadi katalis utama pertumbuhan kredit ke depan,” ujarnya.
Meski demikian, Henky mengingatkan adanya risiko perlambatan pertumbuhan kredit yang perlu diantisipasi. Potensi pemburukan kualitas aset, terutama pada segmen yang rentan terhadap perubahan daya beli, menjadi faktor yang paling diwaspadai oleh perbankan.
“Pertumbuhan kredit yang tinggi harus diimbangi dengan kualitas yang baik. Karena itu, kami akan terus menjaga manajemen risiko sambil tetap menyalurkan kredit ke sektor-sektor potensial,” pungkasnya.
Bank Indonesia (BI) melaporkan pertumbuhan kredit pada Desember 2025 sebesar 9,69% secara tahunan (year on year/YoY), meningkat dibandingkan bulan lalu yang hanya tumbuh 7,74%.
Selain itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) menilai prospek pertumbuhan kredit pada 2026 masih perlu dicermati, seiring dengan permintaan kredit dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Direktur Utama CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan pertumbuhan kredit perseroan sepanjang 2025 masih tergolong moderat atau mild, yakni sekitar 4,5% YoY. Kondisi itu dipengaruhi oleh permintaan kredit yang melemah serta daya beli masyarakat yang relatif masih rendah.
“Pertumbuhan kredit kami mild tahun lalu di 4,5% sehubungan dengan permintaan kredit yang melemah serta daya beli yang relatif masih rendah. Sehingga kami selektif untuk memastikan kualitas aset yang baik dan menghemat CKPN guna mempertahankan profitabilitas yang sehat,” ujar Lani kepada Bisnis, Rabu (21/1/2026).
Meski demikian, Lani melihat adanya peluang perbaikan pada tahun ini seiring dengan kondisi likuiditas yang tidak terlalu ketat serta penurunan cost of fund (CoF) secara bertahap. Namun, perseroan tetap memonitor apakah perbaikan tersebut diikuti oleh peningkatan permintaan kredit dari masyarakat.
Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya menyampaikan pertumbuhan kredit pada Desember 2025 berada di kisaran target kredit 2025 yang ditetapkan otoritas moneter, yakni di kisaran 8-11% YoY.
“Kredit perbankan tumbuh sebesar 9,96% YoY, berada dalam kisaran perkiraan Bank Indonesia sebesar 8-11% ” kata Perry dalam Konferensi Pers Hasil RDG Bulanan Januari 2026, Rabu (21/1/2026).
Berdasarkan kelompok penggunaan, Perry mengungkapkan bahwa pertumbuhan kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi pada 2025 masing-masing sebesar 21.06%, 4,52%, dan 6,58%.
Dia mengatakan, capaian itu sejalan dengan upaya BI untuk menurunkan suku bunga dan memperkuat kebijakan likuiditas makroprudensial serta realisasi program prioritas pemerintah di tengah kondisi makro dan keuangan yang terjaga.
Dari sisi permintaan, Perry menyebut bahwa pelaku usaha terus didorong untuk melakukan ekspansi usaha dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan).
BI mencatat, fasilitas undisbursed loan pada Desember 2025 masih besar, yaitu mencapai Rp2.439,2 triliun atau 22,12% dari plafon kredit yang tersedia.
Sementara dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tetap memadai ditopang oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang meningkat menjadi sebesar 28,57% dan DPK yang tumbuh sebesar 13,83% (yoy) pada Desember 2025.
Adapun BI memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2026 akan semakin tinggi yakni di kisaran 8% sampai 12%. Perry memastikan, BI akan terus berkoordinasi dengan pemerintah dan KSSK untuk memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit perbankan.



