Jalan Sore Babarsari-Prawirotaman: Wajah Dua Kawasan yang Serupa tapi Tak Sama

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Di Yogyakarta, wilayah Babarsari dan Prawirotaman menjadi contoh bagaimana sebuah kawasan tumbuh mengikuti pergerakan manusia. Hari ini, keduanya dikenal sebagai kawasan yang sibuk dan padat oleh deretan hotel, kafe, hingga berbagai tempat hiburan. Di balik hiruk pikuknya, Babarsari dan Prawirotaman menyimpan jejak perubahan panjang yang membentuk keduanya sebagai kawasan bisnis dan hiburan dengan identitas masing-masing yang khas.

Babarsari berada di Kabupaten Sleman, tak jauh dari Bandara Adisutjipto dan jalur utama menuju Solo. Sementara itu, Prawirotaman terletak di selatan Kota Yogyakarta, hanya beberapa menit dari Keraton Yogyakarta. Meski berada di wilayah administratif yang berbeda, keduanya sama-sama tumbuh menjadi simpul aktivitas warga dan wisatawan. Sebelum dikenal dengan keramaiannya hari ini, Babarsari dan Prawirotaman menyimpan cerita sejarah yang panjang.

Babarsari, dari Hutan ke Permukiman

Wilayah Babarsari di Padukuhan Tambakbayan, Kalurahan Caturtunggal, pada awalnya hanyalah hamparan hutan dan ladang. Kawasan ini mulai dihuni sekitar tahun 1965, ketika sejumlah warga dari Wonosari, Gunungkidul, datang mengungsi akibat serangan hama tikus yang merusak lahan pertanian mereka. Hal ini dituturkan Suwadi, penjaga Bumi Perkemahan Taman Tunas Wiguna (Bumi Perkemahan Babarsari), yang sudah mendiami kawasan tersebut sejak awal 1960-an.

“Dulu kan dari Wonosari diserang hama tikus zaman dulu, terus di sana nggak bisa nanam. Masalahnya musuh ya, tikus itu musuhnya. Banyak yang lari, yang akhirnya berdomisili di sini,” tuturnya saat ditemui Pandangan Jogja, Rabu (12/11/2025).

Para pendatang itu membangun gubuk-gubuk sederhana di lahan kosong untuk bertahan hidup, sambil membuka sedikit demi sedikit kawasan yang sebelumnya masih dipenuhi pepohonan dan semak. Hingga tahun 1969, hanya terdapat sembilan kepala keluarga yang menetap di Babarsari.

Seiring waktu, jumlah penduduk meningkat dan proses babat alas terus berlangsung. Semak dan ladang perlahan menghilang, digantikan oleh permukiman. Perkembangan Babarsari semakin pesat setelah berdirinya Bumi Perkemahan Babarsari yang diresmikan Presiden Soeharto pada 12 September 1981.

Masuknya sejumlah institusi pendidikan seperti Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta turut meningkatkan aktivitas di kawasan ini. Babarsari tak hanya menjadi kawasan hunian, melainkan juga ruang yang digerakkan oleh mahasiswa, dosen, pekerja, hingga perantau dari berbagai daerah.

Pada fase inilah Babarsari memasuki babak baru: kawasan yang dibentuk oleh mobilitas tiada henti. Perjalanan dari kos ke kampus, tempat makan, hingga tempat kerja membentuk ritme hidup yang menuntut pergerakan cepat dan praktis. Kendaraan roda dua pun menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian warga Babarsari, sebagai sarana utama untuk berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Skutik seperti Yamaha Grand Filano didesain untuk mobilitas sehari-hari di area perkotaan yang padat seperti Babarsari. Dengan kapasitas bagasi 27 liter, pengguna bisa membawa berbagai keperluan untuk aktivitas seharian mulai dari helm cadangan, jaket, tas kerja, hingga barang belanjaan. Di tengah lalu lintas Babarsari dan Prawirotaman yang ramai, mesin Blue Core Hybrid 125cc menjaga laju motor tetap ringan saat harus stop and go di lampu merah atau perempatan.

Saat harus tetap fokus di jalan, fitur Y-Connect membantu pengendara memantau notifikasi pesan atau telepon tanpa harus mengecek smartphone—semuanya bisa dilihat lewat digital speedometer yang dilengkapi TFT Sub Display. Tak kalah praktis, Yamaha Grand Filano juga juga sudah keyless dengan mengadopsi fitur Smart Key System. Ketika bensin mulai mepet dan sudah waktunya melipir ke SPBU, tak perlu repot membuka jok karena lubang tangki bensin skutik ini ada di bagian depan (Smart Front Refuel). Semua fitur ini bukan sekadar pelengkap gaya, melainkan kebutuhan di kawasan yang terus bergerak nyaris tanpa jeda.

Tiga Zaman Prawirotaman: Kampung Prajurit-Batik-Turis

Berbeda dengan Babarsari yang tumbuh dari arus pengungsi dan pendidikan, Prawirotaman bermula dari kampung prajurit. Kawasan ini berasal dari tanah yang dihadiahkan Sri Sultan Hamengku Buwono kepada Abdi Dalem Prajurit Prawirotama sekitar abad ke-19, sebagai penghargaan atas keterlibatan mereka dalam perang melawan Belanda. Permukiman tersebut kemudian dihuni oleh keturunan trah Prawirotama.

Dalam buku Dinamika Kampung Kota: Prawirotaman dalam Perspektif Sejarah dan Budaya terbitan Balai Pelestarian Nilai Budaya DIY, trah Prawirotama disebut memiliki tradisi membatik yang kuat. Aktivitas ini berkembang dari kebutuhan pribadi menjadi industri batik cap berskala besar, hingga pada 1950-an Prawirotaman dikenal sebagai salah satu sentra batik cap di Yogyakarta.

Memasuki era 1970-an, industri batik Prawirotaman mulai meredup. Masuknya kain impor murah dari Tiongkok, dihentikannya subsidi kain mori dari pemerintah, serta perubahan kebiasaan masyarakat dalam penggunaan kain tradisional membuat banyak usaha batik gulung tikar. Dari sekian banyak usaha batik cap, hanya Batik Ciptoning yang masih bertahan hingga kini di Prawirotaman.

Seiring meredupnya industri batik dan kebijakan pariwisata di Yogyakarta yang mendorong wisatawan mancanegara, rumah-rumah produksi beralih fungsi menjadi penginapan. Hotel Kirana tercatat sebagai salah satu pionir perubahan ini. Sejak saat itu, Prawirotaman perlahan membentuk identitas baru sebagai kampung turis dengan bermunculannya hotel, kafe, bar, galeri seni, dan pusat hiburan lainnya.

Berangkat dari sejarah yang berbeda, Babarsari dan Prawirotaman kini berbagi kemiripan. Keduanya berkembang menjadi kawasan dengan aktivitas yang nyaris tanpa jeda. Manusia-manusia di dalamnya datang dan pergi sepanjang malam hingga pagi. Jika Babarsari digerakkan oleh ritme kampus dan hunian, Prawirotaman dihidupi oleh budaya dan pariwisata.

Di kedua kawasan ini, pergerakan menjadi denyut utama kehidupan. Warga lokal, mahasiswa, pekerja, dan wisatawan melintas silih berganti, membentuk wajah kawasan yang terus berubah mengikuti kebutuhan manusia di dalamnya. Babarsari dan Prawirotaman mungkin tampak serupa dari luar: sama-sama ramai dan hidup. Namun, keduanya tumbuh dari cerita yang berbeda, dengan pemaknaan atas ruang dan manusia yang tak pernah benar-benar sama.

Liputan Jalan Sore ini didukung oleh Yamaha sebagai bagian dari pembacaan mobilitas dan perubahan ruang hidup di Yogyakarta.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Menakar Prospek Cuan Raharja Energi Cepu (RATU) Usai Masuk Blok Madura Strait
• 13 jam lalukatadata.co.id
thumb
Ular King Kobra Muncul di Tepi Sungai, Pemancing Ketakutan Lalu Hubungi Damkar
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Jennifer Bachdim Dukung Keputusan Irfan Bachdim Tinggalkan Sepak Bola Profesional
• 6 jam lalueranasional.com
thumb
Perkuat Ekspansi, Pengelola Hypermart (MPPA) Setor Rp46,65 Miliar ke Anak Usaha
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Laga Hidup-Mati Alter Ego vs Team Spirit M7 Malam Ini, Cek Link Live Streamingnya!
• 2 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.