EtIndonesia. Di dunia ini tidak ada dua manusia yang benar-benar sama. Setiap orang adalah individu yang unik. Dalam diri kita masing-masing terdapat banyak hal yang berbeda, bahkan mungkin lebih unggul dibandingkan orang lain—dan itulah hal-hal yang pantas kita banggakan. Kita tidak seharusnya terus-menerus mengagumi orang lain sambil mengabaikan kelebihan diri sendiri; tidak pula terus membandingkan diri dengan orang lain hingga akhirnya kehilangan jati diri.
Ada sebuah ungkapan yang mengatakan: “Bukan hidup ini yang kekurangan keindahan, melainkan mata kitalah yang kurang mampu melihatnya.”
Ketika kita menerima diri sendiri dan belajar menghargai diri sendiri, kita akan menemukan sosok diri yang sama sekali baru.
Suatu kali, di kelas Harvard University, Profesor Tal Ben-Shahar ditanya oleh seorang mahasiswa: “Profesor, apakah Anda benar-benar mengenal diri Anda sendiri?”
Pertanyaan itu membuatnya terdiam. Dalam hati dia berpikir: “Ya juga, apakah aku benar-benar mengenal diriku?”
Dia pun menjawab : “Baiklah, sepulang nanti aku akan benar-benar mengamati, memikirkan, dan memahami kepribadian serta batinku sendiri.”
Sesampainya di rumah, Profesor Ben-Shahar mengambil sebuah cermin dan mulai mengamati wajah serta ekspresinya dengan saksama, lalu menganalisis dirinya sendiri.
Pertama, dia melihat kepalanya yang botak mengilap dan berpikir : “Hmm, tidak buruk. William Shakespeare juga memiliki kepala botak yang mengilap.”
Kemudian dia memperhatikan hidungnya yang mancung dan berkata dalam hati : “Detektif hebat Sherlock Holmes juga punya hidung seperti ini—dan dia adalah simbol kecerdasan kelas dunia.”
Melihat wajahnya yang panjang, dia berpikir : “Presiden Amerika yang agung, Abraham Lincoln, juga memiliki wajah panjang.”
Saat melihat tubuhnya yang tidak tinggi, dia tertawa kecil : “Ha-ha! Napoleon Bonaparte juga bertubuh pendek. Aku sama dengannya.”
Lalu dia menatap kedua kakinya yang sedikit mengarah ke luar dan berkata : “Wah, Charlie Chaplin juga berjalan dengan kaki seperti ini!”
Keesokan harinya, dia berkata kepada para mahasiswanya: “Aku menghimpun ciri-ciri para tokoh besar, jenius, dan orang-orang luar biasa dari masa lalu hingga kini. Aku bukan orang biasa—masa depanku tak terbatas.”
Profesor Ben-Shahar pandai menghargai dirinya sendiri, dan hal itu membuatnya dipenuhi rasa percaya diri. Meski di mata orang lain penampilannya tampak biasa saja, melalui sugesti psikologis yang positif, dia mampu mengaitkan setiap bagian tubuhnya dengan tokoh-tokoh besar. Dengan begitu, dia yakin dirinya adalah seseorang yang memiliki masa depan cerah.
Friedrich Nietzsche pernah berkata:“Orang cerdas, selama ia mampu mengenal dirinya sendiri, tidak akan kehilangan apa pun.”
Hanya dengan belajar menghargai diri sendiri, seseorang bisa menumbuhkan kepercayaan diri, memperoleh kebahagiaan darinya, dan menjaga hidup agar tidak kehilangan arah.
Ada sebuah kalimat yang sangat bermakna: “Dalam hidup, mungkin ada banyak orang yang patut kamu kagumi, tetapi yang paling pantas kamu kagumi adalah dirimu sendiri.”
Niels Bohr, fisikawan asal Denmark, telah mengajukan teori kuantum sejak usia muda. Namun, dalam sebuah diskusi ilmiah, teori tersebut ditolak oleh para pakar otoritatif. Penolakan itu tidak membuat Bohr kehilangan kepercayaan diri. Justru sebaliknya, dia semakin giat meneliti dan melakukan banyak eksperimen untuk membuktikan teorinya.
Pada akhirnya, pandangan Bohr terbukti benar, dan dia pun dianugerahi Nobel Prize.
Seperti pepatah mengatakan: “Setiap manusia diciptakan dengan kegunaannya masing-masing.”
Belajar menghargai diri sendiri dapat melahirkan kekuatan besar yang mendorong seseorang menuju keberhasilan. Menghargai diri sendiri adalah rahasia pertama menuju sukses.
Seiji Ozawa adalah konduktor orkestra kelas dunia. Sebelum terkenal, dia pernah mengikuti kompetisi internasional konduktor. Pada babak final, dia memimpin orkestra berdasarkan partitur yang diberikan juri. Dalam prosesnya, dia dengan tajam menyadari adanya nada yang tidak harmonis.
Awalnya dia mengira kesalahan ada pada pemain musik, lalu menghentikan dan mengulang. Namun ketidakharmonisan itu tetap terdengar.
Dia pun langsung berkata : “Saya rasa partitur ini bermasalah.”
Para komposer dan juri yang hadir dengan tegas membantah: “Partitur ini sama sekali tidak bermasalah.”
Meski wajahnya memerah karena tekanan, Ozawa tetap berkata dengan lantang dan tegas: “Tidak! Pasti partiturnya yang salah!”
Begitu kalimat itu diucapkan, seluruh juri berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah. Ozawa dinyatakan sebagai pemenang.
Ternyata, partitur itu memang sengaja dirancang sebagai “jebakan”, dan keberanian Ozawa untuk percaya pada dirinya sendiri membawanya pada kemenangan.
Setiap orang memiliki nilai yang unik. Tidak ada siapa pun yang bisa menggantikan kita, dan tidak ada yang bisa merendahkan kita—kecuali jika kita sendiri terlebih dahulu meremehkan diri kita. Banyak orang mengeluh karena merasa pekerjaan, penampilan, atau kemampuan mereka tidak sebaik orang lain.
Padahal, dalam hidup, kita tidak perlu terlalu terikat pada penilaian orang lain. Belajar menghargai diri sendiri justru bisa membantu kita menemukan kembali kepercayaan diri. “Emas tidak ada yang murni, manusia tidak ada yang sempurna.” Setiap orang pasti memiliki kekurangan atau luka. Namun, seperti tidak ada dua daun yang benar-benar sama, kita pun adalah pribadi yang paling unik.
Lepaskan pemujaan berlebihan terhadap orang lain dan kebencian terhadap diri sendiri. Tenangkan pikiran, renungkan dengan jujur, dan kamu akan menemukan bahwa dirimu memiliki banyak kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Kamu pun bisa sama hebatnya dengan siapa pun.
Renungan :
Ada sebuah kalimat klasik: “Kamu berdiri di atas jembatan memandang pemandangan, sementara orang yang memandang pemandangan justru sedang memandangmu dari gedung.”
Saat kita sibuk mengagumi orang lain, bisa jadi orang lain justru sedang mengagumi kita. Dalam hidup, perbandingan memang tak terelakkan. Namun kita perlu sadar bahwa selain memiliki kekurangan, kita juga memiliki banyak kelebihan.
Harvard mengajarkan kepada kita: menghargai diri sendiri adalah sebuah kebijaksanaan—dia membuat seseorang memancarkan pesona percaya diri; menghargai diri sendiri adalah sugesti psikologis—apa yang kita bayangkan tentang diri kita, itulah yang perlahan akan kita wujudkan.
Terimalah dirimu, belajarlah menghargai diri sendiri, hiduplah sesuai nilai dirimu, pandanglah kejauhan dengan jernih, dan temukan posisi hidupmu dengan tepat. Di sanalah letak pesona sejati kehidupan. (jhn/yn)




