Harga Bitcoin Merosot Imbas Ketegangan Geopolitik, Investor Mulai Aksi Jual

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah dan turun ke bawah level psikologis USD 90.000 pada perdagangan Kamis (22/1). Hal ini seiring meningkatnya tensi geopolitik dan investor mulai melakukan aksi jual di pasar aset kripto.

Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang tarif Amerika Serikat (AS) terhadap Eropa, yang dikaitkan dengan tekanan Washington kepada Denmark agar mempertimbangkan kembali kendalinya atas Greenland, serta gejolak di pasar obligasi Jepang yang memicu sentimen risk-off secara luas.

Berdasarkan data CoinMarketCap, Kamis (22/1) pukul 17.30 WIB, harga Bitcoin sebesar USD 89.977 atau turun 7,00 persen dibandingkan pekan lalu. Vice President Indodax, Antony Kusuma, menilai pergerakan ini mencerminkan keterkaitan kripto yang semakin erat dengan dinamika makroekonomi dan geopolitik global.

“Dalam situasi seperti ini, Bitcoin tidak berdiri sendiri. Ketika pasar global masuk ke fase risk-off akibat ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan, dan tekanan di pasar obligasi, aset berisiko cenderung mengalami koreksi secara bersamaan akibat aksi jual.” ujar Antony dalam keterangannya.

Dia menjelaskan, kepanikan jangka pendek kerap muncul ketika investor global berusaha menyeimbangkan ulang portofolio investasi mereka di tengah ketidakpastian. Hal ini terlihat dari meningkatnya volatilitas, lonjakan volume perdagangan, serta tekanan di pasar derivatif kripto.

“Yang perlu dicermati adalah bahwa pergerakan ini lebih didorong oleh faktor eksternal, bukan perubahan fundamental di ekosistem Bitcoin dan kripto. Dinamika suku bunga, likuiditas global, dan arah kebijakan geopolitik saat ini menjadi variabel utama yang memengaruhi harga,” lanjutnya.

Menurut Antony, pasar kripto menunjukkan fase koreksi tajam sering kali beriringan dengan guncangan makro, terutama ketika Bitcoin semakin diperlakukan sebagai bagian dari aset global oleh investor institusional. “Partisipasi institusi membuat Bitcoin lebih responsif terhadap isu global. Ini adalah konsekuensi dari maturasi pasar, di mana kripto semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global,” kata Antony.

Antony menekankan bahwa volatilitas tinggi seringkali memicu perilaku fear of missing out (FOMO) di kalangan investor. Dalam situasi seperti ini, ia menilai penting bagi pelaku pasar untuk tetap disiplin melakukan do your own research (DYOR), memahami risiko, serta tidak mengambil keputusan investasi berdasarkan tekanan emosi jangka pendek di tengah ketidakpastian global.

Meski demikian, dia menekankan bahwa volatilitas tetap menjadi karakter inheren pasar kripto. Investor, menurutnya, perlu memahami konteks pergerakan harga secara menyeluruh dan tidak semata melihat fluktuasi jangka pendek. “Periode seperti ini menegaskan pentingnya perspektif jangka panjang dan pemahaman risiko. Pasar kripto akan terus bergerak mengikuti arus global, dan ketahanan investor diuji justru saat ketidakpastian meningkat,” tambahnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
50 Relawan Mahasiswa Indonesia-Korea Renovasi Sekolah dan Edukasi Siswa di Cilegon
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Arus Lalin di Jakarta Tersendat Imbas Banjir, Jalan Daan Mogot hingga Raden Saleh Terdampak
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Gaya Hidup Dinamis Dorong Perawatan Rambut Praktis, Cocok Banget untuk Kamu yang Serba Sat Set!
• 10 jam laluherstory.co.id
thumb
Alter Ego Turun ke Lower Bracket Knockout Stage M7 MLBB
• 15 jam lalurepublika.co.id
thumb
Seminggu Mengungsi, Warga Kudus Mulai Jenuh Meski Banjir Masih Rendam Permukiman
• 17 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.