Ketika Persebaya Surabaya Bisa Jadi Batu Sandungan Persib Bandung dalam Perburuan Gelar Juara

harianfajar
1 hari lalu
Cover Berita

FAJAR, BANDUNG — Di puncak klasemen, ancaman tak selalu datang dari tim yang berada tepat di bawah. Kadang ia bergerak senyap, membangun diri perlahan, lalu muncul sebagai pengganggu paling berbahaya ketika musim memasuki tikungan krusial. Bagi Persib Bandung, ancaman itu salah satunya bernama Persebaya Surabaya.

Pelatih Persib, Bojan Hodak, memahami betul dinamika tersebut. Juru taktik asal Kroasia itu tidak sekadar menyebut rival juara secara normatif. Ia berbicara dari pengalaman, dari pembacaan taktik, dan dari insting seorang pelatih yang pernah merasakan getirnya persaingan Liga Indonesia dari dalam.

Dalam pandangan Hodak, persaingan gelar Super League 2025/2026 tidak hanya ditentukan oleh satu atau dua tim. Persija Jakarta, Borneo FC Samarinda, Malut United, hingga Persebaya Surabaya masuk dalam radar kewaspadaan Maung Bandung.

Namun di antara semua nama itu, Persebaya memiliki posisi yang unik.

“Persebaya adalah kompetitor yang sangat tangguh. Perubahan di posisi pelatih dan kehadiran beberapa amunisi baru membuat mereka tampil jauh lebih berbahaya,” ujar Hodak.

Pernyataan itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan pengakuan bahwa Persebaya kini sedang berada dalam fase transformasi—fase yang sering kali menjadi titik balik sebuah tim.

Transformasi yang Tak Bising, Tapi Mengancam

Persebaya Surabaya tidak membangun kekuatan dengan gemerlap. Tidak dengan satu nama besar yang menyedot sorotan nasional. Mereka memilih jalur yang lebih sunyi: mengganti arah, membenahi fondasi, dan menutup lubang-lubang lama.

Pergantian pelatih menjadi titik awal. Bersamaan dengan itu, manajemen Bajul Ijo melakukan perombakan komposisi pemain—bukan sekadar menambah jumlah, melainkan menyesuaikan karakter dengan filosofi permainan yang baru.

Bagi tim-tim besar seperti Persib, perubahan semacam ini justru berbahaya. Lawan yang sudah “jadi” lebih mudah dibaca. Lawan yang sedang berubah justru sulit diprediksi.

Persebaya menjadi tim dengan wajah baru, tetapi membawa DNA lama: agresif, emosional, dan selalu bermain dengan energi ekstra ketika menghadapi klub besar.

Dan Persib adalah musuh tradisional.

Rivalitas yang Tak Pernah Netral

Persib Bandung dan Persebaya Surabaya bukan sekadar dua klub besar. Mereka adalah dua simbol. Dua sejarah. Dua basis massa yang tak pernah kekurangan suara.

Dalam laga-laga besar, logika klasemen sering kali runtuh. Yang berbicara adalah mental, emosi, dan keberanian mengambil risiko.

Hodak memahami ini. Ia tahu, Persebaya hampir selalu bermain satu tingkat lebih tinggi saat menghadapi Persib. Entah itu di Surabaya atau Bandung, laga ini jarang berjalan normal.

Motivasi berlipat, duel lebih keras, dan fokus sering kali bertahan hingga menit terakhir. Bagi tim yang sedang mengejar gelar, satu pertandingan semacam ini bisa menentukan arah musim.

Bukan hanya soal kalah atau menang, tetapi soal kehilangan momentum.

Ancaman dari Banyak Arah

Selain Persebaya, Hodak juga menyoroti dua kekuatan lain yang bergerak agresif: Persija Jakarta dan Malut United.

Keduanya memiliki satu kesamaan—kekuatan finansial.

Dalam sepak bola modern, investasi hampir selalu berbanding lurus dengan kedalaman skuad. Hodak menyadari betul bahwa bursa transfer paruh musim bisa mengubah peta kekuatan secara drastis.

“Tim dengan finansial kuat biasanya punya fleksibilitas lebih dalam memperbaiki kelemahan,” ujar Hodak dalam nada realistis.

Di sisi lain, Borneo FC Samarinda tetap menjadi tolok ukur stabilitas. Pesut Etam menyapu 11 kemenangan beruntun di awal musim—sebuah rekor yang tak lahir dari kebetulan.

“Borneo tetap ada di sana. Mereka sangat stabil,” kata Hodak.

Namun stabilitas justru membuat mereka mudah dipetakan. Persebaya berbeda. Mereka cair. Adaptif. Sulit ditebak.

Persib di Posisi Paling Sulit

Sebagai pemuncak klasemen, Persib Bandung kini berada di posisi paling rawan. Setiap lawan datang dengan satu motivasi: menjatuhkan sang pemimpin.

Sedikit saja lengah, jarak poin bisa terpangkas. Lebih dari itu, tekanan psikologis bisa berpindah.

Hodak tahu bahwa musuh terbesar tim juara adalah inkonsistensi. Bukan lawan besar, melainkan kehilangan fokus di momen-momen krusial.

Dan di titik inilah Persebaya Surabaya berdiri sebagai batu sandungan potensial.

Mereka mungkin tidak berada di puncak. Namun mereka punya semua elemen untuk mengganggu: sejarah, mentalitas, perubahan taktik, dan motivasi rivalitas.

Dalam perburuan gelar, bukan hanya soal siapa yang paling kuat—tetapi siapa yang paling siap menghadapi gangguan.

Dan bagi Persib Bandung, gangguan bernama Persebaya Surabaya itu nyata.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Indeks Wall Street Melompat Naik, Redanya Risiko Geopolitik Picu Rally Pasar
• 16 jam lalukatadata.co.id
thumb
Anak ke-4 Meninggal Dunia, Rizal Armada: Kami Ikhlas, Kami Ridho
• 5 jam lalugrid.id
thumb
Indonesia Masters: Sabar/Reza ke Semifinal usai Tekuk Malaysia Dalam 38 Menit
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Tanpa Penyakit, Rizal Armada Beberkan Penyebab Putri ke-4 Meninggal Dunia dalam Kandungan
• 5 jam lalugrid.id
thumb
Kinerja Saham bank bjb Menguat di Awal 2026, Cerminkan Kepercayaan Pasar
• 5 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.