JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah padatnya pemukiman Jakarta, area persawahan masih bertahan di kawasan Marunda dan Rorotan, Jakarta Utara.
Berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (KPKP) DKI Jakarta, luas lahan sawah yang ada di Kecamatan Cilincing, Kelurahan Rorotan, ada sekitar 274 hektar.
Persawahan ini bisa langsung ditemui ketika memasuki kawasan Marunda hingga Banjir Kanal Timur (BKT) di Rorotan.
Lahan persawahan itu berada di tengah-tengah rumah warga, sekolahan, rumah ibadah, dan lain sebagainya.
Baca juga: Warga Perumahan JGC Demo, Protes Dampak RDF Rorotan dan Jalan Rusak
Hijaunya sawah, membuat kawasan Marunda dan Rorotan terlihat begitu teduh, seperti layaknya di pedesaan.
Setiap paginya, para petani berbondong-bondong pergi ke sawahnya masing-masing untuk menanam atau memanen padi.
Dengan bermodalkan topi caping, arit, dan sepatu boots, para petani langsung turun ke sawah, meski kondisi tanah sedang becek dan langit sedang mendung.
Mereka memanen satu per satu padi secara manual menggunakan arit dan terpal sebagai wadahnya agar tidak terkena air.
Bukan lahan pribadi
Meski masih bertahan di tengah padatnya pemukiman, sawah-sawah yang ada di Rorotan dan Marunda bukanlah milik pribadi para petani.
Sebagian lahan sawah di kawasan ini merupakan milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, sedangkan sebagian besar lagi milik pengembang atau perusahaan swasta.
Salah satu petani Kasturi (bukan nama sebenarnya, 45), mengaku menyewa lahan sawah seluas dua hektar milik salah satu pengembang.
Para petani akan membayar sewa lahan tersebut per enam bulan atau setiap kali sawahnya panen.
Baca juga: Pengoperasian Penuh RDF Rorotan Tinggal Selangkah Lagi, Ini Penjelasan Pramono
"Ya, bayar sewa juga. Kalau di kelompok saya di situ per panen, kalau padi bagus per hektar bisa mencapai Rp 3 juta, kalau hasilnya jelek bisa dinego," tutur Kasturi saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Rabu (21/1/2026).
Meski harus membayar sewa, Kasturi mengaku bersyukur karena masih bisa menanam padi di kota Jakarta yang pembangunan infrastrukturnya begitu masif.