Produksi Gandum-Nabati Dunia Kasih Pertanda Nasib Pangan Global 2026

cnbcindonesia.com
7 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia- Departemen Pertanian AS (USDA) dalam dokumen terbaru, 12 Januari 2026, menaikkan proyeksi untuk outlook 2025/2026. Diperkirakan, stok akhir gandum Amerika Serikat menjadi 926 juta bushel, naik 25 juta bushel dari proyeksi  sebelumnya. Dengan proyeksi lebih positif ini, stok akhir gandum AS akan mengalami pertumbuhan 8% dari setahun sebelumnya.

Revisi ini datang dari dua arah, stok awal lebih besar dan konsumsi domestik yang dipangkas. Penggunaan pakan turun 20 juta bushel, benih turun 1 juta bushel. Ekspor tidak berubah di 900 juta bushel.

Implikasinya langsung ke harga. Season-average farm price gandum AS diturunkan menjadi US$4,90 per bushel. Tekanan datang dari sisi volume, bukan permintaan.

Di tingkat global, USDA memprediksi pasokan gandum global akan 4,3 juta ton menjadi menjadi 1.102,2 juta ton, menyusul kenaikan produksi di Argentina dan Rusia. Argentina mencatatkan produksi 27,5 juta ton, hampir 50% lebih tinggi dari tahun lalu. Rusia naik ke 89,5 juta ton. Kenaikan ini mendorong stok akhir global menjadi 278,3 juta ton, ini menjadi modal awal dunia untuk tahun 2026. 

Dengan kondisi produksi di negara produsen utama, diperkirakan stok akhir gandum global untuk outlook 2025/2026 naik 3,4 juta ton menjadi 278,3 juta ton. Terutama ditopang Rusia dan Argentina. 

Dengan konsumsi yang tumbuh lambat, tambahan pasokan langsung menekan harga. Gandum diproyeksikan kembali ke fungsi dasarnya sebagai penyangga pangan.

Gandum & Indonesia: harga global turun, volume impor ikut bergerak

Impor gandum RI dari Amerika Serikat pada 2024 melonjak menjadi 691,9 ribu ton, hampir dua kali lipat dibanding 2023 yang hanya 390,9 ribu ton

Nilai impornya ikut naik menjadi US$197,9 juta, meski masih jauh di bawah level 2020 saat harga global lebih tinggi.

Indonesia kembali agresif menyerap gandum dari pasar yang harganya sedang "dingin". Saat stok global naik dan harga gandum AS turun ke US$4,90 per bushel, fleksibilitas sumber impor kembali terbuka. Gandum AS yang sempat tersisih oleh Australia dan Kanada mulai masuk lagi ke keranjang impor, karena struktur harga yang kembali kompetitif.

Jika dilihat lebih luas, total impor biji gandum dan meslin Indonesia pada 2024 mencapai 11,7 juta ton, tertinggi sejak 2021. Australia memang masih menjadi pemasok utama, namun volumenya turun tajam ke 2,99 juta ton dari 4,24 juta ton pada 2023.

Sebaliknya, Ukraina, Kanada, Argentina, Rusia, dan Amerika Serikat sama-sama mencatat kenaikan pasokan ke Indonesia. Pola ini konsisten dengan peta produksi global: Rusia dan Argentina mencatat surplus, Ukraina kembali aktif di pasar ekspor, sementara AS mendapatkan ruang dari turunnya harga.

Artinya, Indonesia tidak bergantung pada satu sumber ketika pasar global longgar. Saat stok dunia naik dan perdagangan meningkat, importir besar seperti Indonesia cenderung memaksimalkan arbitrase harga antarnegara. Ini juga menjelaskan mengapa kenaikan volume impor tidak selalu diikuti lonjakan nilai CIF secara proporsional. Pada 2024, total nilai impor gandum RI justru turun menjadi US$3,51 miliar dari US$3,67 miliar pada 2023, meski volumenya lebih besar. Efek surplus global bekerja langsung ke neraca impor.

Produksi Minyak Nabati Naik, Pasokan Global Bertambah 

Meski laju konsumsi dunia lebih cepat dari produksi, kondisi stok minyak nabati global juga memberikan sinyal positif. Neraca biji minyak dunia menunjukkan arah pasokan global yang terus membesar dalam tiga musim terakhir.

Pada 2023/24, produksi biji minyak global tercatat sebesar 657,37 juta ton. Angka ini meningkat pada 2024/25 menjadi 684,34 juta ton, dan kembali naik pada proyeksi Januari 2025/26 ke 693,15 juta ton.

Seiring kenaikan produksi, volume perdagangan internasional juga bergerak naik. Pada 2023/24, perdagangan biji minyak dunia berada di 205,53 juta ton. Volume ini bertambah menjadi 214,20 juta ton pada 2024/25, dan relatif stabil pada 214,83 juta ton dalam proyeksi Januari 2025/26. Ini menunjukkan arus ekspor-impor global tetap aktif mengikuti peningkatan pasokan.

Di sisi penggunaan, tren konsumsi global bergerak lebih cepat dibanding produksi. Total penggunaan biji minyak dunia naik dari 543,42 juta ton pada 2023/24 menjadi 567,04 juta ton pada 2024/25, lalu mencapai 578,66 juta ton pada 2025/26. Kenaikan ini mencerminkan peningkatan aktivitas crushing dan kebutuhan industri hilir secara global.

Kombinasi produksi yang meningkat dan konsumsi yang terus menyerap pasokan membuat stok akhir global tetap bertambah, meski tidak agresif. Stok akhir biji minyak dunia naik dari 136,07 juta ton pada 2023/24 menjadi 141,69 juta ton pada 2024/25, dan diproyeksikan mencapai 145,07 juta ton pada 2025/26.

 

Di Amerika Serikat, kontrasnya terlihat. Stok akhir biji minyak naik ke 11,1 juta ton. Stok akhir minyak nabati bertahan di 1,16 juta ton. Artinya, bahan mentah tersedia, tetapi produk akhirnya cepat keluar ke pasar.

Menjelaskan mengapa harga minyak nabati tidak mengikuti gandum. Tekanan tidak datang dari suplai, tapi dari struktur permintaan.

Bagi negara importir, kondisi ini berarti penurunan biaya tidak terjadi menyeluruh. Harga pangan pokok berbasis tepung cenderung lebih jinak. Minyak goreng dan pangan olahan tetap sensitif terhadap gangguan cuaca, kebijakan energi, dan arus perdagangan.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Reaksi Macron usai Pesannya soal Greenland Dibocorkan Trump
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Menhaj Harap Tower Kampung Haji di Saudi Beroperasi 2028
• 15 jam laluokezone.com
thumb
Israel Kembali Serang Gaza, Tiga Jurnalis Syahid
• 10 jam lalurepublika.co.id
thumb
Tiga Kali Jadi Runner-Up di Turnamen Super 500, Putri KW Penasaran Juara di Indonesia Masters 2026
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
100 % Sekolah di Sumut Kini Teraliri Listrik dan Internet
• 10 jam lalumediaapakabar.com
Berhasil disimpan.