Maros, VIVA – Operasi pencarian korban kecelakaan Pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, perbatasan Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, kembali memasuki fase krusial. Di tengah medan ekstrem dan cuaca yang tak menentu, Tim SAR Gabungan kembali menemukan enam jenazah korban, Kamis, 22 Januari 2026.
Penemuan tersebut membuat jumlah korban yang berhasil ditemukan pascakecelakaan tragis pada Sabtu, 17 Januari 2026, bertambah menjadi sembilan orang. Proses evakuasi pun berlangsung penuh tantangan, mengingat lokasi puing pesawat berada di kawasan pegunungan yang terjal dan sulit dijangkau.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, mengungkapkan bahwa kondisi korban yang ditemukan di lokasi kejadian tidak seluruhnya utuh. Sebagian jenazah ditemukan dalam bentuk bagian tubuh atau body part, yang tersebar di sekitar puing-puing pesawat.
”Perlu kami jelaskan bahwa yang dimaksud dengan body part di lokasi operasi adalah bagian dari pesawat maupun bagian dari anggota tubuh korban. Hingga hari ini, total yang ditemukan adalah 9 pack body part. Selain itu, terdapat 6 korban yang saat ini masih dalam proses evakuasi oleh Tim SAR Gabungan,” katanya.
Syafii menjelaskan, hingga kini baru tiga jenazah korban yang berhasil dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Sementara enam jenazah lainnya masih berada di lokasi kejadian dan tengah diupayakan proses evakuasi oleh tim gabungan.
Ia menegaskan, seluruh tahapan evakuasi dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Keselamatan personel menjadi prioritas utama, mengingat medan operasi SAR yang curam serta cuaca yang kerap berubah secara ekstrem.
Setelah dievakuasi, seluruh jenazah dan body part korban akan diserahkan kepada Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan untuk dilakukan proses identifikasi sesuai prosedur yang berlaku.
Berdasarkan hasil identifikasi yang telah rampung, Tim DVI sebelumnya mengumumkan dua korban pertama yang berhasil dikenali, yakni Deden Maulana dan Florencia Lolita Wibisono. Hingga kini, tim masih melanjutkan proses identifikasi terhadap body part jenazah korban yang diterima dari Tim SAR Gabungan pada Rabu malam, 21 Januari 2026.
Basarnas menegaskan, setiap perkembangan operasi pencarian dan evakuasi akan disampaikan secara resmi dan terverifikasi kepada publik. Masyarakat diminta tetap tenang serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.





