Ritus Garis, Memanggungkan Cerita dari Muarajambi

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Visual di atas kanvas kini tak semata menampilkan gambar-gambar tak bergerak. Di tangan anak-anak muda, goresan lukisan pun bertransformasi ke dalam video yang membawa cerita dan memberi makna.

Suguhan visual apik itu tampil pada karya bertajuk ”Ksiyamana Rupam ex Machina” di Pameran Seni Rupa Ritus Garis, Kota Jambi. Pada salah satu media kanvas, tersaji goresan arkrilik Arca Prajna Paramita duduk berpose Dharmacakra Mudra. Sosoknya diwujudkan dalam kondisi tanpa kepala.

Penampakan arca yang ditemukan di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi tersebut berubah dalam sekejap menjadi video bercerita. Tampilan itu muncul tatkala Iqbal Fahlefi memindai lukisan dengan menggunakan ponsel cerdasnya.

Tampaklah video menampilkan rentetan kode binari tampak berjatuhan dengan kursor putih mengambang di layar. Sejumlah pengunjung yang tertarik dengan karya seni interaktif itu lantas mendokumentasikannya untuk diunggah di media sosial.

Sang pembuat karya, Iqbal, menceritakan, eksperimen itu adalah perpaduan lukisan dan video. Ia mengolahnya dengan aplikasi collage artvive. Karya itu disebutnya sebagai gambaran tidak stabil dari kondisi insan di masa kini yang kian melebur dengan teknologi, yang diwujudkan dengan penggunaan ponsel pintar. “Ini seperti ekstensi dan kita menjadi seperti cyborg,” katanya.

Dalam karya itu, kisah dari masa lalu yang nyantol pada anak muda melebur dengan falsafah "Rupam Sunyata, Sunyataiva Rupam" pada Prajna Paramita Suthra yang berarti bentuk adalah kekosongan, kekosongan adalah bentuk.  Segala sesuatu yang berwujud pada hakikatnya tidak memiliki jati diri yang permanen dan saling bergantung. 

Baca JugaPemugaran Muarajambi Mendorong Wisata Budaya dan Religi

Karya tersebut tampil bersama puluhan lukisan dan foto dari hasil kolaborasi anak-anak muda dari komunitas Sketch Jamming dan Majang Puto pada pameran seni rupa di Duniawi Coffee and Records, Jambi, 19-31 Januari 2026. Pameran bertajuk Ritus Garis tersebut, anak-anak muda memaknai pesan-pesan adi luhung warisan abad VI-XIV yang diwariskan dalam kehidupan masa kini. Mereka pun mengkritisinya dengan berbagai perubahan yang terjadi.

Sebagian karya membawa pesan-pesan bertema lingkungan. Di antaranya Goresan sketsa bertajuk ”Ulah Makhluk Besi” karya Ahmad Jundi yang merepresentasikan eksploitasi atas lingkungan alam dan kawasan cagar budaya. Diperkuat pula oleh karya foto udara komunitas Rumah Menapo bertajuk ”Petaka di Tanah Sejarah” yang memotret KCBN Muarajambi yang dikepung oleh alat berat, pabrik, dan industri penimbunan batu bara. Karya ini ingin menunjukkan ancaman besar kerusakan lingkungan KCBN yang telah berlangsung 10 tahun terakhir.

Tak hanya pesan lingkungan, sejumlah karya menampilkan keseharian, aktivitas peribadatan umat Buddha, ikatan manusia dengan candi, hingga aktivitas ekonomi dan pariwisata. Selain itu, tampak pula keberadaan satwa dan pemugaran di KCBN Muarajambi.

Dalam sambutan pembukaan, Staf Ahli Wali Kota Jambi Noviarman, mengapresiasi penyelenggaraan pameran ini. “Ini tak hanya menjadi ruang pamer, tetapi ruang dialog kebudayaan yang merefleksikan realitas sosial, budaya, dan lingkungan,” katanya.

Kegiatan ini disebutnya sebagai wujud ekosistem seni yang hidup, tumbuh dari komunitas dan melibatkan publik. Itu sejalan dengan komitmen pemkot mendukung pelestarian budaya dan ruang ekspresi seni.

Kurator pameran, Rian Indra Eftritianto, mengatakan, pameran itu melibatkan 28 seniman, yang terdiri atas 16 seniman lukis dan 12 seniman foto. Karya-karya yang tampil merupakan hasil pembacaan artistik terhadap ekosistem di KKCBN Muarajambi. Melalui medium gambar dan fotografi, para seniman merekam relasi antara manusia, alam, dan lanskap budaya yang hidup di kawasan tersebut.

Ini tak hanya menjadi ruang pamer, tetapi ruang dialog kebudayaan yang merefleksikan realitas sosial, budaya, dan lingkungan.

Ritus Garis, lanjutnya, merujuk pada praktik sederhana tetapi berulang yang dijalani para seniman dalam menggambar dan memotret. Garis dipahami sebagai jejak kehadiran, sementara ritus dimaknai sebagai proses yang dijalani dengan kesadaran, ketekunan, dan keterlibatan langsung dengan ruang. Dengan pendekatan ini, karya tidak hanya hadir sebagai hasil visual, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman bersama.

Rian menambahkan pendekatan pameran itu berpijak pada gagasan arkeologi publik. KCBN Muarajambi tidak hanya dipahami sebagai warisan dari masa lalu, melainkan sebagai ekosistem hidup yang terus berinteraksi dengan manusia dan lingkungannya.

Melalui praktik seni yang partisipatif, publik diajak terlibat dalam proses pemaknaan warisan budaya secara kontekstual dan berkelanjutan.

Baca JugaMuarajambi dan Jejak Peradaban yang Terpendam

 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Airlangga Gaet Nvidia hingga AWS Investasi di RI pada Forum Davos
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
Raffi Ahmad Santai Namanya Disinggung Pandji dalam Stand Up Comedy Mens Rea
• 10 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Laga Krusial Persis Solo Vs Borneo FC, Milomir Seslija Siapkan Pembuktian Pemain Baru
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Kelme Jadi Apparel Resmi Timnas Indonesia Sampai 2030
• 4 jam lalurepublika.co.id
thumb
Adaptasi Fajar di Persija Berjalan Lancar
• 22 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.