Dolar Dekati Rp 17.000, Saham Mana yang Untung dan Buntung?

cnbcindonesia.com
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan depresiasi hingga menyentuh kisaran level Rp16.900/US$.

Pelemahan mata uang domestik ini memberikan dampak yang bervariasi terhadap kinerja emiten di pasar modal, menciptakan divergensi antara perusahaan berorientasi ekspor dan perusahaan dengan beban impor tinggi.

Meskipun volatilitas nilai tukar meningkat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menunjukkan ketahanan yang cukup solid dalam enam bulan terakhir.

Data pasar memperlihatkan adanya akumulasi beli yang konsisten, tidak hanya pada sektor yang diuntungkan oleh penguatan dolar AS, tetapi juga pada beberapa sektor yang secara fundamental memiliki eksposur risiko kurs.

Katalis Positif bagi Emiten Berbasis Ekspor

Depresiasi Rupiah menjadi katalis positif bagi emiten yang memiliki basis pendapatan dalam dolar AS namun mayoritas beban operasional dalam rupiah. Konversi pendapatan ke dalam mata uang lokal mendorong potensi peningkatan margin laba yang signifikan.

Hal ini tercermin jelas pada pergerakan harga saham emiten komoditas dan manufaktur berorientasi ekspor. PT Timah Tbk (TINS) mencatatkan apresiasi harga yang luar biasa dalam semester terakhir, didorong oleh kombinasi harga komoditas global dan selisih kurs.

Tren serupa juga dialami oleh emiten kertas seperti INKP dan TKIM yang kinerjanya terapresiasi seiring dengan ekspektasi lonjakan pendapatan valas.

Indikasi Fase Bullish: Sektor Sensitif Tetap Menguat

Fenomena menarik terlihat pada kelompok emiten yang secara teoritis terbebani oleh penguatan dolar AS, seperti sektor properti dan barang konsumsi (consumer goods). Biasanya, pelemahan Rupiah akan menekan emiten yang memiliki utang dalam valuta asing atau ketergantungan pada bahan baku impor.

Namun, data enam bulan terakhir menunjukkan anomali positif. Saham properti seperti MDLN dan ASRI justru mencatatkan kenaikan harga lebih dari 30%.

Kenaikan pada sektor yang sensitif terhadap kurs dan suku bunga ini mengindikasikan bahwa pasar saham sedang berada dalam fase bullish. Investor tampaknya telah mengantisipasi risiko pelemahan rupiah (priced-in), atau melihat valuasi sektor ini sudah cukup atraktif untuk dikoleksi.

Kendati demikian, tekanan nyata tetap terlihat pada emiten dengan porsi bahan baku impor yang dominan seperti ICBP, yang mengalami koreksi harga saham akibat kekhawatiran pasar terhadap margin laba bersih yang tergerus.

Secara keseluruhan, respons pasar saat ini menunjukkan optimisme yang tinggi. Kenaikan harga saham yang meluas ke berbagai sektor terlepas dari sentimen negatif nilai tukar menandakan animo pasar yang sangat kuat terutama bagi investor ritel terhadap prospek pemulihan ekonomi jangka panjang.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Nabung Emas Makin Mudah dan Terjangkau Lewat BRI, Begini Caranya!
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Foto: Penyelamatan Anabul Selama Kebakaran Hebat di Chili
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Penganiayaan Brutal Dialami Pria di Kulon Progo: Kaki Diikat, Tangan Diborgol, Mulut Dilakban hingga Leher Keluarkan Darah
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Danantara Boyong 3 Proyek Unggulan ini ke WEF Davos, ada Kampung Haji hingga PLTSa
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Update Pencarian Pesawat ATR : 9 Pack Body Part Ditemukan, 6 Korban Proses Evakuasi
• 4 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.