Sinyal Pemulihan dari Kenaikan Kredit UMKM

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Penyaluran kredit UMKM masih terkontraksi pada penghujung 2025, tetapi laju pelemahan itu melambat dibandingkan bulan sebelumnya, menjadi sinyal pemulihan ekonomi dan peluang positif bagi kinerja tahun ini.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), penyaluran kredit ke usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mulai menunjukkan geliat positif, didorong oleh pertumbuhan kredit skala kecil sebesar 6,8% (year on year/YoY).

Laporan Perkembangan Uang Beredar menunjukkan bahwa penyaluran kredit kepada UMKM pada Desember 2025 mencapai Rp1.493,8 triliun, terkontraksi 0,3% (YoY). Meskipun demikian, kinerjanya tetap lebih baik dibandingkan kontraksi November 2025 yang sebesar 0,7% (YoY).

"Penyaluran kredit kepada UMKM pada Desember 2025 terkontraksi sebesar 0,3% [YoY], lebih baik dibandingkan kontraksi pada bulan sebelumnya," dikutip dari laporan BI, Jumat (23/1/2026).

Otoritas moneter menjabarkan pemulihan kinerja didorong oleh pertumbuhan kredit skala kecil. Pada Desember 2025, kredit skala kecil tumbuh 6,8% (YoY) menjadi Rp528,1 triliun, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tumbuh 5,9% (YoY).

Kendati begitu, kredit UMKM pada skala mikro dan menengah masih mengalami kontraksi.

Baca Juga

  • UMKM Tercekik Biaya Admin Shopee-Tokopedia Cs, Pemerintah Siapkan Regulasi
  • OJK Sebut Permintaan Kredit Kuartal I/2026 Berpotensi Tumbuh, Ini Katalisnya

Pada Desember 2025, kredit mikro tercatat minus 4,6% atau turun dari posisi November 2025 yang masih positif 5,5%. Pada penghujung tahun, kredit skala menengah terkontraksi 2,0%, turun dari posisi November 2025 yang masih tumbuh 0,6%.

Adapun menurut jenis penggunaan, kontraksi kredit UMKM pada Desember 2025 dipengaruhi oleh Kredit Modal Kerja sebesar 4,2% (YoY), membaik dibanding November 2025 yang sebesar 4,1% (YoY).

Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya mengungkapkan minat penyaluran kredit perbankan terus membaik, tercermin dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang semakin longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM.

Perry mengatakan, masih tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut menjadi alasan bank belum maksimal menyalurkan kredit ke segmen ini.

“Kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat masih tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut," kata Perry dalam konferensi pers Hasil RDG Bulanan, Rabu (23/1/2026).

Tren Pembiayaan Turun

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae sebelumnya menyampaikan bahwa terdapat tren pertumbuhan pembiayaan yang cenderung melambat dalam kurun waktu setahun terakhir.

Menurutnya, kondisi ini antara lain dipengaruhi oleh dinamika perekonomian global dan nasional, adanya perubahan pola konsumsi masyarakat sebagai dampak dari tekanan daya beli pada masyarakat kelas menengah ke bawah, risiko kredit UMKM yang relatif lebih tinggi dibandingkan segmen lainnya, dan proses pemulihan dari dampak pandemi Covid-19 yang relatif lebih lambat dibandingkan korporasi.

Kendati begitu, Dian menyebut bahwa perbankan masih cukup optimistis terhadap pertumbuhan kredit UMKM, tercermin dari kredit UMKM yang masih diproyeksikan tumbuh positif pada akhir 2026.

"Berbagai program dan kebijakan dari Pemerintah diharapkan dapat mendorong penyaluran kredit kepada debitur UMKM yang memiliki prospek usaha baik untuk melakukan ekspansi," ujar Dian.

Direktur Kepatuhan PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR) Efdinal Alamsyah mengatakan tekanan paling terasa terjadi pada segmen non-esensial atau segmen non-kebutuhan dasar, yang sangat sensitif terhadap pelemahan daya beli dan perubahan perilaku konsumen.

"Pertumbuhan UMKM berjalan lambat dan tidak merata. Segmen non-esensial menjadi kelompok yang paling tertekan karena daya beli masyarakat belum kuat," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (13/1/2025).

Dalam kondisi tersebut, perbankan tetap menyalurkan pembiayaan ke UMKM, namun dengan pendekatan yang lebih selektif dan prudent. Efdinal menegaskan kehati-hatian menjadi kunci, terutama untuk menjaga kualitas aset di tengah ketidakpastian ekonomi.

"Prioritas kami adalah menjaga kualitas aset dan mengelola biaya dana, sambil memastikan setiap pembiayaan memberikan imbal hasil yang sepadan dengan tingkat risikonya," jelasnya.

Tekanan terhadap UMKM diperkirakan masih berlanjut pada 2026, khususnya pada sektor yang sangat bergantung pada daya beli masyarakat. Meski demikian, peluang pertumbuhan tetap terbuka pada sektor-sektor yang dinilai lebih resilien.

Beberapa sektor yang masih memiliki prospek positif antara lain usaha penyedia kebutuhan dasar, logistik, serta aktivitas yang terhubung dengan rantai pasok. Dari sisi segmentasi, usaha kecil dan menengah dinilai memiliki struktur yang relatif lebih stabil dibandingkan segmen mikro yang masih menghadapi tantangan pada pencatatan keuangan dan ketahanan arus kas.

Dalam seleksi debitur, perbankan menitikberatkan pada analisis arus kas, rekam jejak pembayaran, kinerja usaha, serta penggunaan agunan sebagai second way out guna menjaga kualitas pembiayaan.

Potensi Pertumbuhan Kredit UMKM

Direktur Utama PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Meliza M. Rusli menyampaikan bahwa tekanan kredit segmen UMKM masih mungkin berlanjut pada 2026. Namun demikian, Permata Bank optimistis terhadap potensi pertumbuhan kredit UMKM karena adanya dukungan regulasi baru dan digitalisasi proses kredit.

"Bank tetap optimistis terhadap potensi pertumbuhan UMKM," kata Meliza kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (18/1/2026).

Di tengah kondisi ini, Permata Bank telah menyiapkan strategi dalam menyeleksi debitur. Meliza menuturkan, bank akan menerapkan strategi prudent growth dengan fokus pada segmen mikro dan UMKM yang memiliki rekam jejak digital.

Selain itu, perseroan juga akan memanfaatkan Innovative Credit Scoring (ICS), serta kolaborasi ekosistem untuk memperkuat rantai pasok UMKM.

Dia menambahkan, Permata Bank telah mempersiapkan sejumlah strategi untuk dapat berkontribusi menghidupkan kembali pertumbuhan domestik dan memperkuat ketahanan ekonomi.

“Permata Bank dan Bangkok Bank berkomitmen untuk mendukung nasabah menghadapi tantangan dan menangkap peluang, melalui wawasan, solusi, dan konektivitas di seluruh Asean,” tuturnya.

Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) Ganda Raharja Rusli memperkirakan tekanan di segmen ini masih akan berlanjut pada 2026.

Menurut dia, risiko segmen UMKM cukup merata di seluruh sektor industri, baik sektor UMKM konsumsi seperti makanan maupun sektor UMKM produksi yang menjadi bagian ekosistem pelaku usaha yang lebih besar.

Kendati demikian, Ganda menilai peluang usaha cukup terbuka lebar terutama UMKM yang mendukung industri besar yang tengah berkembang.

"LJK wajib memiliki strategi filtering yang baik dan monitoring usaha sangat diperlukan untuk menghadapi dan keseimbangan peluang dan risiko tersebut," jelas Ganda kepada Bisnis. (Patricia Yashinta Desy Abigail)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Banjir Rendam Patrol Indramayu, 225 Rumah Terdampak
• 15 jam laludetik.com
thumb
Eri Cahyadi Sentil Kepala Daerah: Jangan Salahkan Gaji Kecil Lalu Korupsi
• 16 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Diperiksa KPK Soal Kasus Kuota Haji, Dito Ariotedjo Beberkan Detail Kunjungan Jokowi ke Arab Saudi
• 6 jam lalupantau.com
thumb
Prediksi Sassuolo vs Cremonese 25 Januari 2026: Sama-Sama Krisis, Duel Jay Idzes vs Emil Audero Jadi Perhatian
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Prediksi Inter Milan vs Pisa 24 Januari 2026, Upaya I Nerazzurri Tutup Peluang Dikudeta AC Milan
• 20 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.