Fakta dan Mitos tentang Burung Kedasih (Cacomantis Merulinus)

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Saat mendaki gunung, selain menikmati pemandangan yang terbentang luas dan udara yang terasa lebih bersih, penulis selalu memberi ruang khusus untuk mendengarkan suara burung.

Di jalur pendakian, suara-suara itu hadir sebagai lapisan pengalaman yang sering luput disadari, padahal ia menandai kehidupan hutan yang masih bekerja secara alami.

Penulis kerap berhenti sejenak, mengurangi langkah, lalu membiarkan telinga menyesuaikan diri dengan bunyi-bunyi yang muncul dari balik pepohonan. Dari sanalah, keberadaan burung dapat dikenali tanpa harus melihat wujudnya secara langsung.

Pengalaman mendengarkan suara burung itu berulang di berbagai hutan pegunungan Jawa Barat. Di Gunung Pangrango, kicauan terdengar rapat sejak pagi hari, menyatu dengan kabut yang turun perlahan.

Di Papandayan, suara burung sering muncul dari balik hutan mati dan semak belukar yang terbuka. Gunung Salak menghadirkan gema suara burung yang dalam, memantul di lembah dan lereng curam. Di Tangkuban Perahu, suara burung bercampur dengan desir angin dan langkah pengunjung yang datang silih berganti.

Di Gunung Ciremai, perbedaan ketinggian menghadirkan variasi suara burung yang jelas terasa. Gunung Cikuray menyuguhkan suasana lebih sunyi, dengan suara burung yang muncul sesekali namun tajam.

Di Guntur dan Malabar, kicauan burung sering terdengar dari kebun, hutan pinus, dan lahan campuran. Berdasarkan pengamatan dan catatan, Gunung Malabar ini memiliki keanekaragaman suara burung yang lebih kaya dari yang lain dan akan penulis narasikan secara khusus.

Gunung Sanggara, Wayang, Burangrang, Manglayang, serta Patuha memperlihatkan pola serupa, di mana burung menjadi bagian dari lanskap suara. Dari semua gunung itu, ada satu suara yang hampir selalu hadir, yaitu suara burung kedasih.

Burung kedasih dikenal luas di tanah Sunda dengan sebutan sirit uncuing. Dalam berbagai dialek Sunda, namanya dilafalkan berbeda menjadi sit uncuing, siit uncuing, atau sit incuing. Di wilayah Jawa, burung ini disebut darasih atau emprit ganthil.

Dalam bahasa Inggris, ia dikenal sebagai plaintive cuckoo atau rusty-breasted cuckoo, nama yang merujuk pada karakter suaranya yang mendayu. Ragam penamaan ini menunjukkan luasnya persebaran burung tersebut sekaligus kedekatannya dengan kehidupan masyarakat.

Secara ilmiah, burung kedasih memiliki nama Cacomantis merulinus dan termasuk famili Cuculidae dalam ordo Cuculiformes. Famili ini dikenal sebagai kelompok burung kangkok atau cuckoo yang tersebar luas di kawasan tropis dan subtropis dunia, sebagaimana dicatat dalam ensiklopedia Britannica.

Di Indonesia, subspesies Cacomantis merulinus lanceolatus hidup di Jawa dan Bali, sementara subspesies lain tersebar di Asia Selatan dan Asia Tenggara, sebagaimana dilaporkan dalam basis data Birds of the World.

Dari segi fisik, burung kedasih tergolong kecil dengan panjang tubuh sekitar dua puluh hingga dua puluh empat sentimeter. Burung jantan memiliki kepala berwarna abu-abu dengan punggung cokelat keabu-abuan dan bagian perut berwarna jingga atau merah sawo matang.

Burung betina tampak lebih burik dengan warna cokelat kemerahan yang lebih kusam. Tubuhnya ramping, paruhnya runcing, dan kakinya relatif kecil, mendukung kebiasaan bergerak cepat di balik rimbunan daun.

Burung kedasih dikenal sebagai burung yang lebih sering terdengar daripada terlihat. Ia gemar bertengger di balik tajuk pohon yang rapat dan jarang berpindah tempat saat bersuara. Kebiasaan ini membuat sumber suara sulit dilacak, meskipun bunyinya terdengar jelas dan panjang.

Dalam banyak kesempatan, suara burung ini terdengar seolah muncul dari udara kosong, memperkuat kesan misterius yang melekat padanya di mata pendengar.

Ciri paling khas dari burung kedasih adalah suaranya yang panjang, melengking, dan bergerak naik turun perlahan. Pola bunyi berulang “tiit tu wiiit” sering digambarkan seperti ratapan yang tertahan dan berulang.

Menurut Prof. Ani Mardiastuti dari IPB University, suara tersebut merupakan panggilan kawin burung jantan untuk menandai wilayah sekaligus menarik perhatian betina. Dalam konteks biologi burung, suara nyaring dan berulang adalah bagian dari strategi reproduksi yang lazim.

Dalam siklus hidupnya, burung kedasih memiliki cara berkembang biak yang khas dan unik. Ia tidak membangun sarang sendiri dan tidak mengerami telurnya.

Sebaliknya, telur burung kedasih diletakkan di sarang burung lain yang berukuran lebih kecil, seperti cinenen, perenjak, atau remetuk. Perilaku ini dikenal sebagai brood parasitism, sebuah strategi reproduksi yang banyak dibahas dalam kajian ekologi burung.

Menurut catatan Birds of the World, induk kedasih mengamati kebiasaan burung inang sebelum meletakkan telurnya. Telur kedasih memiliki bentuk dan warna yang menyerupai telur inang sehingga sulit dikenali.

Telur tersebut biasanya menetas lebih cepat, dan piyiknya memiliki insting untuk menyingkirkan telur atau anakan lain dari sarang. Dengan cara ini, burung inang tanpa sadar membesarkan anak kedasih hingga mampu terbang sendiri.

Dari sisi makanan, burung kedasih merupakan pemakan serangga dan hewan kecil lainnya. Ia memangsa ulat, belalang, laba-laba, kadal kecil, hingga reptil mungil.

Dr. Yeni Aryani Mulyani dari IPB University menyebut burung ini berperan sebagai pengendali populasi serangga di alam. Dalam lanskap pertanian, kehadirannya membantu menekan jumlah hama secara alami, meskipun peran ini jarang disadari masyarakat.

Dalam konteks konservasi, burung kedasih saat ini masih tergolong aman. IUCN Red List memasukkannya ke dalam kategori Least Concern, yang berarti risiko kepunahannya relatif rendah.

Populasinya masih stabil di berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Meski demikian, perubahan tutupan lahan, kerusakan habitat, dan aktivitas manusia tetap memengaruhi ruang hidup burung ini secara perlahan.

Di luar fakta ilmiah, burung kedasih hidup dalam lapisan mitos yang kuat, terutama di Jawa Barat. Mitos pertama menyebut burung ini sebagai jelmaan seorang lelaki yang kehilangan kekasihnya karena direbut anak raja.

Kisah ini tercatat dalam naskah Sunda lama berjudul Ki Santri Gagal, yang beredar sejak dekade 1940-an. Suara burung kemudian dipahami sebagai panggilan kesedihan yang terus berulang.

Mitos kedua menyebut siit uncuing sebagai hantu perempuan yang meninggal tanpa pernah menikah. Istilah “siit” bahkan tercatat sebagai lema dalam kamus bahasa Sunda.

Mitos ketiga mengaitkan suara burung ini dengan kabar kematian, terutama jika terdengar di sekitar permukiman. Mitos keempat menyebut suaranya tetap menimbulkan rasa merinding meskipun terdengar di siang hari. Mitos kelima menyatakan burung ini bersuara tanpa menampakkan wujudnya, seolah hadir sebagai makhluk tak kasatmata.

Burung kedasih berdiri sebagai simpul antara alam dan budaya. Ia hadir sebagai makhluk biologis dengan peran ekologis yang nyata, sekaligus simbol kultural yang hidup dalam imajinasi kolektif masyarakat.

Suara yang sama dapat dimaknai secara ilmiah maupun mitologis tanpa saling meniadakan. Di hutan-hutan Jawa Barat, burung kedasih terus bersuara, menjadi bagian dari napas panjang alam pegunungan yang tetap berjalan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Rawan Rontok! Gagal Sentuh US$4.900/ons
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Paradise Indonesia (INPP) Fokus Strategi Penguatan Portofolio di 2026
• 10 jam laluidxchannel.com
thumb
Kerja Sama Maritim Indonesia - Inggris Bakal Serap 600 Ribu Pekerja
• 21 jam lalumerahputih.com
thumb
Berita Foto: Jakarta Dikepung Banjir
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Poin-Poin Pertemuan Presiden Prabowo dan Raja Charles III di Inggris
• 18 jam laluidntimes.com
Berhasil disimpan.