Mengenal ADHD: Gejala, Kapan Harus ke Dokter, dan Langkah Penanganannya

mediaindonesia.com
8 jam lalu
Cover Berita

ATTENTION Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) bukan sekadar masalah sulit fokus biasa. Sebagai gangguan perkembangan saraf, ADHD memiliki dampak nyata yang dapat menghambat fungsi akademik, kehidupan sosial, hingga performa profesional seseorang jika tidak ditangani dengan tepat.

Psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr. Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc, menjelaskan bahwa kunci utama mencegah dampak jangka panjang ADHD adalah pemahaman yang tepat mengenai gejala dan penanganannya.

Gejala Utama: Lebih dari Sekadar Sulit Fokus

Menurut Riati, penderita ADHD memiliki hambatan spesifik dalam memproses rangsangan di sekitarnya. Hal ini membuat mereka sering kali gagal menyelesaikan tanggung jawab harian.

Baca juga : Jungkook BTS Mengaku Idap ADHD, Kondisi Medis Apa Itu? Berikut Gejalanya

"Penderita ADHD umumnya mengalami kesulitan memusatkan perhatian dan sangat mudah terdistraksi oleh rangsangan kecil di sekitarnya. Mereka sering tidak selesai mengerjakan tugas sampai tuntas dan tampak seperti tidak mendengarkan ketika diajak berbicara," jelas Riati.

Selain gangguan atensi, kondisi ini ditandai dengan hiperaktivitas dan impulsivitas. 

Penderita cenderung merasa gelisah dan sulit untuk diam meski dalam situasi formal. Perilaku impulsif juga kerap muncul dalam bentuk ketidaksabaran menunggu giliran atau kebiasaan memotong pembicaraan orang lain.

Baca juga : ADHD pada Anak: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Kapan Harus Berkonsultasi?

Mengingat gejalanya yang sering bersinggungan dengan perilaku sehari-hari, Riati menekankan pentingnya melihat durasi dan onset (waktu kemunculan). 

Konsultasi medis sebaiknya segera dilakukan apabila gejala muncul sebelum usia 12 tahun dan berlangsung terus-menerus selama minimal enam bulan.

Indikator penting lainnya adalah konsistensi gejala tersebut di berbagai tempat. 

"Konsultasi menjadi sangat utama ketika gejala sudah mengganggu fungsi sosial, prestasi akademik, kinerja pekerjaan, hingga menimbulkan stres berat," tambahnya. 

Jika gejala muncul di lebih dari satu lingkungan, seperti di rumah, sekolah, sekaligus tempat kerja, maka pemeriksaan profesional menjadi wajib.

Dampak dan Penanganan Terpadu

Jika dibiarkan, ADHD berisiko menurunkan motivasi dan ketekunan yang berujung pada kegagalan studi atau karier. Untuk itu, penanganan dilakukan secara multimodal, yakni menggabungkan terapi medis dan psikis.

Dari sisi medis, dokter dapat meresepkan obat seperti metilfenidat atau atomoksetin guna meningkatkan fokus. 

Sementara dari sisi nonobat, Terapi Kognitif-Perilaku (CBT) dianjurkan untuk melatih regulasi diri. Dukungan keluarga dan penerapan gaya hidup sehat juga memegang peranan vital dalam stabilisasi gejala.

Riati kemudian mengingatkan publik agar tidak melakukan klaim mandiri (self-diagnosis). Meski impulsif dan sering terlambat adalah ciri umum, hal itu tidak selalu berarti seseorang mengidap ADHD. 

"Diagnosis ADHD harus dilakukan oleh tenaga profesional dengan kriteria yang jelas dan menyeluruh," tegasnya. (Z-1)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Diduga Hilang Kendali di Jalan Tergenang, Pemotor Tewas di Cikarang Barat
• 21 jam laluokezone.com
thumb
Pemain Eropa Merumput di Indonesia, John Herdman Ungkap Manfaat Besar di Timnas Indonesia
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Bung Binder Sebut Persib dan Joey Pelupessy Alami Deadlock, Waktu Persebaya Tikung
• 20 jam lalufajar.co.id
thumb
Daftar Rute TransJakarta yang Dialihkan Akibat Banjir
• 5 jam lalukatadata.co.id
thumb
Heboh Isu Overdosis di Kematian Selebgram Lula Lahfah, Begini Penjelasan Polisi
• 15 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.