Warga Pamarayan, Kabupaten Serang, Banten, mengaku wilayahnya telah menjadi area langganan banjir. Memasuki Januari 2026 saja, wilayah tersebut tercatat sudah empat kali dilanda luapan air.
"Sudah empat kali; banjir, surut, terus banjir lagi. Nah, ini yang paling parah," kata Ketua Karang Taruna Desa Pamarayan, Madroni yang akrab disapa Away, Jumat (23/1/2026).
Menurut Away, banjir kali ini sudah merendam permukiman selama dua hari. Pada hari ini, debit air terus meningkat hingga masuk ke dalam rumah warga. Ia menyampaikan bahwa masyarakat sebenarnya sudah tidak terkejut, namun tetap waspada.
Belum ada lokasi pengungsian di Desa Pamarayan. Warga yang rumahnya terendam kini mengungsi ke rumah tetangga yang tidak terdampak.
"Banjir setiap tahun. Kalau musim hujan tidak aneh lagi, di kampung ini pasti banjir. Bukan tahun ini saja, tahun-tahun lalu juga terdampak. Makanya kalau disebut aneh, ya tidak aneh," ucapnya.
Away bersama warga lainnya berinisiatif menyiapkan rakit untuk membantu mobilitas masyarakat. Rakit tersebut digunakan untuk menyeberangkan sepeda motor, lansia, maupun pelajar.
"Kami juga sediakan gerobak untuk membantu warga yang mau lewat, baik yang mau berangkat kerja atau anak-anak yang pergi ke sekolah," tambahnya.
Berdasarkan data Polres Serang, banjir terjadi akibat meluapnya Sungai Susukan dan Sungai Cikambuy. Tinggi muka air bervariasi, mulai dari 20 sentimeter hingga mencapai 1,5 meter.
Banjir melanda lima kampung, dengan kondisi terparah di Kampung Muncel dan Kampung Bojong Madang yang sempat terisolasi karena akses jalan utama tertutup genangan air.
Banjir juga merendam SMAN 1 Pamarayan dengan ketinggian 20 hingga 40 sentimeter, yang mengakibatkan aktivitas belajar mengajar terganggu.
(aik/isa)





