Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara masih sangat labil. Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Kamis (22/1/2026) ditutup di posisi US$ 112,8 per ton atau melandai 0,18%. Pelemahan ini berbanding terbalik dengan lonjakan 0,71% pada Rabu.
Sxcoal melaporkan harga batu bara termal domestik di China turun menjelang libur besar (Spring Festival). Harga turun karena beberapa pedagang mencoba menjual cepat (pre-holiday selling) sebelum liburan dimulai.
Sementara itu, permintaan dari pengguna hilir tetap lemah, sehingga tekanan jual meningkat dan harga di pasar batu bara pelabuhan domestik cenderung merosot sedikit.
Aktivitas jual meningkat karena pedagang ingin membersihkan stok sebelum libur panjang. Di sisi lain, permintaan dari pembangkit listrik dan sektor industri tidak kuat, yang membuat pembelian baru tidak banyak dan membuat harga jatuh.
Menjelang liburan nasional seperti Chinese New Year, permintaan batu bara biasanya memang turun karena banyak utilitas/pembangkit menunda pembelian, yang bisa menyebabkan harga menjadi lebih lemah.
Data lain juga menunjukkan tren penurunan harga batu bara termal di China akibat permintaan yang lembam dan ekspektasi bearish, membuat banyak pembeli enggan membeli pada harga saat ini, sehingga harga mine-mouth (dari tambang ke pembeli) ikut turun.
Laporan dari Mysteel menunjukkan bahwa harga beberapa grade batu bara termal turun pada pekan ini setelah permintaan merosot karena libur Tahun Baru Imlek yang mendekat.
Tak hanya itu, persediaan batu bara di tambang tetap tinggi, sehingga tekanan ke bawah pada harga tidak berkurang. Kondisi ini membuat pembeli menjadi lebih hati-hati karena mereka menunda pembelian karena ekspektasi pasar yang lemah.
Sebagai catatan, libur panjang Spring Festival atau Chinese New Year di China pada 2026 berlangsung pada 15-23 Februari, mencakup Chinese New Year Eve hingga rangkaian hari libur nasional, dengan total sembilan hari libur sesuai jadwal resmi pemerintah China.
Menjelang periode tersebut, aktivitas bisnis dan industri biasanya mulai melambat, seiring banyaknya pekerja yang menghentikan aktivitas lebih awal untuk persiapan Chunyun atau tradisi pulang kampung massal terbesar di dunia. Kondisi ini kerap berdampak pada pelemahan aktivitas ekonomi dan permintaan barang.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]



