Kawasan produk segar di Pasar Rumput tampak kosong lantaran sekitar 70 meja dagang yang biasanya dipenuhi pedagang daging sapi tidak berjualan. Ini setelah penjual sepakat untuk melakukan mogok karena tingginya harga daging.
Waktu menunjukkan pukul 07.09 WIB, tanda hiruk pikuk Pasar Rumput mulai memuncak di tengah area produk segar. Namun zona tersebut kini menjadi tempat beberapa pedagang daging sapi tanpa ada dagangan. Area tersebut kini hanya dihiasi ayam potong, variasi hasil laut, dan daging kambing.
Asep, bukan nama sebenarnya, menjelaskan kondisi di Pasar Rumput terjadi di seluruh pasar di kawasan Jabodetabek. Berdasarkan pantauan Katadata.co.id, kios pedagang daging sapi di luar kawasan Pasar Rumput pun kini berubah menjadi kios ayam potong.
Asep menjelaskan alasan pedagang daging sapi kompak berhenti berjualan hingga akhir pekan, Sabtu (24/1), adalah tingginya harga jual. Pedagang khawatir barang jualannya tidak laku terjual karena harga tidak bisa dijangkau konsumen.
Menurutnya, harga daging sapi di tingkat konsumen telah mencapai Rp 140.000 per kilogram sejak akhir bulan lalu. Asep menduga tingginya harga daging sapi dimulai di tingkat rumah potong hewan.
"Barang ada di rumah jagal, tapi harganya mahal. Kalau kami jual di bawah Rp 130.000 per kg, kami rugi. Namun saat ini kami juga merugi karena tidak berjualan," kata Asep kepada Katadata.co.id, Kamis (22/1).
Asep menilai kondisi harga daging sapi saat ini seharusnya terjadi pada awal Ramadan atau pada pertengahan Februari 2025. Pada bulan suci, harga daging sapi di tingkat konsumen dapat menembus Rp 150.000 per kg.
Sebelumnya, Asosiasi Pedagang Daging Indonesia atau APDI menyampaikan pedagang daging sapi se-Jabodetabek akan mogok berjualan. Harapan mereka, Kementerian Pertanian maupun Badan Pangan Nasional dinilai dapat mengambil langkah konkrit saat daging sapi absen di pasar tradisional.
Ketua APDI Wahyu Purnama mengatakan salah satu pendorong tingginya harga daging sapi dimulai pada tingkat peternak. Alhasil, harga karkas di tingkat RPH mengikuti kenaikan tersebut sampai akhirnya dinikmati konsumen.
Menurutnya, tingginya harga daging sapi di tingkat konsumen tidak tepat di tengah pelemahan daya beli masyarakat. Hal tersebut diperburuk dengan gagalnya upaya stabilisasi harga oleh Kementerian Pertanian selama dua pekan terakhir.
"Bandar sapi potong, pedagang daging hilirisasi pasar tradisional se-Jabodetabek, dan masyarakat menengah ke bawah sangat terdampak oleh tingginya harga daging sapi. Maka aksi mogok dagang ini salah satu bentuk protes dan keprihatinan kami," kata Wahyu dalam keterangan resmi yang dikutip Kamis (22/1).
Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha dan Pengolahan Daging Indonesia (APPDI) Teguh Boediyana mengatakan pemerintah memberi kuota impor daging sapi sebanyak 30.000 ton pada 2026. Jumlah tersebut turun 83,3% dibandingkan kuota yang diberikan pemerintah pada 2025 mencapai 180 ribu ton.
Teguh mengatakan, asosiasi sama sekali tidak mengetahui alasan pemangkasan ini. Mereka hanya diberitahukan bahwa kuota impor tahun ini hanya 30 ribu ton saja.
Menurutnya, pemberitahuan tersebut juga dilakukan tanpa diikuti sosialisasi kepada asosiasi ataupun pengusaha. Hal ini membuat asosiasi terkejut dan meminta pemerintah untuk meninjau keputusan kuota ini.
Beberapa asosiasi terkait telah mengirim surat kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, dan Menteri Perdagangan Budi Santoso terkait permohonan peninjauan kuota.
“Kami menginginkan agar kuota impor paling tidak diberikan sebanyak tahun lalu 180 ribu ton, atau 217 ribu ton seperti 2024,” ujarnya.
Kuota impor 30 ribu ton daging sapi ini diberikan kepada 105-108 perusahaan. Teguh menyebut dengan jumlah alokasi dan besaran perusahaan maka dia memprediksi kuota impor ini habis hanya dalam waktu dua hingga tiga bulan.
Kendati demikian, dia menyampaikan hingga saat ini Kementerian Perdagangan belum mengeluarkan surat persetujuan impor (SPI). Oleh sebab itu, belum ada perusahaan yang melakukan importasi daging.

