FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno menceritakan perjalanan panjang dalam 10 tahun terakhir.
Dalam ceritanya ini, terkhusus Sandiaga Uno bercerita persoalan masa-masa merintis karier politik sampai saat ini.
Mulai dari 2016 hingga 2026 atau 10 tahun perjalanan yang dilalui, Sandiada Uno membeberkan ceritanya.
Lewat cuitan di akun media sosial X pribadinya, ia bercerita 2016 merupakan langkah awal ke dunia ini.
Terjun ke dunia politik di tahun tersebut, membuat mendapatkan hal baru termasuk pikiran yang lebih terbuka.
Dimana, hasil yang didapatkan dalam dunia politik tidak selama sesuai atau mutlak dengan apa yang diinginkan.
“2016. Saya melangkah ke politik dengan satu kesadaran: politik tidak pernah bekerja seperti hitung-hitungan di atas kertas,” tulisnya dikutip Kamis (22/1/2026).
“1 + 1 tidak selalu menjadi 2, dan 11 x 11 belum tentu menjadi 121,” ujarnya.
Sandiaga Uno merasa terbuka dan menyebut segala perubahan bisa terjadi dalam dunia politik
Mulai dinamika yang bisa berbalik serta keputusan yang diambil bisa saja kembali di uji untuk kemudian hari.
“Semua bisa berubah, dinamika bisa berbalik, dan keputusan yang terasa benar hari ini bisa diuji ulang oleh waktu dan keadaan,” jelasnya.
“Di ruang itulah saya belajar tentang pengabdian dan tanggung jawab,” sambungnya.
Dari 10 tahun perjalanan panjang merintih di jalur politik ada hal baru yang coba dilakukan.
Sandiaga Uno menegaskan dirinya tidak berhenti, namun mencoba dan membuka jalan untuk melakukan cara lain berkontribusi.
“2026. Jalannya berubah. Bukan karena berhenti peduli, tapi karena ingin terus berkontribusi dengan cara yang berbeda.
Hari ini saya memilih untuk melanjutkan pengabdian dengan fokus pada penciptaan lapangan kerja, membantu usaha kecil naik kelas, membangun bisnis yang menumbuhkan green jobs dan memperkuat green economy, sekaligus mendorong generasi muda untuk berani berusaha,” paparnya.
Satu pesan penting yang disampaikannya khusus untuk dunia politik Indonesia agar terbebas dari money politic
Harus besarnya ada dari makna tersebut, karena menurutnya Politik adalah tempat untuk mengabdi bukan mencari nafkah.
“Untuk generasi penerus, izinkan saya menitipkan satu pesan: jangan masuk politik karena uang. Bangun kemandirianmu terlebih dahulu. Masuklah ke politik ketika kamu sudah bebas dari kebutuhan, agar keputusanmu lahir dari keberanian dan nurani, bukan dari ketergantungan,” terangnya.
“Karena politik seharusnya menjadi tempat mengabdi, bukan tempat mencari nafkah,” pungkasnya.
(Erfyansyah/fajar)




