GenPI.co - Tuntutan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengambil alih Greenland telah menempatkan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di situasi yang tidak nyaman.
Greenland, wilayah otonom Denmark, berada dalam lingkup negara anggota aliansi NATO.
Strategi Rutte sejauh ini tampak sederhana, tetapi penuh perhitungan.
Dia berbicara seirit mungkin dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
Rutte berupaya keras menjaga agar NATO tidak terseret langsung ke dalam konflik.
Alih-alih menanggapi tuntutan Trump secara terbuka, Rutte memilih menekankan pentingnya kerja sama kolektif untuk memperkuat keamanan di kawasan Arktik.
Di kalangan diplomat, pendekatan Rutte yang low profile ini dipahami sebagai strategi untuk menjaga keseimbangan yang rapuh.
Mantan pejabat senior NATO Jamie Shea menilai sangat sulit bagi Rutte untuk memimpin di situasi seperti ini.
"Dia harus menjaga agar aliansi tetap utuh sekaligus memastikan AS tidak menjauh. Dia tidak bisa memimpin Eropa untuk berhadap-hadapan langsung dengan Washington," ujar Shea, dilansir AFP, Kamis (22/1).
Menurut Shea, Rutte perlu segera merumuskan rincian misi NATO di Arktik dan mendapatkan persetujuan Trump sebagai bagian dari solusi jangka panjang.
"Dia harus bekerja cepat, tetapi tetap diam-diam, untuk menjual gagasan itu ke AS," ujarnya.
Kontroversi Greenland muncul pada momen yang sangat sensitif bagi Eropa dan NATO.
Pada saat yang sama, benua itu masih bergulat dengan upaya Trump untuk mengakhiri perang Rusia di Ukraina.
Mantan pejabat senior NATO Camille Grand mengatakan Rutte tetap memiliki tanggung jawab menentukan kapan saat yang tepat untuk turun tangan.
"Saat ini, dia memilih tidak terlibat dalam perselisihan antaranggota. Strategi ini mungkin berhasil sementara, tetapi pada titik tertentu dia berisiko terseret langsung ke dalam konflik," tuturnya. (*)
Video populer saat ini:




