LONDON, KOMPAS.TV - Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang meremehkan keterlibatan pasukan NATO dalam perang Afghanistan memicu kemarahan luas di Inggris.
Pemerintah dan publik Inggris menilai klaim Trump keliru serta mencederai pengorbanan ribuan tentara sekutu yang bertempur dan gugur selama dua dekade konflik.
Kontroversi bermula dari wawancara Trump dengan Fox News di Davos, Swiss. Dalam kesempatan itu, Trump menyatakan pasukan NATO—selain AS—tidak berada di garis depan selama perang Afghanistan.
Baca Juga: Warga Greenland Kesal dengan Ambisi Trump: Dia Buat Saya Mual
Ia bahkan meragukan apakah NATO akan hadir membantu AS jika diminta di masa depan.
"Kami tidak pernah membutuhkan mereka, kami tidak pernah benar-benar meminta apa pun dari mereka," kata Trump, Kamis (22/1/2026), dikutip dari Associated Press.
“Mereka akan bilang mengirim pasukan ke Afghanistan atau ini dan itu, tapi mereka berada sedikit di belakang, agak menjauh dari garis depan,” imbuhnya.
Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan catatan sejarah. Invasi Afghanistan dimulai pada Oktober 2001, hampir sebulan setelah serangan 11 September terhadap New York dan Washington.
Operasi itu dilakukan oleh koalisi pimpinan AS dengan keterlibatan puluhan negara, termasuk negara-negara anggota NATO.
Serangan 9/11 bahkan memicu pengaktifan Pasal 5 NATO—klausul pertahanan bersama—untuk pertama kalinya dalam sejarah aliansi.
Artinya, negara-negara anggota sepakat serangan terhadap AS diperlakukan sebagai serangan terhadap seluruh aliansi.
Reaksi Keras Pemerintah InggrisDi London, reaksi atas pernyataan Trump berlangsung keras. Kantor Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan Trump “salah” dan telah meremehkan peran pasukan NATO.
Baca Juga: Indonesia Masuk Dewan Perdamaian Bentukan Trump, Prinsip Politik Bebas Aktif Dipertanyakan
Sejumlah politisi mendesak Starmer meminta klarifikasi atau bahkan permintaan maaf dari Trump. Inggris merupakan salah satu sekutu utama AS dalam perang Afghanistan.
Setelah serangan 9/11, Perdana Menteri Inggris saat itu Tony Blair menyatakan Inggris akan “berdiri bahu-membahu” dengan AS melawan al-Qaida dan Taliban.
Data resmi menunjukkan lebih dari 150.000 tentara Inggris bertugas di Afghanistan sejak 2001, menjadikan Inggris kontingen terbesar kedua setelah AS.
Operasi militer Inggris berfokus terutama di Provinsi Helmand, wilayah yang dikenal sebagai salah satu daerah paling berbahaya dalam konflik tersebut. Lebih dari 450 personel militer Inggris tewas selama perang Afghanistan.
Menteri Pertahanan Inggris John Healey menegaskan Inggris dan sekutu NATO “menjawab panggilan Amerika Serikat” setelah 9/11.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Associated Press
- Inggris marah Trump
- Amerika Serikat
- Donald Trump
- NATO
- perang afghanistan
- peran NATO di afghanistan




