Indeks Wall Street Amerika Serikat (AS) melonjak pada perdagangan Rabu (21/1) setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana penerapan tarif baru terhadap Eropa.
Trump menyebut telah tercapai kerangka kesepakatan terkait Greenland dan kini ancaman tarif yang semula dijadwalkan berlaku 1 Februari resmi ditunda.
Berdasarkan CNBC, sentimen pasar sudah lebih dulu membaik setelah Trump menegaskan dirinya tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk memperoleh Greenland. Hal itu disampaikan dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss.
Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 588,64 poin atau 1,21% ke level 49.007,23. S&P 500 naik 1,16% ke 6.875,62, dan Nasdaq Composite menguat 1,18% ke 23.224,82.
Meski demikian, ketiga indeks utama masih berada di zona merah secara mingguan. Dow tercatat turun sekitar 0,6% dalam sepekan, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq masing-masing melemah sekitar 1%.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump mengatakan bahwa pertemuannya dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menghasilkan kesepakatan masa depan Greenland dan kawasan Arktik secara keseluruhan.
“Berdasarkan pemahaman ini, saya tidak akan memberlakukan tarif yang dijadwalkan berlaku pada 1 Februari,” tulis Trump di Truth Social. Trump juga mengatakan kepada CNBC Amerika Serikat telah memiliki konsep kesepakatan dengan Greenland.
Alhasil ditundanya tarif ini memicu pembalikan arah dari perdagangan yang sempat mengguncang pasar sehari sebelumnya. Harga obligasi Treasury AS tenor 10 tahun naik sehingga imbal hasilnya turun, sementara dolar AS kembali menguat terhadap mata uang utama lainnya.
Saham teknologi mulai pulih. Nvidia dan AMD memimpin penguatan seiring investor kembali masuk ke saham-saham fundamental setelah sempat menahan diri di awal pekan.
Sektor perbankan juga menguat setelah Trump menyatakan akan meminta Kongres mempertimbangkan usulan batas bunga kartu kredit maksimal 10%, meski peluang realisasinya dinilai kecil. Saham Citigroup dan Capital One masing-masing naik sekitar 1%.
Manajer portofolio Argent Capital Management, Jed Ellerbroek menilai pasar mulai tidak sepenuhnya mempercayai realisasi pernyataan Trump. Menurutnya, jika investor menganggap konflik Greenland sebagai risiko geopolitik serius, pasar saham bisa jatuh jauh lebih dalam.
“Perselisihan dengan Eropa mengenai Greenland akan membuat pasar saham turun jauh lebih dari 2% jika investor benar-benar percaya bahwa ini adalah perpecahan geopolitik yang besar,” ucap Ellerbroek dikutip CNBC, Kamis (22/1).
Meski Trump telah menepis opsi militer itu, ketegangan belum sepenuhnya mereda. Parlemen Eropa pada Rabu menangguhkan kesepakatan dagang Uni Eropa–AS yang dicapai Juli lalu, menyusul ancaman tarif terkait Greenland.
Sebelumnya, Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif 10% terhadap barang dari delapan negara anggota NATO mulai 1 Februari, yang akan naik menjadi 25% pada 1 Juni jika kesepakatan Greenland tidak tercapai.
Pada perdagangan Selasa, pasar global sempat anjlok setelah Trump meningkatkan ancaman tarif dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer. Anjloknya bursa AS menjadi yang terburuk sejak 10 Oktober dan menyeret S&P 500 serta Nasdaq ke wilayah negatif untuk tahun 2026.
Sementara itu, Mahkamah Agung AS juga menyoroti potensi risiko terhadap independensi Federal Reserve. Dalam sidang Rabu, Hakim Brett Kavanaugh meragukan kewenangan presiden untuk memecat Gubernur The Fed Lisa Cook tanpa tinjauan yudisial karena dinilai dapat melemahkan bank sentral.




