Kesepian di Tempat Kerja, Epidemi Sunyi di Balik Meja dan Layar

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Setiap pagi, jutaan orang berangkat kerja, membuka komputer jinjing, menghadiri rapat, membalas pesan, dan menyelesaikan target. Mereka terlihat sibuk, dan dikelilingi orang lain. Namun di balik keramaian itu, banyak yang merasa sendirian.

Kesepian di tempat kerja kini menjadi salah satu persoalan kesehatan mental yang paling tersembunyi, sekaligus paling meluas. Secara global, satu dari lima karyawan melaporkan mengalami kesepian.

Kondisi ini dilaporkan Gallup tentang "Kondisi Tempat Kerja Global 2024". Kesepian lebih umum terjadi di kalangan karyawan yang berusia di bawah 35 tahun dibandingkan dengan mereka yang berusia 35 tahun ke atas.

Baca JugaSisi Gelap Penggunaan AI di Dunia Kerja: Karyawan Merasa Kesepian

Persentase laki-laki dan perempuan yang melaporkan kesepian sama: masing-masing 20 persen. Tingkat pekerjaan juga tampaknya memiliki sedikit hubungan dengan kesepian.

Dari semua variabel yang dianalisis Gallup, lokasi kerja menunjukkan perbedaan terbesar pengalaman karyawan dengan kesepian. Karyawan yang bekerja sepenuhnya dari jarak jauh melaporkan tingkat kesepian jauh lebih tinggi (25 persen) daripada mereka yang bekerja di kantor (16 persen), pekerja hibrida berada di antara keduanya dengan 21 persen.

Dalam dua dekade terakhir, dunia kerja berubah cepat. Kerja jarak jauh, kontrak fleksibel, dan ekonomi gig dipuji sebagai simbol kemajuan. Namun riset menunjukkan sisi lain yang jarang dibicarakan, yaitu meningkatnya tren kesepian pekerja seiring perubahan dunia kerja ini.

Perubahan cara kerja, seperti kerja jarak jauh atau kerja hibrid dapat meminimalkan interaksi spontan yang dulu terjadi di kantor. Tanpa ruang untuk percakapan tidak formal (water-cooler talk), hubungan sosial menjadi lebih dangkal.

Baca JugaKesepian dalam Masyarakat Paguyuban, Kok, Bisa?

Di Indonesia, perubahan ini juga terasa nyata. Generasi muda mendominasi sektor digital, usaha rintisan atau start up, dan kreatif. Kerja kontrak dan outsourcing meluas. Dampaknya, hubungan kerja menjadi singkat, cair, dan minim ikatan jangka panjang.

Selain itu, tekanan ekonomi menjadikan perusahaan makin kompetitif yang kemudian berdampak pada sistem kerja hierarkis dan tuntutan tinggi ke karyawan. Akibatnya, banyak karyawan merasa tertekan dan kurang didukung. Ketika iklim organisasi tidak inklusif, hubungan kerja dapat terasa lebih seperti transaksi daripada hubungan sosial.

Faktor lainnya yakni, kepribadian atau kebutuhan sosial berbeda pada tiap orang, yang tidak terwadahi. Misalnya, pekerja introvert yang dikelilingi oleh rekan ekstrovert, atau sebaliknya, dapat mengalami kesulitan menjalin hubungan kerja yang memuaskan.

Masalah sistemik

Penelitian besar yang diterbitkan di Journal of Management pada 14 Januari 2026 berjudul All the Lonely People menegaskan, kesepian bukan sekadar perasaan pribadi. Dengan menelaah 233 studi internasional, para peneliti menemukan bahwa kesepian menjadi masalah sistemik dalam dunia kerja modern.

Manusia membutuhkan relasi yang bermakna, bukan sekadar interaksi. Tempat kerja modern sering gagal menyediakan itu.

“Kesepian bukan berarti (seseorang) tidak punya siapa-siapa,” tulis Julie McCarthy, penulis utama studi ini dari Departemen Manajemen, Universitas Toronto Scarborough. Kesepian di tempat kerja adalah jarak antara hubungan yang diharapkan dan relasi yang benar-benar dialami.

Seseorang bisa bekerja di kantor besar, aktif di grup WhatsApp kantor, bahkan rajin rapat, namun tetap merasa terasing. Relasi kerja yang fungsional, transaksional, dan berorientasi target sering kali tidak menyediakan ruang untuk keterhubungan emosional itu.

“Manusia membutuhkan relasi yang bermakna, bukan sekadar interaksi. Tempat kerja modern sering gagal menyediakan itu,” sebut McCarthy.

Jadi, kesepian muncul bukan karena seseorang tak punya rekan, melainkan karena relasi yang ada tak bermakna. “(Dunia kerja) kita hidup dalam ilusi keterhubungan,” tulis McCarthy. Interaksi ada di mana-mana, tapi relasi yang memberi rasa dimengerti dan diterima justru langka.”

Kondisi di Indonesia

Di Indonesia, kesepian kerja sering kali berlapis dengan persoalan lain seperti ketidakamanan kerja dan upah rendah, jam kerja panjang, minimnya perlindungan kesehatan mental, hingga budaya "tahan banting" dan anti-konsultasi atau curhat.

Survei Kementerian Kesehatan (2023) menunjukkan peningkatan gangguan kesehatan mental pada usia produktif, terutama di perkotaan. Namun diskusi publik masih fokus pada individu, bukan sistem kerja. Ketika pekerja lelah dan tertekan, yang disuruh berubah adalah manusianya, bukan organisasinya.

Mengacu pada sejumlah penelitian antara 2014 dan 2023, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan prevalensi kesepian di Indonesia mencapai 19,98 persen. Itu berarti, 1 dari 5 orang Indonesia kesepian. Jumlah ini sedikit lebih tinggi dari rata-rata kesepian global yang mencapai 15 persen atau 1 dari 6 orang di dunia. (Kompas, 12 Agustus 2025)

Budaya kerja Indonesia yang hierarkis dan feodal membuat perasaan kesepian ini lebih jarang diungkapkan. Banyak pekerja merasa tidak pantas mengeluh. Kesepian lebih dianggap masalah pribadi, bukan isu kerja yang patut diperjuangkan.

Padahal, kesepian di tempat kerja bukan sekadar perasaan tidak enak. Isolasi sosial dan kesepian kronis memiliki dampak buruk pada kesehatan fisik dan mental. Profesor Harvard dan Ilmuwan Senior Gallup, Lisa Berkman, beserta rekan-rekannya mempelajari hubungan antara ikatan sosial dan komunitas dengan angka kematian selama sembilan tahun.

Menurut Berkman, risiko kematian di antara orang-orang yang kurang memiliki ikatan komunitas dan sosial dua kali lebih besar daripada orang-orang yang memiliki banyak kontak sosial. Perbedaan ini tidak bergantung pada kesehatan fisik, status sosial ekonomi, dan praktik kesehatan.

Menurunkan produktivitas

Pekerja yang kesepian juga akan berdampak pada produktivitasnya. Studi di Academy of Management Journal (Ozcelik & Barsade, 2018) menunjukkan pekerja yang merasa kesepian cenderung lebih tidak puas terhadap pekerjaan, menarik diri secara sosial, memiliki komitmen organisasi lebih rendah, dan lebih sering ingin keluar dari pekerjaan.

" Mengingat adanya hubungan antara karakteristik tempat kerja dan kesepian, organisasi harus mempertimbangkan bahwa kesepian bukanlah masalah pribadi, melainkan masalah bisnis," kata Berrin Erdogan, profesor manajemen di Portland State, yang menulis laporan All the Lonely People.

"Bisnis memiliki kesempatan untuk merancang pekerjaan dan organisasi sedemikian rupa sehingga memprioritaskan kesejahteraan relasional karyawan," ujarnya.

Baca JugaKesepian Tak Butuh Nasihat, Hanya Perlu Didengarkan

Seperti halnya rasa lapar menandakan kebutuhan akan makanan, kesepian sementara adalah sinyal biologis yang mendorong kita untuk mencari koneksi. Namun ketika kesepian menjadi kronis, hal itu merusak kesejahteraan emosional dan kognitif.

Secara umum, memiliki pekerjaan dapat mencegah kesepian. Individu yang menganggur dan pensiunan melaporkan tingkat kesepian yang lebih tinggi daripada yang bekerja. Namun, kualitas pekerjaan juga amat penting. Ada banyak pekerjaan dan suasana kantor yang justru membuat pekerjanya merasa terisolasi.

Peran dengan tingkat stres tinggi, otonomi rendah, dan dukungan buruk dari para atasan di perkantoran merupakan faktor risiko utama kesepian pekerja. Efek dominonya, kesepian menular dalam kepemimpinan. Studi McCarthy dan tim menemukan manajer yang kesepian tidak hanya kurang efektif tapi juga bisa membahayakan kesejahteraan karyawan mereka.

"Pekerjaan dapat menjadi tempat perlindungan dari kesepian, tetapi juga dapat menjadi sumbernya," catat McCarthy.

Tinjauan ini mengidentifikasi beberapa intervensi yang menjanjikan untuk mengatasi kesepian kronis. Organisasi dapat membantu dengan menawarkan pelatihan tentang manajemen stres dan keterampilan sosial, sementara individu menemukan kelegaan melalui praktik mindfulness dan keterlibatan dalam kegiatan sukarela.

Penelitian ini menunjukkan bahwa kesepian pekerja bisa dikurangi, bukan dengan motivasi kosong, tetapi perubahan nyata, di antaranya melalui kepemimpinan yang hadir. Hal ini menuntut atasan yang mendengar dan mengenal timnya sebagai manusia, bukan hanya sebagai pekerja dengan target-target saja.

Berikutnya, ruang relasi, bukan hanya ruang kerja. Ruang kerja idealnya menjadi tempat mentoring, kerja kolaboratif, dan interaksi informal.

Selain itu perusahaan dituntut menyediakan ruang aman psikologis. Perusahaan perlu mengakui kesepian sebagai isu kerja. Jadi, kesehatan mental karyawan, bukan hanya produktifitasnya seharusnya menjadi indikator kesehatan organisasi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Evakuasi Tuntas, 11 Paket Body Pack Ditemukan Berisi 10 Korban Pesawat Jatuh
• 9 jam laluharianfajar
thumb
Ketum TP PKK Tri Tito Karnavian Bertolak ke Gampong Batang Ara Salurkan Bantuan
• 16 menit lalukumparan.com
thumb
Hadapi PSIM, Tavares Fokus Adaptasi dan Stamina Pemain Persebaya
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Gampang Terpengaruh! Inilah 5 Zodiak yang Dicap Tidak Punya Pendirian
• 16 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Kasus DBD Terus Bertambah, Dinkes Palembang Imbau Warga Waspada
• 3 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.