Penulis: Tri Cahyo Nugroho
TVRINews – Jakarta, Indonesia
Legenda sepak bola Brasil dan Arsenal FC Gilberto Silva memiliki masa lalu suram sebelum menjadi bintang dunia.
Sebelum ada nama-nama seperti Casemiro atau Bruno Guimares dan Andre sebagai gelandang bertahan Timnas Brasil saat ini, pencinta Tim Samba yang termasuk Gen Z mungkin masih asing dengan nama Gilberto Silva.
Untuk generasi milenial hingga Gen Z, hampir pasti masih asing dengan nama Gilberto Silva. Namun, mereka yang tumbuh di era tahun 1980-an sampai 1990-an, pasti mengetahui benar seperti apa kualitas Gilberto Silva sebagai gelandang bertahan.
Gilberto Silva adalah salah satu pilar Timnas Brasil saat merebut gelar juara Piala Dunia 2002. Ia juga menjadi gelandang bertahan saat Tim Samba memenangi Copa America 2007 dan FIFA Confederations Cup pada 2005 dan 2009.
Masa keemasan Gilberto Silva di level klub terjadi saat ia memperkuat Arsenal FC antara tahun 2002 sampai 2008. Ia menjadi defensive midfielder Arsenal saat klub elite Inggris itu merebut gelar Liga Primer 2003-2004 tanpa kekalahan, yang membuat klub itu dijuluki The Invincibles.
Kendati memiliki karier cemerlang di sepak bola dunia baik di level tim nasional maupun klub, tidak banyak yang mengetahui bila awal karier Gilberto Silva tidak mulus.
Tumbuh dalam keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi, Gilberto Silva mencoba mengubah nasib dengan bermain bola dan bergabung dengan klub America Mineiro di usia 12 tahun pada 1988. Pada awal kariernya di tim muda America Mineiro itulah Gilberto Silva diajari disiplin bertahan dengan dimainkan sebagai gelandang tengah.
Saat tak bermain bola, Gilberto Silva diajari membuat perabotan rumah tangga oleh ayahnya yang memang seorang tukang kayu. Pada 1991, sang ayah pensiun sehingga tulang punggung keluarga dibebankan kepada Gilberto Silva yang saat itu baru berusia 16 tahun. Tugas Gilberto Silva bertambah berat karena sang ibu yang kala itu sering sakit-sakitan.
Karena pendapatan dari America Mineiro yang kecil, Gilberto Silva pun terpaksa berhenti dari sepak bola untuk bekerja apa saja dari buruh, tukang kayu, hingga bekerja di sebuah pabrik permen dengan gaji hanya 50 poundsterling per bulan pada 2002.
Pada 1997, seorang kawan meyakinkan Gilberto Silva untuk mencoba kembali ke sepak bola. Di usia 22 tahun (ia lahir pada 7 Oktober 1976), Gilberto Silva menjadi bek tengah untuk tim utama dan menjadi salah satu pemain kunci klubnya memenangi divisi Serie B di Liga Brasil untuk promosi ke Serie A.
Naik turun kasta liga bersama America Mineiro, pada 2000 saat usianya 24 tahun, Gilberto Silva bergabung ke rival klubnya Atletico Mineiro. Di bawah arahan pelatih Carlos Alberto Parreira, permainan Gilberto Silva berkembang dari bek tengah menjadi gelandang tengah.
Kehebatan Gilberto Silva bersama Atletico Mineiro membuat pelatih Timnas Brasil saat itu Luiz Felipe Scolari memilihnya untuk Piala Dunia 2002.
Setelah tampil luar biasa pada Piala Dunia di Jepang-Korea Selatan itu Gilberto Silva menerima pinangan Arsenal, dan sisanya sejarah. Bersama The Gunners, Gilberto Silva juga merebut FA Cup pada 2003 dan 2005.
Gilberto pensiun dari Timnas Brasil pada 2010 setelah 92 kali turun dengan mencetak tiga gol. Ia gantung sepatu sepenuhnya pada 2015 usai sempat membela Panathinaikos, Gremio, dan balik ke Atletico Mineiro.
Gilberto Silva tetap terlibat dalam sepak bola sebagai duta untuk Arsenal dan FIFA. Kedatangannya ke Jakarta, Indonesia, dengan trofi Piala Dunia pada hari ini, Kamis 22 Januari 2026, menjadi salah satu tugasnya sebagai ambassador FIFA dalam mempromosikan turnamen sepak bola terbesar di dunia yang akan digelar pada 11 Juni sampai 19 Juli mendatang di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Selain menjadi duta, Gilberto Silva juga bekerja sebagai komentator dan pembicara media, berbagi wawasan tentang kepemimpinan dan kinerja tinggi.
Di sepak bola, publik bisa melihat warisan Gilberto Silva yang akan terus dikenang sebagai gelandang pekerja keras yang gigih. Bermain di depan dua bek tengah, Gilberto Silva bermain cerdas dengan lebih gemar menempel ketat lawan daripada menjegal.
Hasilnya, ia pernah mencetak rekor tak biasa sebagai gelandang bertahan: tidak pernah menerima kartu kuning dalam 45 laga, plus tidak pernah mendapat kartu kuning sepanjang membela Arsenal.
Editor: Tri Cahyo Nugroho




