Jelang Akhir Pekan, IHSG Loyo dan Tertekan Aksi Ambil Untung

medcom.id
7 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau melemah jelang akhir pekan. Tekanan ini dipicu aksi jenuh beli atau ambil untung investor setelah indeks sebelumnya sempat menyentuh level tertingginya.
 
Melansir Antara, pada Jumat, 23 Januari 2036, IHSG dibuka turun 97,47 poin atau 1,08 persen ke posisi 8.894,70. 
 
Sejalan dengan itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan ikut terkoreksi 8,52 poin atau 0,97 persen ke level 866,58. IHSG berpotensi lanjutkan koreksi Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai, pelemahan IHSG masih berpeluang berlanjut seiring tekanan teknikal yang muncul setelah reli sebelumnya.

"Diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi dengan menguji level support di 8.850-8950," ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya.
 
Dari sisi global, Ratna menjelaskan ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa cenderung mereda. Hal ini menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut tidak akan memberlakukan tarif terhadap Eropa, serta klaim telah tercapainya kesepakatan kerangka kerja terkait Greenland.
  Baca juga: Dibuka Hijau, Begini Arah Pergerakan IHSG Hari Ini
Meski demikian, Trump belum mengungkapkan detail dari kerangka kerja tersebut. Ia hanya menyatakan bahwa negosiasi lanjutan masih berlangsung terkait perisai pertahanan Golden Dome. 
 
Di sisi lain, Perdana Menteri Greenland menyatakan tidak mengetahui adanya kesepakatan tersebut. Pasar menanti sikap The Fed Pelaku pasar global juga akan mencermati agenda penting pekan depan, yakni pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral AS, The Fed. 
 
Pertemuan ini diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50-3,75 persen.
 
Keputusan The Fed dinilai akan menjadi penentu arah pasar keuangan global, termasuk pasar saham di negara berkembang seperti Indonesia. Fokus asia dan data domestik Dari kawasan Asia, perhatian investor tertuju pada rilis data inflasi Jepang periode Desember 2025. Inflasi Negeri Sakura diperkirakan melambat menjadi 2,7 persen year on year (yoy), dari sebelumnya 2,9 persen (yoy) pada November 2025.
 
Selain itu, pasar juga menantikan hasil pertemuan Bank of Japan (BoJ) yang diperkirakan masih akan menahan suku bunga di level 0,75 persen.
 
Sementara dari dalam negeri, pelaku pasar menunggu rilis data uang beredar dalam arti luas (M2 Money Supply) untuk Desember 2025, yang dapat memberikan gambaran kondisi likuiditas dan arah kebijakan ke depan.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Siap-siap Nge-war, Ini Jadwal Penjualan Tiket Kereta Api Lebaran 2026
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Dispar akan Beri Bonus Hingga Insentif bagi Pengguna Lontara+
• 10 jam laluharianfajar
thumb
Kisah Marni di Karawang: Rumah yang Dulu Tempat Pulang, Kini Jadi Penguat Ekonomi Keluarga
• 22 jam laluidxchannel.com
thumb
Anggota DPR: Keikutsertaan Indonesia di BoP Harus Kritis dan Bersyarat
• 6 jam laluidntimes.com
thumb
Trump Ultimatum Putin: Perang Rusia-Ukraina Harus Diakhiri
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.