Liputan6.com, Jakarta - Fenomena munculnya sinkhole atau lubang besar akibat runtuhan tanah di Sumatera Barat (Sumbar) pada awal tahun 2026 menjadi perhatian para Ahli Geologi di Indonesia.
Kejadian ini tidak lagi dapat dianggap sebagai peristiwa alam semata. Kemunculannya yang tiba-tiba di kawasan permukiman dan pertanian warga menjadi indikator nyata adanya krisis tata kelola tanah dan air yang selama ini kurang diperhatikan.
Advertisement
Guru Besar Ilmu Tanah IPB University Widiatmaka mengungkapkan, secara ilmiah, sinkhole ini terbentuk akibat hilangnya kestabilan struktur tanah melalui proses pelindian (leaching) dan erosi bawah permukaan (piping).
Peristiwa ini biasanya terjadi pada tanah bertekstur halus hingga sedang yang berada di atas batuan mudah larut atau lapisan yang berongga.
"Curah hujan tinggi memang berperan sebagai pemicu, tetapi penyebab utamanya adalah melemahnya struktur tanah akibat hilangnya partikel halus dari lapisan bawah. Rongga terbentuk secara perlahan, tetapi runtuhnya bisa sangat tiba-tiba," ujar Widiatmaka, dilansir Liputan6.com dari laman resmi Institut Pertanian Bogor (IPB) University www.ipb.ac.id, Jumat (23/1/2026).
Ia juga mengatakan, fenomena ini diperparah dengan adanya aktivitas manusia yang mengubah sistem air tanah secara drastis.
Berbagai kegiatan manusia, kata Widi, menjadi pendukung kegagalan struktur tanah semakin cepat terjadi.
Selain itu, pengambilan air tanah yang berlebihan, pembangunan drainase tanpa kajian hidrogeologi, hingga pembebanan lahan tanpa perhitungan daya dukung tanah juga dapat mempercepat kegagalan struktur tanah.




