Ciayumajakuning Sumbang Realisasi Investasi Rp12,79 Triliun ke Kawasan Rebana

bisnis.com
11 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, CIREBON - Realisasi investasi di Kawasan Rebana sepanjang 2025 mencapai Rp36,67 triliun. Dari total tersebut, wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, serta Kuningan (Ciayumajakuning) berkontribusi sekitar Rp12,79 triliun atau setara 34,9% dari total investasi kawasan metropolitan baru di Jawa Barat tersebut.

Capaian itu menempatkan Ciayumajakuning sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan investasi Rebana, di tengah dominasi Kabupaten Subang dan Kabupaten Sumedang. Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan, meskipun tidak menjadi penerima investasi terbesar secara tunggal, akumulasi investasi di Ciayumajakuning memiliki bobot strategis dalam struktur ekonomi kawasan.

Kabupaten Cirebon menjadi kontributor terbesar di wilayah Ciayumajakuning dengan realisasi investasi sebesar Rp4,01 triliun. Angka tersebut menjadikan Kabupaten Cirebon berada di peringkat ketiga tertinggi di Kawasan Rebana. Peran ini mempertegas posisi Kabupaten Cirebon sebagai pusat industri pengolahan, perdagangan, dan logistik yang terhubung langsung dengan jalur Pantura serta pelabuhan di pesisir utara Jawa.

Kabupaten Majalengka mencatatkan investasi Rp3,36 triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Indramayu yang membukukan Rp3,35 triliun. Investasi di Majalengka banyak berkaitan dengan pengembangan kawasan industri dan aktivitas ekonomi turunan dari keberadaan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati.

Sementara itu, Indramayu masih mengandalkan sektor energi, migas, serta industri penunjang sebagai motor utama arus modal masuk.

Kota Cirebon menyumbang investasi sebesar Rp1,85 triliun. Meski nilainya lebih kecil dibandingkan wilayah kabupaten di sekitarnya, Kota Cirebon memiliki fungsi penting sebagai pusat jasa, perdagangan, dan distribusi regional yang menopang aktivitas ekonomi Ciayumajakuning secara keseluruhan. Perannya lebih bersifat melayani dan menghubungkan kawasan industri di hinterland.

Baca Juga

  • Realisasi Investasi Sumedang Lampaui Target 2025, Serap Ribuan Tenaga Kerja
  • Realisasi Investasi Jawa Tengah Mulai Bergeser ke Padat Modal
  • Realisasi Investasi Jabar 2025 Tembus Rp296,8 Triliun, 109% dari Target

Di sisi lain, Kabupaten Kuningan mencatatkan realisasi investasi paling rendah di Ciayumajakuning, yakni Rp253 miliar. Rendahnya angka tersebut mencerminkan struktur ekonomi Kuningan yang masih didominasi sektor pertanian, pariwisata alam, dan usaha skala kecil, serta belum terintegrasi secara optimal dengan arus investasi industri di Kawasan Rebana.

Kepala Badan Pengelola Kawasan Rebana (BP Rebana) Helmy Yahya, menilai ekonomi Rebana masih menyimpan potensi besar yang belum digarap maksimal. Ia menyebut kawasan ini ibarat “mutiara terpendam”, terutama di wilayah Indramayu dan Cirebon yang dinilai tertinggal dibandingkan daerah lain.

Dalam Cirebon Invesment Summit di Kabupaten Cirebon, Helmy mengungkap koridor ekonomi terbesar di Jawa Barat tersebut memiliki infrastruktur kelas nasional, namun perkembangan antarwilayah belum berjalan seimbang.

“Ada daerah yang sudah sprint menarik modal, tapi Indramayu dan Cirebon masih jadi PR paling serius,” ujarnya.

Helmy memaparkan konsep Rebana sebagai pusat pertumbuhan baru Jawa Barat mulai terbentuk di Subang, Majalengka, dan Sumedang. Ketiga wilayah ini menikmati dorongan kuat dari hadirnya Pelabuhan Patimban, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, serta Tol Cisumdawu.

Subang kini berkembang sebagai pusat logistik dan ekspor otomotif berkat Patimban. Majalengka menikmati pertumbuhan investasi melalui Aerocity Kertajati yang disiapkan menjadi simpul industri penerbangan dan logistik udara. 

Sementara itu, Sumedang semakin terintegrasi dengan kawasan pendidikan Jatinangor serta akses langsung menuju Kertajati melalui Tol Cisumdawu. Kombinasi tersebut menjadikan ketiganya magnet bagi modal baru di sektor industri terintegrasi, manufaktur, teknologi, hingga logistik.

Berbeda dengan tiga wilayah tersebut, Helmy memotret Indramayu dan Cirebon sebagai dua daerah yang belum mampu menampilkan daya saing kuat.

Indramayu masih bergantung pada migas dan pembangkit listrik, sehingga ruang untuk mengembangkan industri baru terbatas. Rencana kawasan industri belum menunjukkan percepatan signifikan, ditambah hambatan birokrasi perizinan yang dinilai belum cukup ramah bagi investor. Helmy menekankan perlunya lompatan besar agar Indramayu bisa membangun kawasan logistik dan industri yang menyerap tenaga kerja lokal.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tomas Trucha Awali Putaran Kedua dengan Perasaan Optimis
• 23 jam lalufajar.co.id
thumb
Selebgram Lula Lahfah Tewas di Apartemen Dharmawangsa, Apa Penyebabnya?
• 20 jam laludisway.id
thumb
Dibantu Lepas Cincin Kawin, Jennifer Bachdim Sebut Damkar Bagus Banget
• 2 jam lalugenpi.co
thumb
CCTV Rekam Detik-Detik Pohon Tumbang Menimpa SPBU, 3 Pengendara Motor Luka-Luka | BERUT
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Dua Kabupaten di Kepri Terdeteksi Kekeringan, BMKG: Terpantau Melalui Peta Fire Danger Rating System
• 7 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.