Lompatan Mimpi Anak-Anak Pluit di Gang Sempit yang Menjadi Arena Akrobatik

suara.com
7 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Komunitas Indosalto dibentuk di gang sempit Pluit oleh pelatih Yoga Ardian (Kak Yow) untuk melatih akrobatik anak-anak sekitar.
  • Latihan akrobatik dilakukan tanpa fasilitas memadai seperti matras, mengandalkan disiplin dan presisi untuk menghindari risiko cedera.
  • Salah satu anggota, Acil, telah meraih juara satu tiga kali berturut-turut meskipun berlatih di tengah keterbatasan ruang dan cuaca.

Suara.com - Aspal masih lembap dan sisa hujan menyisakan genangan di sela gang sempit kawasan Pluit, Jakarta Utara, Kamis sore (22/1/2026).

Di antara barisan jemuran yang rapat dan juntaian kabel yang rendah, sebuah pemandangan kontras tersaji. Suara tawa anak-anak pecah, mengalahkan sunyi yang biasanya menggelayut di lorong selebar tak sampai lima meter itu.

Sore itu, gang tersebut bersalin rupa. Bukan lagi sekadar urat nadi lalu lintas warga, melainkan arena akrobatik dadakan.

Beberapa anak tampak melakukan pemanasan di atas jalan cor yang keras. Saat gerimis kembali turun merapat, sebagian menepi, namun sisanya bergeming. Mereka tetap tegak menunggu aba-aba, meski napas mereka mengepul tipis di tengah udara dingin.

Di balik kegigihan itu, ada sosok Yoga Ardian, pelatih yang akrab disapa Kak Yow. Semuanya bermula dari langkah sederhana: Kak Yow berlatih salto sendirian di depan rumah.

Gerakan memutar di udara itu rupanya menjadi magnet bagi anak-anak sekitar. Dari rasa penasaran yang tumbuh di pinggir jalan, sebuah komunitas lahir. Indosalto, komunitas yang berisi tujuah anak-anak dengan kemauan kuat untuk belajar akrobatik.

Namun, semangat mereka berbenturan dengan realita ruang ibu kota.

“Di sini lapangan terbatas. Ada, tapi nggak bisa dipakai karena bukan warga situ. Daripada nggak latihan, ya kita manfaatin apa yang ada,” ujar Kak Yow sembari menatap anak-anak didiknya dengan bangga.

Tujuan Kak Yow sederhana, ia hanya ingin berbagi ilmunya kepada anak-anak di sekitar gang itu. Ia merasa cukup dengan penghasilannya yang bekerja sebagai pelatih. Ia tak butuh dibayar. Ia hanya ingin berbagi kemampuan yang dimilikinya kepada anak-anak itu.

Baca Juga: 7 Pilihan Mobil Bekas Kecil Selain Agya untuk Rumah di Gang Sempit

Menanam Nyali di Atas Beton

Bagi Kak Yow, ia bukan sekadar melatih fisik, tapi menjaga mimpi. Di tengah keterbatasan biaya, ia menanamkan nyali.

Tanpa matras empuk, risiko cedera mengintai di setiap lompatan. Karena itu, Yoga menerapkan strength training yang disiplin. Presisi adalah harga mati agar mereka tetap aman di atas lantai kasar.

Anak-anak Indosalto saat akrobatik. (Suara.com/ Dinda Pramesti K)

Visi Yoga jauh melampaui sekadar medali. Ia ingin anak-anak pesisir ini mandiri, memiliki keahlian sebagai atlet profesional, pelatih, hingga stuntman. Namun, kendala klasik masih membayangi, lahan.

Terkadang ruang yang terbatas juga menjadi kendala. Namun, belum tentu orang tua anak-anak ini akan mengizinkan jika berlatih di tempat lain.

"Permasalahannya adalah di sini nggak ada tempat milik Pemprov. Nggak ada tempat, maksudnya itu nggak ada lapangan untuk milik Pemprov. Jadi agak-agak susah juga," tambahnya dengan nada getir namun penuh harap.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Manchester United Terancam Pincang ke Emirates! Daftar Pemain Absen vs Arsenal, Michael Carrick Diuji Setelah Debut Manis Hajar City 2-0?
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
QRIS Targetkan 17 Miliar Transaksi di 2026, Bidik Pasar Tiongkok, Korea Selatan, hingga India
• 12 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
BMKG Beri Peringatan Dini Cuaca Jabodetabek 24-27 Januari 2026: Siaga Potensi Hujan Sangat Lebat
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Dhena Devanka Tanggapi Isu Jadi Orang Ketiga dalam Rumah Tangga Dinna Olivia
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Pernah Bermasalah Bersama PSIM Yogyakarta pada 2018, Kelme Janjikan Produksi dan Distribusi Jersey Timnas Indonesia Mulus
• 1 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.