EtIndonesia—Presiden Peru Jose Jeri kini menghadapi penyelidikan awal oleh kejaksaan, sementara Kongres Peru bersiap memulai proses pemakzulan, setelah pertemuannya dengan seorang pengusaha asal Tiongkok di luar agenda resmi meledak menjadi skandal politik baru.
Jeri mulai berkuasa pada Oktober lalu setelah Presiden sebelumnya Dina Boluarte dilengserkan. Ia mengatakan pada Senin (19/1/2026) malam bahwa ia siap hadir di kantor kejaksaan dan komite pengawas Kongres Peru untuk “memberikan keterangan dan klarifikasi” terkait skandal yang melibatkan Jeri. Hal demikian disampaikan pernyataan kantor kepresidenan.
Kontroversi bermula dari pertemuan Jeri dengan pengusaha Zhihua Yang, pemilik jaringan toko komersial dan konsesi proyek energi, yang tidak pernah dicantumkan dalam agenda resmi presiden. Kelalaian ini memicu kritik keras soal minimnya transparansi dan dugaan korupsi, mengingat di Peru, setiap pertemuan presiden secara tradisional wajib masuk agenda resmi.
Menurut media lokal, Jeri bertemu Zhihua Yang pada 26 Desember dan 6 Januari.
Para anggota parlemen oposisi menyatakan akan mengajukan mosi pemakzulan atau kecaman resmi terhadap Jeri (39 tahun). Meski demikian, tingkat popularitasnya masih relatif tinggi, meskipun turun menjadi 44 persen pada Januari, menurut lembaga survei CPI.
Pertemuan “Bersahabat” yang DipersoalkanJeri menyampaikan permintaan maaf terbuka atas pertemuan pertama—sebuah jamuan makan malam di restoran Tiongkok di Lima—melalui pesan video yang dirilis Minggu. Ia mengklaim pertemuan itu bertujuan mengoordinasikan perayaan hari jadi persahabatan Peru–Tiongkok, serta membantah menerima permintaan tidak wajar dari pihak mana pun.
“Saya mengakui kesalahan saya,” ujar Jeri.
“Saya meminta maaf secara terbuka karena menghadiri pertemuan dengan pengusaha tersebut secara sembunyi-sembunyi, dan karena itu memunculkan kecurigaan serta keraguan terhadap perilaku saya.”
Namun, hanya beberapa jam setelah permintaan maaf itu disampaikan, pertemuan kedua Jeri dengan Zhihua Yang terungkap ke publik. Diketahui, usaha milik Yang telah disuspensi oleh otoritas Lima karena menjual produk tanpa izin.
Pengacara Zhihua Yang mengatakan kepada radio RPP pada Senin malam bahwa pertemuan tersebut hanyalah “pertemuan bersahabat di mana Presiden Jeri melanggar sejumlah protokol.”
Meski pemungutan suara kecaman membutuhkan dukungan lebih sedikit dibanding pemakzulan (87 dari 130 anggota parlemen), para analis politik menilai pelengseran Jeri kecil kemungkinannya terjadi. Sekitar dua pertiga anggota parlemen tengah mengincar pemilihan ulang, dan diperkirakan akan memilih stabilitas politik menjelang pemilu nasional pada April.
Peru sendiri masih terperosok dalam krisis politik berkepanjangan, dengan tujuh presiden silih berganti sejak 2018 akibat pengunduran diri atau pemecatan.
Oleh Marco Aquino



