TVRINews-Jakarta
Batas pembelian ditingkatkan jadi lima kantong guna penuhi tingginya permintaan pasar.
Perusahaan Umum (Perum) Bulog resmi memperlonggar regulasi distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Langkah ini diambil melalui peningkatan kuota pembelian maksimal bagi konsumen, dari semula dua kantong menjadi lima kantong per individu.
Kebijakan ini mencerminkan respons strategis pemerintah dalam menjaga aksesibilitas pangan di tengah fluktuasi kebutuhan pasar.
Selain untuk mengakomodasi antusiasme masyarakat, keputusan ini didasari oleh kondisi cadangan beras nasional yang diklaim dalam posisi aman.
Respons Terhadap Permintaan dan Kelimpahan Stok
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa kebijakan ini dipicu oleh dua faktor fundamental:
tingginya animo masyarakat serta ketersediaan stok di gudang Bulog yang mencukupi untuk mempercepat penyaluran.
"Karena banyak animo dari masyarakat yang ingin membeli dalam jumlah lebih banyak. Di sisi lain, stok kami saat ini melimpah, sehingga distribusi perlu dipercepat agar perputaran stok berjalan baik," ujar Rizal saat memberikan keterangan di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu 21 januari 2026.
Pelonggaran aturan ini berlaku di seluruh lini distribusi, mulai dari pasar tradisional hingga jaringan ritel modern.
Langkah perluasan jangkauan ini bertujuan agar masyarakat memiliki pilihan yang lebih fleksibel dalam mendapatkan komoditas pangan pokok tersebut.
Strategi Menjelang Panen Raya
Meski volume pembelian ditingkatkan, Bulog memastikan langkah ini tidak akan mengganggu stabilitas harga di tingkat petani, terutama menjelang musim panen raya yang diprediksi jatuh pada Februari mendatang.
Perusahaan telah menyiapkan mekanisme "buka-tutup" volume distribusi untuk menjaga keseimbangan pasar.
Rizal merinci bahwa intensitas penyaluran SPHP akan disesuaikan secara geografis. Di wilayah-wilayah sentra produksi pangan seperti Jawa, Sulawesi Selatan, hingga NTB, volume SPHP akan dikurangi saat panen raya tiba guna melindungi harga gabah petani. Sebaliknya, distribusi akan tetap dioptimalkan di daerah non-produsen.
"Saat sentra produksi memasuki masa panen, kami akan mengecilkan volume penyaluran. Nanti saat memasuki musim tanam kembali, volume akan kami tingkatkan lagi," jelasnya.
Dengan infrastruktur distribusi yang telah terintegrasi di seluruh Indonesia, Bulog menyatakan kesiapannya untuk mengimplementasikan aturan baru ini secara efektif guna menjamin ketahanan pangan nasional yang stabil.
Editor: Redaksi TVRINews




