REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menyebut ada oknum-oknum dari unsur asing yang “membajak” aksi unjuk rasa di Iran pada akhir Desember 2025 sehingga berubah menjadi kerusuhan besar pada awal Januari sebelum mereda.
Dubes Boroujerdi, dalam taklimat media di Jakarta, Kamis(22/1/2026), menjelaskan bahwa unjuk rasa awalnya berlangsung damai pada 28—31 Desember 2025 atas faktor pemicu yang wajar, antara lain kesulitan ekonomi dan depresiasi tajam mata uang rial Iran.
Baca Juga
Indonesia Lampaui Target Emas Harian di ASEAN Para Games 2025
Netanyahu Masuk dalam Dewan Perdamaian Buatan Trump, Hamas: Dia Penjahat Perang Buronan ICC
Dukung Muktamar Dipercepat demi Selesaikan Konflik, Ketua PBNU: Harus Lewat Konbes Dulu
Pada saat itu, Pemerintah Iran mendengarkan aspirasi masyarakat yang berdemo secara damai. Pemerintah pun sebenarnya telah siap mengambil tindak lanjut demi mengakomodasi tuntutan mereka, kata dia.
Para pelayat membawa peti mati selama prosesi pemakaman untuk anggota pasukan keamanan dan warga sipil yang dilaporkan tewas dalam protes pada hari Ahad, di tengah gejolak anti-pemerintah yang terus berkembang, di Teheran, Iran, 11 Januari 2026. - (IRIB via REUTERS )
“Namun, pada fase kedua unjuk rasa di awal Januari, kami melihat ada pihak-pihak tertentu yang berupaya membajak aksi unjuk rasa damai masyarakat,”kata Dubes Iran.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Pemerintah Iran, kata dia, melihat ada sejumlah oknum pemrotes yang “melaksanakan komando dari luar negeri” untuk menciptakan kekacauan serta menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Pada saat itu, tepatnya di periode 1—7 Januari 2026, unjuk rasa berubah jadi kerusuhan.
“Kami telah melakukan penyadapan terhadap komunikasi dari luar negeri, yang membuktikan adanya instruksi kepada oknum tertentu di tengah masyarakat untuk turun ke jalan dan menyerang aparat keamanan,”ucap Boroujerdi.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)