Badai angin matahari yang kuat baru-baru ini memengaruhi Bumi, menyebabkan aurora borealis yang biasanya hanya terlihat di wilayah kutub utara, secara langka meluas ke arah selatan dan menciptakan pemandangan alam yang jarang disaksikan.
EtIndonesia. Pada 19 Januari 2026 malam, aurora yang memukau secara langka muncul di langit malam berbagai wilayah Eropa. Warga di Inggris, Jerman, Polandia, dan Hungaria dapat menyaksikan pita cahaya berwarna hijau dan merah muda.
Di wilayah lintang tinggi seperti Greenland, aurora tampak lebih jelas. Rekaman selang waktu (time-lapse) memperlihatkan efek pita cahaya yang mengalir di langit.
Para ahli menunjukkan bahwa aurora kali ini dapat diamati di wilayah lintang rendah karena berkaitan dengan badai matahari kuat yang terjadi baru-baru ini.
“Di Bumi, kita memiliki medan magnet yang mengarahkan partikel bermuatan yang datang dari berbagai arah ke wilayah kutub. Oleh karena itu, di Kutub Selatan kita menyebutnya aurora australis, dan di Kutub Utara disebut aurora borealis,” kata profesor fisika atmosfer, Jos Lelieveld.
Karena kekuatan badai matahari kali ini cukup tinggi, aurora tidak hanya menjadi lebih terang, tetapi juga muncul di lapisan atmosfer yang lebih tinggi, sehingga jarak pengamatannya meluas secara signifikan. Akibatnya, wilayah yang sebelumnya berada di luar sabuk aurora pun dapat melihatnya dengan jelas.
Para ahli juga mengingatkan bahwa aktivitas matahari yang kuat dapat berdampak pada sistem teknologi modern, termasuk mengganggu komunikasi, layanan navigasi, dan sistem kelistrikan.
Jos Lelieveld menambahkan: “Partikel bermuatan ini dapat berinteraksi dengan infrastruktur, terutama di wilayah luar Bumi, karena intensitasnya paling tinggi di sana. Oleh sebab itu, komunikasi satelit dan sistem satelit adalah yang paling rentan terdampak.”
Para ahli menegaskan bahwa aurora merupakan fenomena alam dan tidak berkaitan dengan perubahan iklim.
Saat ini, Matahari sedang berada pada puncak siklus sekitar sebelas tahunan, yang dikenal sebagai periode maksimum matahari, di mana aktivitas matahari menjadi lebih sering dan peluang munculnya aurora pun meningkat.
Jika aktivitas matahari tetap tinggi, dalam beberapa waktu kedepan wilayah lintang tinggi bahkan sebagian wilayah lintang menengah masih berpeluang kembali menyaksikan keajaiban aurora borealis.
Laporan gabungan oleh reporter magang New Tang Dynasty Television, Ning Xiu





